Dari Layar ke Lembar: Budaya Membaca Ulasan Film di Media Sosial yang Memantik Minat Baca Remaja
Malam datang menyambut, waktu kini menunjukkan pukul 20.30 WIB. Hanya suara detik jarum jam dinding yang menemani suasana sunyi di kamar ini. Alih-alih menyelesaikan tugas menulis yang sudah setengah jalan, Bunga malah asyik menggulir ulasan film yang kebetulan sekali lewat beranda media sosial miliknya. Tatapannya serius, meski sisa tugasnya tak terurus. Jari lentik Bunga mengarah pada ikon like seraya bergumam pelan, “ulasannya rapi sekali, suka deh.”
Setelah menyukai postingan random itu, Bunga memutuskan untuk menonton film dari ulasan tersebut. Tugasnya? Biarkan saja, masih ada hari esok, pikir Bunga. Selagi ia menonton, mari kita telusuri lebih dalam kebiasaan kecil yang ternyata punya makna besar ini.
Membaca ulasan film sudah menjadi suatu kebiasaan kecil yang dilakukan oleh Bunga, entah ketika hendak menonton film atau seperti kegiatan kali ini yang tidak disengaja. Selain gemar menonton, Bunga juga senang membaca ulasan suatu tontonan. Menurutnya, membaca ulasan film juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan literasi, sebab pembaca dapat mengetahui dan mengolah informasi.
Pendapat Bunga ini ternyata sejalan dengan pengalaman Reina, teman sebaya Bunga. Jika Bunga lebih sering menjadi pembaca ulasan, Reina justru senang menulis ulasan film di berbagai media sosial. “Menurutku, membaca ulasan film nggak hanya suatu kegiatan kecil, karena bukan sekadar melihat, tetapi juga membaca dan memahami apa yang ingin disampaikan oleh si penulis terkait suatu film,” ujar Reina saat pertemuan mereka sore tadi. Mengingatnya, Bunga jadi mengangguk-ngangguk sendiri. Pembahasan mereka tentang literasi menjadi cukup unik, mengingat keduanya lebih suka menonton daripada membaca.
Reina bahkan aktif menulis ulasan di Letterboxd, sebuah platform media sosial berbasis film. Di sana, pengguna dapat memberi rating, menulis komentar, hingga membuat daftar film favorit. “Vibes-nya beda, lebih fokus ke film. Ulasan orang-orang juga beragam, ada yang kritis, ada yang lucu banget. Jadi bukan hanya sekadar memberi bintang, tetapi juga mendapat perspektif baru soal film yang bikin pengalaman nonton jadi lebih seru,” jelasnya. Dari aktivitas ini, Reina mengaku kemampuan menulisnya terasah, mulai dari ketelitian tanda baca hingga merangkai kalimat agar lebih enak dibaca.
Bunga pun merasakan hal yang sama. Setelah menonton film, ia biasanya menulis catatan singkat di Twitter/X. Seperti saat ini, tak terasa Bunga sudah selesai menonton film berdurasi 2 jam kurang 3 menit itu. Tujuannya sederhana: berbagi rekomendasi sekaligus mencatat film yang pernah ditonton. Lama-kelamaan, kebiasaan kecil itu melatihnya untuk menyusun kalimat menjadi lebih menarik.
Dari sini, terlihat bahwa meskipun Bunga dan Reina lebih suka menonton daripada membaca buku, kebiasaan mereka dengan ulasan film tetap mengasah keterampilan berbahasa: khususnya membaca dan menulis. Semua terjadi dalam satu aktivitas sederhana. Tak jarang, keduanya juga tertarik mencari tahu apakah film yang mereka tonton diadaptasi dari novel. Jika iya, mereka pun terdorong untuk membaca versi bukunya.
Malam sudah semakin larut, Bunga sudah selesai menulis ulasan ke-60 miliknya. Senyumnya merekah, senang meskipun sejauh ini pembaca thread X miliknya hanya terhitung jari. Bunga tak memusingkan hal itu, jarinya sendiri sudah siap mematikan lampu tidur.
Sementara di tempat lain, Reina terlonjak kecil ketika notifikasi like dari Bunga masuk di Letterboxd. Tanpa mereka sadari, langkah kecil itu menjadi jembatan: dari layar ponsel yang penuh ulasan film menuju lembar-lembar tulisan yang melatih kemampuan mereka. Dari layar ke lembar, kebiasaan sederhana ini membuktikan bahwa literasi bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari layar yang sering dianggap sebagai hiburan.
_______________________________________
Nama : Alda Imelda
NPM : 2410631080054
Kelas : 3C
Mata Kuliah : Penulisan Kreatif
Dosen Pengampu : Dian Hartati, S.S., M. Pd.








