24
Past the 23
Satu tahun berlalu...
Banyak hal yang harus aku syukuri, getting my first job after crying all night, although it gave me new tears too. Bersyukur, can give small smile in my mom face, although so many dreams that I can’t give yet. Bersyukur di beberapa kesempatan masih bisa traveling dan salah satu kota di wish list akhirnya di coret juga walaupun sangat singkat.
Dan TERIMAKASIH kepada diri yang sudah berusaha untuk menerima segalanya. Berusaha menerima segala proses bertumbuh yang sangat berat ini. Berusaha untuk lebih menerima diri apa adanya walaupun kadang pikiran masih menuntut begitu keras. Berusaha untuk belajar mengelola segala emosi. Berusaha untuk menerima cinta dari orang-orang baik di sekitar.
Dan tentu TERIMAKASIH kepada orang-orang yang membersamai di tahun ke 23-ku. Tanpa mereka maka hidupku tidak akan punya cerita. Teman weekend di Surabaya, terimakasih sudah menerimaku, terimakasih sudah menjadi teman yang selalu ada di kala aku butuh pertolongan, dikala pikiran ini berkecamuk, ataupun dikala kesenangan traveling. Teman Long Distance, terimakasih sudah menanyai dan memberi kabar, terimakasih sudah berbagi cerita dengan ku, kesenanganku tidak hanya karena aku diterima kalian tapi karena akupun diterima oleh kalian sebagai tempat berbagi kisah.
Dan bagi tiap-tiap orang yang hadir terimakasih atas pembelajaran yang telah diberikan. Tentang memberi yang tak harus melihat orangnya siapa dan seperti apa. Tentang pembelajaran dari Ayahku yang baru aku mengerti, bagaimana ber-ambisi tapi tidak lupa akan kuasa sang ilahi. Dari Ibuku tentang memahami rasa. Walau tentu aku tak sebaik ibu dalam memahami rasa orang-orang disekitar ku. Dari Adik yang mengajarkanku bahwa cukup lakukan yang terbaik yang ada saat ini, lakukan hal-hal yang dicintai meski menurut sebagian orang itu tidak cukup baik. Dari seorang teman tentang bagaimana bersyukur atas hidup yang dimiliki saat ini, menerima atas segala kondisi saat ini karena setiap keluhan dan tangisan pasti ada hal yang bisa disyukuri.
Turning 24 yo
Ada hal yang menyadarkanku bahwa duniaku telah berbeda, ada standart yang tak aku mengerti. Bentuk pengakuan diri yang aku temukan untuk menunjukkan eksistensi terlihat seperti tindakan yang benar. Begitu banyak opini bagaimana menjalani hidup seperti pemikiran yang masuk akal.
Bagaimana caranya aku bertahan dengan prinsip-prinsipku?
Tak ada salahnya mengikuti tapi tanpa mengorbankan prinsip diri, apakah iya itu yang kamu butuh-kan? Apakah iya itu baik untukmu?
Dan di umur yang baru ini masih dipenuhi pertanyaan yang sama yang tak menemukan jawabannya,
“Setelah ini mau kemana?” “Apa yang kamu tuju?” “Impian kamu bagaimana?”
Ku biarkan pertanyaan ini berkeliaran bebas tanpa ku-tuntun jawabannya karena dengan begitu ku-biarkan semesta yang mengarahkan-ku pada jawabannya.
Surabaya, 31-03-2023



















