Kemunculan Layanan Uang Digital dan Konvergensi Media (Studi Kasus: GrabPay)
Dhia Athalia (1506686002) / Dimas Putra Permadi (1506736070) / Maulvi M Adib (1506686002)
GRABPAY : SEBUAH PENGANTAR
Manusia dengan kebutuhan tak terbatasnya dibarengi dengan kemajuan teknologi selalu menghadirkan berbagai macam inovasi. Beberapa kemajuan teknologi dan inovasi yang mungkin terasa bagi kehidupan kita belakangan ini adalah semakin berkurangnya penggunaan uang kertas dalam kegiatan sehari-hari. Fungsi uang telah digantikan oleh E-money, sebuah layanan uang digtal yang mempermudah kehidupan kita dalam menggunakan layanan monetasi. Di Indonesia E-Money sendiri memiliki berbagai kriteria yang disesuaikan oleh fungsinya. Pertama adalah yang digunakan dalam kegiatan perbankan dan penggunannya diselenggarakan oleh Bank, seperti Flazz dari BCA dan TapCash dari BNI. Kedua adalah yang disediakan dan diselenggarakan oleh operator seluler, seperti T-Cash yang disediakan Telkomsel dan Dompetku dari Indosat Ooredoo.Yang terbaru adalah e-money yang disediakan oleh layanan transportasi online, seperti Gojek dengan Go-Pay dan Grab dengan GrabPay. Kami akan melakukan analisis mengenai GrabPay yang dimiliki oleh Grab.
Dilansir Techinasia.com (2014), Grab merupakan perusahaan asal Singapura yang menyediakan layanan transpotasi, seperti ojek motor, mobil, dan taxi. Layanan Grab kini sudah tersedia di enam negara di Asia Tenggara. Pada tahun 2016 dilansir antaranews.com, mitra pengemudi Grab sudah mencapai 300 ribu yang tersebar di enam negara. Grab-pun melakukan peningkatkan pelayanan untuk mitra pengemudi dengan menyediakan kesempatan bagi para perempuan untuk mendapat lapangan pekerjaan serta Grab melatih safe riding kepada para pengemudinya.
Dengan armada dan pengguna aplikasi yang cukup besar disertai kemajuan teknologi, Grab terus berinovasi agar pengguna aplikasi semakin nyaman. Dilansir kompas.com (2016), Grab meluncurkan sistem pembayaran non tunai yaitu GrabPay pada September 2016. GrabPay bertujuan untuk memudahkan penumpang dan pengemudi agar tidak perlu repot membawa uang tunai yang dapat memperlambat aktivitas. Sebenarnya, pada bulan Juli di tahun yang sama, Grab juga telah menjalin kerjasama dengan Lippo Group untuk membuat wadah e-money dimana GrabPay dapat digunakan untuk bertransaksi perusahaan ritel grup Lippo, namun pada saat itu GrabPay belum diluncurkan (viva.co.id 2016).
Pada tulisan ini, kami akan berfokus dalam mengkaji layanan uang digital sebagai metode pembayaran transportasi online, yaitu GrabPay. Ada beberapa teori yang kita gunakan yaitu SCoT, Konvergensi Media dan Isu Privasi Digital. Metode penulisan yang digunakan adalah dengan studi literature serta observasi dengan membuat kuesioner yang melibatkan 100 responden dengan latarbelakang demografi mahasisswa usia 18-25 tahun.
MENGAPA GRABPAY BISA MUNCUL?
GrabPay menurut analisis kami muncul akibat pengaruh masyarakat atau biasa disebut Social Constructions of Technology (SCoT). Sebagai bagian dari kajian Social Shapping of Technology (SST), SCoT Â lebih menekankan pengaruh masyarakat terhadap teknologi daripada sebaliknya, SCoT berupaya memahami hubungan yang kompleks antara masyarakat dan teknologi (Lievrouw & Livistone, 2006c, p.246).Â
Dalam teorinya, Pinch & Bijker (1984) mengelompokan satuan analisis SCoT menjadi empat komponen, yaitu relevant social group, interpretative flexibility, closure and stabilization dan the wider context yang akan dianalisis satu demi satu dalam memahami eksistensi GrabPay.
a.     Relevant Social Group
Konsep ini digunakan untuk mengkaji stakeholder yang relevan dalam pengembangan desain teknologi. Konsep ini mengadopsi model  perkembangan teknologi yang multi dimensi sehingga dapat menjawab pertanyaan mengapa beberapa varian teknologi terus berkembang. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan makna yang diberikan setiap kelompok sosial terhadap suatu artefak teknologi (Pinch & Bijker, 1984)
Dalam kasus  yang kami bawa yaitu GrabPay, konsep ini akan melihat bagaimana komponen-komponen yang berpengaruh seperti driver dan rider membentuk pola pembayaran baru dari yang awalnya menggunakan uang tunai menjadi uang digital. Berdasarkan kuesioner kami yang melibatkan 100 responden pengguna layanan uang digital transportasi online, 3 alasan tertinggi mengapa mereka menggunakan layanan uang digital tersebut adalah : Banyaknya promo (69%) ; Layanan uang digital yang semakin praktis (58%) dan Sering merasa tidak enak ketika membayar tunai,, karena biasanya biaya transportasi online tergolong cukup murah (17%).
Hal ini menandakan bagaimana orang-orang yang setiap hari terlibat dalam kegiataan transportasi online tersebut, dalam hal ini adalah pengguna jasa tersebut, merasa adanya kepuasan tersendiri yang didapatkan ketika mereka menggunakan layanan uang digital, sehingga memaksa perusahaan penyedia jasa transportasi online untuk terus berinovasi dalam memperbarui fitur-fitur yang ada.
b.     Interpretative Flexibility
Komponen yang kedua adalah mengkaji bagaimana intepretasi terhadap artefak teknologi bagi kelompok-kelompok relevan yang tadi disebutkan itu tidak bersifat statis, melainkan fleksibel. Fleksibilitas terhadap artefak teknologi ini tidak hanya tterjadi pada bagaimana cara orang-orang memikirkan atau mengintepretasikan artefak, namun juga bagaimana artefak tersebut dibuat.
Jadi, dalam pemaknaan sebuah artefak teknologi, individu memiliki domain terbesar dalam menentukan penafsiran terhadap teknologi yang tengah digunakan. Dalam kasus GrabPay, hal ini berarti bahwa kita sebagai individu memberikan intepretasi yang berbeda-beda terhadap layanan tersebut. Bagi kebaanyakan pengguna, hal ini bisa jadi adalah fitur yang mempermudah mereka karena banyaknya promo yang tersedia serta memudahkan mereka karena tidak perlu menggunakan dan membawa-bawa uang tunai lagi. Namun di sisi lain, masih banyak driver yang mengeluhkan penggunaan GrabPay  sebagai metode pembayaran, karena uang baru bisa dicairkan beberapa minggu setelahnya, sedangkan mereka membutuhkan uang tersebut untuk membeli bensin, service motor, dll.
c.      Closure & Stabilizaation
Dalam poin sebelumnya telah dijelaskan bahwa setiap individu memiliki intepretasinya masing-masing terhadap suatu artefak teknologi yang sama. Bayangkan ada berapa juta pengguna Grab yang masing-masing memiliki pandangan berbeda terkait layanan ini. Perbedaan intepretasi ini menjadi masalah bagi perkembangan artefak, hingga akhirnya muncul masa dimana terjadi elaborasi sampai konflik yang berkaitan dengan pembaharuan artefak tersebut teratasi dan tidak lagi menjadi masalah bagi kelompok manapun, baik driver maupun rider.
Konsep ini menjelaskan bagaimaa suatu artefak teknologi mengalami âpenutupanâ. Bukan penutupan dalam artian penonaktifan, melainkan menutup segala pembaharuan karena tengah mengalami âstabilizationâ atau kondisi paling stabil atas segala dinamika yang terjadi antara kelompok-kelompok yang berkepentingan dalam perkembangan artefak teknologi. Dalam kasus GrabPay, kondisi ini nampaknya belum tercapai. Dimana masing-masing pengguna masih memiliki pro dan kontranya masing-masing terhadap layanan ini. Dalam konteks keamanan misalnya, kembali merujuk  pada hasil survey kami, baru 64% responden yang mengaku aman terhadap layanan uang digital. Sedangkan sisanya 36% mengaku masih mengkhawatirkan berbagai isu keamanan  yang mungkin akan menjadi risiko terhadap keuangan mereka. 3 Alasan yang melatarbelakangi ketakutan mereka adalaah Privasi Data (24%); Pencurian Uang (23%); serta Penyaalahgunaan Riwayat Transaksi (21%).
d.     The Wider Context
Konsep yang terakhir ini menjelaskan bahwa sekalipun setiap individu memiliki kebebasan dalam mengintepretasikan suatu artefak teknologi, satu hal yang perlu digaris bawahi dalam konsep ini adalah : Adanya kontribusi sosiokultural dan politik di sekitar kelompok kepenntingan yang membentuk nilai dan norma yang dianut dalam kelompok sosial tersebut.
Melalui analisis Social Constructions of Technology (SCoT) dapat dilihat bagaimana masyarakat dalam berbagai kelompok kepentingan, baik penyedia maupun pengguna layanan uang digital dalam pembayaran GrabPay, menentukan pengembangan artefak teknologi ini kedepannya berdasarkan kebutuhan dan kemajuan teknologi. Teori ini juga percaya segala jenis pembaharuan tersebut pada suatu saat akan berhenti ketika seluruh kelompok kepentingan merasa sudah memiliki satu nilai yang sama dan berada pada struktur paling stabil dalam penggunaan teknologi. Namun untuk saat ini nampaknya hal tersebut belum terwujud dalam konteks GrabPay karena masih banyaknya masalah yang perlu diperbaiki menuju kondisi yang stabil tersebut.
GRABPAY DALAM BINGKAI KONVERGENSI MEDIA
Terdapat beberapa bentuk Konvergensi media pada layanan uang digital sebagai  pembayaran moda transportasi online, GrabPay. Jenkins (2006) mendefinisikan konvergensi media sebagai suatu kondisi di mana konten media bisa mengalir di beberapa platform media, kerja sama antara beberapa industri media, dan perilaku migrasi oleh khalayak media yang akan pergi ke mana saja untuk mencari informasi dan pengalaman yang mereka butuhkan. Konvergensi sendiri merupakan kata yang menggambarkan perubahan teknologi, industri, budaya, dan sosial. Jika dikaitkan dengan munculnya GrabPay, konvergensi telah menyebabkan perubahan di bidang teknologi khususnya dalam sistem pembayaran serta adanya intergrasi dengan beberapa bank di Indonesia dan minimarket.
Sebagai contoh konvergensi, pengguna GrabPay bisa mengisi credits secara offline dan online. Untuk melakukan isi ulang secara offline, pengguna bisa memanfaatkan rekening e-money (Doku Wallet), minimarket (Alfamart, Lawsons), dan jaringan ATM lokal (ATM Alto, ATM Bersama, ATM Prima, BCA, BNI, BRI, CIMB Niaga, Bank Permata). Sedangkan untuk pengisian secara online, pengguna bisa menggunakan internet banking (Bank BCA, BNI, BRI, CIMB Niaga, dan Bank Permata) serta debit dan kredit. Menurut kami, Grab melakukan hal ini mengikuti arus perkembangan zaman dimana masyarakat pada zaman sekarang lebih memilih uang elektronik untuk melakukan transaksi. Dilansir detik.com (2016), nilai transaksi uang elektronik hanya pada bulan Mei 2016 mencapai Rp587,052 miliar dan sejak tahun 2013 hingga 2015 telah mengalami peningkatan nilai transaksi menjadi sebesar Rp5,283,018 triliun. .
Konvergensi menurut Jenkins (2006) adalah proses âtop-downâ yang dilakukan perusahaan dan proses âbottom upâ yang dilakukan konsumen. Maksudnya adalah konvergensi harus dilakukan kedua belah pihak, yaitu perusahaan dan konsumennya. Grab di sini sadar bahwa GrabPay merupakan kesempatan untuk memperluas pengguna aplikasinya, sehingga Grab begitu menggencarkan informasi promo-promo mengenai GrabPay hampir di seluruh media sosial, seperti Instagram dan Youtube serta baliho-baliho di pinggir jalan yang dapat memancing ketertarikan penggunanya. Di sisi lain, masyarakat Indonesia semakin modern dan terdigitalisasi sehingga pesan yang diberikan Grab melalui beberapa platform media sosial dapat diterima. Dengan proses yang mendukung dari kedua belah pihak, hasilnya GrabPay dikenal luas dan digunakan oleh masyarakat.
Seluruh fitur di dalam Grab (termasuk GrabPay) merupakan peralihan menuju media baru. Media baru menurut Lievrouw (2011) adalah media yang di dalamnya terdiri dari gabungan berbagai elemen. Itu artinya terdapat konvergensi media di dalamnya di mana beberapa media dijadikan satu. Hal ini dapat terjadi akibat semakin berkembangnya teknologi dan internet. Grab membuat aplikasi dimana pengemudi dan penumpang dapat dipertemukan hanya dengan menggunakan internet, bandingkan ketika internet belum begitu berkembang, para penumpang harus mendatangi pangkalan ojek konvensional. GrabPay juga merupakan fitur dimana penumpang dan pengendara tidak perlu lagi menggunakan uang cash sebagai alat transaksi utama, mereka cukup mengisi saldo dan pembayaannya secara sistematis akan dialirkan kepada pengendara.
SISI POSITIF DAN NEGATIF GRABPAY
GrabPay sebagai sebuah fitur yang terbilang baru dan sangat dibutuhkan masyarakat ternyata memiliki sisi positif dan negatif. Berikut sisi positif dan negatif dari fitur GrabPay:
1.     Kenyamanan dan Keamanan
Fitur GrabPay memang ditujukan untuk memberikan kenyamanan penggunanya, baik pengendara maupun penumpang. Kenyamanan diwujudkan dengan penggunanya tidak perlu membawa uang dalam bentuk fisik, sehingga tidak perlu memikirkan mengenai pembayaran karena fixed price dan langsung memotong saldo yang penggunanya miliki. Dengan ketidakperluan membawa uang dalam bentuk fisik ini juga meningkatkan di mana penggunanya tidak perlu membawa dompet ke mana-mana yang rawan dicuri.
2.     Menukarkan promo secara online
Fitur GrabPay juga menyediakan layanan di mana pengguna dapat menukarkan poin yang dimiliki dan digunakan untuk mendapat promo. Misalnya diskon 50% di suatu online shop atau potongan jasa aplikasi travel. GrabPay juga seringkali menawarkan potongan harga kepada penggunanya sehingga meningkatkan penggunaan layanan ini. Misalnya, pada bulan April 2017, jika kita menggunakan GrabPay untuk layanan Grab Car maka kita dapat potongan 40%.
3.     Banyaknya Kerjasama
GrabPay bekerjasama dengan berbagai macam bank dan perusahaan yang berdampak kemudahan untuk mengisi ulang saldo (top up). GrabPay dapat diisi tidak hanya melalui transfer bank, tetapi juga dapat diisi di Alfamart. Hal ini sangat memudahkan pengguna untuk mengisi ulang saldonya di mana saja dan kapan saja.
1. Â Â Â Kebutuhan Tinggi tapi Sistem Belum Sempurna
GrabPay yang baru diluncurkan kurang dari setahun ini masih dianggap belum sempurna dan terdapat kekurangan di sana sini. Kekurangannya adalah bank yang digunakan perusahaan Grab hanya satu, sehingga butuh waktu cukup lama untuk transfer saldo dari penumpang ke pengemudi (kurang lebih satu minggu). Hal ini dapat mengganggu kesejahteraan pengemudi di mana mereka perlu menunggu untuk mendapatkan uang yang merupakan haknya. Hal ini juga berdampak kepada penumpang, di mana seringkali pengemudi Grab sering menolak penumpang yang menggunakan GrabPay dan menggunakan promo. Seharusnya, GrabPay berfungsi untuk memudahkan para penggunanya, tetapi karena sistem yang belum sempurna ini, malah menyusahkan kedua belah pihak.
2.     Privasi Dunia Maya
Isu privasi juga menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam menggunakan fitur GrabPay. Karena meskipun pihak Grab telah menuliskan bahwa data pribadi akan tersimpan dengan aman, namun tetap saja ada pengguna yang merasa ragu terhadap kemanan yang dijanjikan pihak Grab. Berdasarkan survei yang kami lakukan juga terlihat bahwa sebanyak 24 responden merasa resah dan khawatir akan privasi data mereka. Terlebih lagi di era teknologi saat ini, data-data yang ada bisa ditelusuri dengan mudah asalkan memiliki software yang tepat dan kemampuan dibidang IT. Belum lagi baru-baru ini kita digemparkan oleh pemberitaan Ransomware âWannaCryâ yang menyerang rumah sakit hingga perusahaan perbankan di dunia. Adanya terror semacam ini semakin meningkatkan kecemasan pengguna terkait privasi datanya, karena dengan adanya virus semacam ini hacker dapat dengan mudah mencuri dan mengacak-acak data kemudian digunakan tanpa pertanggung jawaban.
LAMPIRAN : HASIL SURVEY KUESIONER
Total Responden : 100 orang.
Alia, Sarifah Siti dan Agus Tri Haryanto. (2016). Grab dan Lippo Group Sepakat Pembayaran e-Money Terintegrasi. Diakses tanggal 21 Mei 2017 http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/799967-grab-dan-lippo-group-sepakat-pembayaran-e-money-terintegrasi
Jenkins, H. (2006). âWorship at the altar of convergenceâ: A new paradigm for understanding media change. In H. Jenkins, Convergence culture: Where old and new media collide (pp 1-24). New York: New York University Press.
Lievrouw, L.A. and Livingstone, S. (2006c). Â Introduction: The social shaping and consequences of new media, in L.A. Lievrouw and S. Livingstone (eds), Handbook of New Media: Social Shaping and Consequences of ICTs. Â London: Sage
Lievrouw, L. (2011). Alternative and activist new media. Cambridge: Polity Press.
 Lina, Noviandari.  (2014). Cab booking app GrabTaxi now available in Indonesia. Diakses tanggal 21 Mei 2017 https://www.techinasia.com/taxi-booking-app-grabtaxi-indonesia
 Meodia, Arindra. (2016). Genap 4 tahun, Grab punya mitra 300 ribu pengemudi. Diakses tanggal 21 Mei 2017 http://www.antaranews.com/berita/565050/genap-4-tahun-grab-pumya-mitra-300-ribu-pengemudi
Noor, Achmad Rouzni. (2016). Bank Indonesia Catat Pertumbuhan Pesat e-Money. Diakses tanggal 21 Mei 2017 https://inet.detik.com/business/d-3249623/bank-indonesia-catat-pertumbuhan-pesat-e-moneyÂ
 Pinch, T. J., & Bijker, W. E. (1984). The  Social Construction of Facts and  Artefacts: or How the Sociology of Science and Sociology of Technolo- gy might Benefit Each Other.  Social  Studies of Science, 14
 Setiawan, Sakinah Rakhma Dian. (2016). Grab Luncurkan Pembayaran Nontunai. Diakses tanggal 21 Mei 2017 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/11/29/194323026/grab.luncurkan.pembayaran.nontunai.