#SelfDevelopment 1 : Values.
Edisi #selfdevelopment yang pertama kali ini akan membahas soal values.
Values (nilai-nilai) adalah suatu kepercayaan yang dianut dalam kehidupan sehari-hari. Values juga yang nantinya akan menentukan bagaimana seseorang dalam mengambil sikap pada pilihan-pilihan hidup.
Values mencerminkan perasaan kita tentang benar dan salah. Mereka membantu kita untuk tumbuh dan berkembang. Mereka juga membantu menciptakan masa depan yang kita inginkan. Keputusan yang kita buat setiap hari adalah cerminan dari nilai-nilai yang kita.
Ketika pilihan-pilihan pada hidup selaras dengan values yang dimiliki, akan ada ketenangan, perasaan senang bahkan rasa bangga pada diri sendiri, karena merasa mampu mempertahankan argumen terhadap logika yang kadang kala menggoyahkan bahwa,
“Tuh kan… Keyakinan yang tetap kita pegang bahkan dalam keadaan yang tidak menguntungkan ini ternyata keputusan benar?!!” begitu kata hati kepada logika.
Yap, memang antara values dan realitas terkadang tidak berjalan beriringan, selalu ada keadaan yang mau tidak mau harus ‘membenturkan’ antara kepercayaan atau nilai yang diyakini, mau itu di dunia kerja, organisasi, hubungan, bahkan ketika kita nongrkong dengan teman sekalipun, terhadap kondisi yang acapkali tidak berpihak.
Disitulah terkadang values yang selama ini dianut, dipegang kuat-kuat mulai goyah. Sampai akhirnya bingung dalam bersikap, dan keluarlah opsi :
Perhatahankan atau lepaskan?
Memang terkadang ada perasaan seperti kayaknya dengan melepas values yang tidak selaras dengan realitas, akan mempercepat dalam mencapai tujuan, apalagi kalau values yang dimiliki adalah keasingan dari lingkungan kita berada.
Misal, kamu berada di forum organisasi yang heterogen, tiba-tiba terdengar adzan, padahal kamu punya nilai untuk selalu tepat waktu dalam menjalankan sholat, tetapi karena kamu takut misal izin atau mengusulkan 'break sholat’ akan dicap macem-macem, dicap radikal lah, kaku lah wkwk, akhirnya melepas values itu.
Akhirnya apa? Hilanglah ketenangan batin itu, perasaan senang dari ketika teguh memegang prinsip, dihantui perasaan bersalah terhadap diri sendiri, dsb.
Lantas bagaimana seharusnya?
Ketika kamu yakin bahwa nilai yang kamu miliki adalah benar (karena kebenaran sifatnya subjektif, maka ukurannya adalah syariat), maka ya… pertahankan. Memang kondisi itu akan menjadi keasingan pada orang yang berlainan ketika di awal, akan tetapi jika nilai terus dipegang, ditunjukkan, dibuktikan, orang-orang yang menganggap asing tadi justru akan respect. Menaruh hormat sebab, keteguhan dan komitmen yang kamu miliki. Buktikan saja.
Ya, memang ini bukan perkara mudah, tapi begitulah esensi dari sebuah keyakinan, nilai yang kamu pegang, kamu coba terapkan dalam setiap pilihan-pilihan hidup kamu itu, akan terus dibenturkan dengan ujian-ujian yang membuatnya goyah, sampai ketika kamu bisa tetap mempertahankan, disitulah akan kamu temui, keyakinan hakiki.