Secara psikologi, manusia itu punya kebutuhan dasar āmerasa dipahamiā.
Bukan langsung diperbaiki.
Makanya kalau ada yg lg cerita, kadang otaknya lg ngga selalu mencari solusi, tapi lg cari validasi, bahwa perasaannya itu āmasuk akalā.
Kita lgsung aktifin āmode problem solvingā, seolah smua emosi harus diberesin secepat mungkin.
Padahal, itu justru bikin lawan bicara ngerasa⦠ngga didengar.
Dalam psikologi, ini disebut emotional validation, ketika seseorang merasa aman karena emosinya diterima, bukan dikoreksi.
Ironisnya, banyak orang yg gagal di sini.
Mereka sibuk jadi sosok āpintarā, tapi lupa jadi sosok yg āhadirā.
Padahal sbelum seseorang siap dikuatin,
Mereka cuma butuh satu hal ādidengar, tanpa disela, tanpa dihakimiā.ļæ¼