Saya merasakan hidup di era media sosial. Tahun 2008 migrasi dari Friendster yang direncanakan akan ditutup, ke Facebook yang saya juga gatau. Coba saja. Lalu saya kaget karena foto rumah saya dikomentari oleh seorang teman. Waktu itu saya baru selesai membangun rumah dan sangat bersyukur karena akhirnya bisa memiliki rumah sendiri. Saya terheran-heran, kok orang bisa liat foto rumah saya, dan komen pula. Nah, baru saya paham, bahwa postingan saya di Facebook itu dilihat oleh semua teman saya. Senang? Nggak juga. Soalnya saya tuh inginnya menulis suka², apapun yang saya alami. Disukai oke, nggak ada tanda jempol dari orang lain pun gak apa² karena memang bukan itu tujuannya.
Menulis, adalah menumpahkan rasa dan pemikiran, menuangkan segala pengalaman keseharian, mirip buku harian di masa remaja saya. Nah, kalau mirip diary, maka keinginan untuk tidak dibaca orang tentunya sangat besar. Jangan dibaca orang, karena itu milik saya pribadi.
Pada awalnya, kupikir menulis status di Facebook itu serupa menulis diary, save, aman, damai, tentram, terjaga dan dikunci rapat, ternyata malah dipublish habis²an. Itu artinya, saya harus mengubah tujuan saya menulis.
Sejak saat itulah saya mengubah niat bermedia sosial. Niatnya berbagi, pengalaman, berbagi info, inspirasi, ide², ucapan, quotes yang memotivasi saya untuk maju dan menjadi lebih baik. Intinya, saya ingin semua yang saya tuliskan dan bagikan di media sosial itu ada manfaatnya dan mungkin berguna bagi orang lain.
Jadi sis, engkau melupakan keinginanmu untuk menulis dan sharing suka² serta semau gue dan bebas penilaian? Tentu tidak! Bersyukur akan hadirnya seseorang dalam hidup saya yang pernah menjadi pendengar setia cerita² saya. Dia keren banget, top of the top. Kenapa? Dia gak pernah menilai, gak pernah menuding, gak pernah mengkritik, selalu memberi masukan kalau ditanya, terus mensupport saya ketika merasa letih dan ingin berhenti berkarya. Rasanya, inilah diary berjalan, bukan hanya sekadar buku tempat menuliskan pemikiran dan tempat curhat.
Saya menyebutnya "si tumpah ruah", memang demikian adanya. Dan orang seperti ini tidak pernah terganti, sangat mahal, sangat berharga, sangat berarti, dan yang membuat terluka: tetap hidup dalam angan dan impian. Iyalah, manusia ideal yang mempesona biasanya memang demikian, cuma layak dikagumi, bukan dimiliki. Saya cuma berhak menyimpan seluruh kebaikan dan kenangan tentangnya, dalam kotak emas terbaik yang saya simpan di sudut hati yang paling dalam.
Seseorang dari masa lalu pernah bertanya lirih: "hidup itu apa sih?". Saya gak jawab, karena memang gatau jawabannya apa. Tiap orang punya jalan hidup masing², yang kelak akan mengajarinya arti kehidupan.
Bagi saya, hidup terlalu luas untuk dipertanyakan. Ketika saya ditanya itu, saya malah balik bertanya: "cinta itu apa sih?", whatisalove? Kenapa saya tanyakan itu? Karena cinta, adalah bagian dari kehidupan yang luas, dan cinta yang membuat "hidup menjadi lebih hidup".
Sekarang saya tau dan mengerti jawaban yang pernah dikatakan orang kepada saya, bener banget. "Cinta itu ikhlas" . Iya, bener, dan mencapai keikhlasan itu luar biasa sulit.
Orang-orang dari masa lalu, selalu mengirimkan pelajaran sangat berharga, yang mendewasakan pemikiran, melembutkan hati, membuat menjadi lebih baik (bagi kaum yang berpikir).
Senang menepi di sini, menulis agak panjang, dan menyurutkan waktu, menyusun kepingan masa lalu, menjadi tumpukan kenangan yang sangat indah.