FENOMENA LGBT Allah dalam Al-qur’an pun bersabda dalam Q.S. Al-A’raf:81 yang artinya “Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama laki-laki bukan kepada perempuan, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas”. Kasus Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) kian hari kian merajalela. Bukan hanya menimpa orang dewasa, bahkan ada kasus anak kecil teutama anak SD yang melakukan hal yang tidak sepatutnya (read: sodomi,gay,homo). Tentu saja hal ini sangat membuat para orangtua khawatir terhadap pergaulan anak-anaknya di lingkungan sekolah dan masyarakat. Faktanya terdapat satu komunitas homoseksual di akun twitter yang dianggotai oleh anak-anak dibawah umur (sekarang akun tersebut sudah ditutup tidak dapat diakses lagi karena menimbulkan banyak kontra). Saya pernah membaca sebuah artikel, dimana menyebutkan bahwa ada kasus seorang wanita lesbi karena faktor masalalunya (saat SD). Sebut saja dia A, dia berperilaku menyimpang sebagai seorang lesbian karena saat ibunya sedang hamil di prediksi akan melahirkan seorang anak laki-laki namun faktanya ibunya melahirkan seorang anak perempuan (si A tersebut). Pada intinya dia mengalami penolakan sejak lahir oleh ayahnya dan diperlakukan seperti anak laki-laki. Saat kecil A tidak boleh main boneka tapi malah diberikan mainan anak-anak seperti gundu, bola sepak, bola basket, bahkan A ini sampai dibilang laki-laki oleh guru dan teman-temannya. Karena hal tersebut, dia menjadi tidak suka dengan laki-laki dan menjadi seorang lesbian. Satu kasus lagi, anak kelas 5 SD menyodomi anak TK (sesama jenis, laki-laki). Modusnya, siswa SD ini mengajak bermain korbannya yang juga tetangganya tersebut. Korban diajak bermain petak umpet di kebun, lalu celananya diperosotkan dan mendapatkan perlakuan asusila. Perbuatan menyimpang ini terbongkar ketika para korban (anak TK) menceritakan kejadiannya kepada orangtuanya masing-masing. Dari kedua kasus tersebut terbukti berarti bahwa bukan pada masa sekarang saja anak-anak mempunyai perilaku menyimpang seperti itu, namun dari jaman dahulu pun anak-anak ada yang mengalaminya dan hingga sekarang masih dilakukannya dan mempengaruhi anak-anak saat ini. Anak-anak yang menjadi korban perilaku menyimpang tersebut cenderung akan menjadi mudah terangsang (mengalami sexualization of behavior). Anak laki-laki yang disodomi laki-laki dewasa berpotensi mengalami penyimpangan perilaku seksual juga. Peristiwa ini bagaikan sebuah pola yang menyebarkan penyimpangan perilaku, misalnya A pernah menyodomi B yang masih anak-anak berusia 8 tahun dan B pada masa dewasanya akan melakukan hal yang serupa kepada anak dibawah umur bahkan kepada teman sebayanya (menjadi gay, dalam kasus ini disebut LGBT). Begitu seterusnya rantai pola penyebaran/penularannya. Meskipun seseorang tidak memiliki gen gay, ia bisa mengembangkan perilaku seks sejenis jika faktor lingkungannya mendukung. Faktor lingkungan diantaranya seperti didikan yang salah dari orangtuanya, broken home (Anak yang melihat orangtuanya bertengkar dan akhirnya bercerai mengambil kesempulan bahwa laki-laki/perempuan itu jahat, akhirnya bisa menjadi penyuka sesama jenis), pernah mengalami pelecehan seksual, dan melihat fenomena penyimpangan seksual disekitarnya. Sebagai seorang guru dan orangtua kita harus bersikap peka terhadap pola pergaulan anak-anak, ajarilah siswa untuk berani berkata “tidak” jika berada dalam situasi yang tidak seharusnya terjadi karena perilaku penyimpangan sosial tersebut bisa menular. “Penyimpangan itu harus diluruskan, bukan dibenarkan.” Sumber pendukung tulisan: http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/01/14/bocah-sd-sodomi-anak-tk-di-kebun http://iwanyuliyanto.co/2013/12/06/kasus-sodomi-anak-dan-perilaku-homoseksual-anak/ http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00099016.html#ixzz422Wr13Xf









