Setiap hari saya duduk di depan komputer yang saya sandang di dalam tas selama kurang lebih satu jam di atas kereta dari Depok menuju Menteng. Yang saya lakukan begitu sampai ruangan kerja adalah membuka laptop saya, menunggu booting, kemudian membuka sarapan pagi yang biasanya saya beli di sekitar stasiun. Variasinya tidak banyak memang. Kadang cuma roti yang saya beli di minimarket, kadang bisa juga nasi uduk yang enak di dekat Stasiun Sudirman. Tapi intinya, dari sarapan pagi saya sudah berhadapan dengan laptop.
Begitu jam kerja masuk, maka saya tidak akan lepas dari komputer jinjing saya ini kecuali ketika makan siang dan waktu sholat datang. Sisanya saya terus memeluk laptop saya ini. Kalau beruntung saya bisa pulang selepas Magrib. Tapi saya lebih sering pulang jam sembilan malam, karena ada saja hal yang harus saya selesaikan untuk keesokan harinya. Prinsip saya adalah tidak membawa pekerjaan pulang.
Tulisan ini adalah penjelasan kenapa saya tidak langsung pulang ketika saya bisa meninggalkan kantor selepas magrib. Saya punya semacam ritual untuk duduk di kedai kopi, membuka laptop saya, kemudian baru pulang pukul sepuluhan. Hal ini aneh, mengingat saya tidak punya kebutuhan bekerja lagi selepas dari kantor karena saya tidak akan meninggalkan kantor kalau pekerjaan saya belum beres. Jadi, atas dasar kepentingan apa saya tetap singgah membuka laptop sambil mengeluarkan uang tambahan (ya hitung saja berapa biaya ngopi sambil laptopan saya sebulan jika segelasnya kurang lebih 30 ribuan?)
Mulanya saya agak terganggu dengan kebiasaan/kesenangan ini. Karena saya pikir ini sebuah gejala hedonisme. Hambur. Sebisa mungkin saya mengurangi hal-hal seperti ini, kemudian langsung pulang saja. Tapi saya tidak pernah menikmati kepulangan yang cepat itu. Selain karena keretanya masih penuh, juga karena saya merasa uring-uringan saja sesampainya di rumah. Seperti ada yang tidak beres.
Maka selama dua bulan ini saya memikirkan. Sepenting apa sih pulang kerja harus mampir ke kedai kopi kemudian laptopan ini. Setelah dua bulan berpikir, menguji berbagai asumsi dan melakukan kontemplasi, saya menemukan jawabannya: sangat-sangat-sangat penting.
Duduk sejam-dua jam di kedai kopi sepulang kerja penting sekali untuk saya untuk menjaga kewarasan. Saya kira kewarasan itu adalah sebuah konsep yang mengada-ada. Ternyata di usia 27 tahun ini saya merasakan sendiri, sepenting apa kewarasan itu dan semahal apa harga sanity pill. Duduk di kedai kopi sambil laptopan ini adalah sanity pill saya. Meski pun aneh kan sebenarnya, sudah seharian bekerja di depan laptop, masa sanity pill-nya juga laptopan?
Pekerjaan saya sehari-hari tidak terlalu berat. Hanya saja arus informasinya deras sekali. Karena saya orangnya agak suka berpikir, segala informasi tersebut tidak saya terima begitu saja, melainkan saya olah dan saya kelompokan ke dalam kotak-kotak yang tersedia dalam kepala saya. Kadang ada saja kebutuhan untuk membuat kotak baru karena selalu saja ada hal-hal baru yang saya dengar. Terlebih saya bekerja di bidang yang memang saya senangi, sehingga tidak ada junk information yang saya terima.
Selain informasi dari tempat kerja, saya juga menerima arus informasi dari media sosial, dari newsroom, dan sumber-sumber lain di internet. Mereka semua saling berkelindan menjadi jejaring informasi di kepala saya.
Yang paling melelahkan sebenarnya adalah kepala saya yang terus-terusan merangkai informasi yang saya dapatkan sehari-hari itu ke dalam sebuah framework, semacam peta yang menghubungkan satu informasi ke informasi lainnya. Meski saya memang tidak akan tahu seluruh hal, tapi manuver dan adaptasi saya terhadap hal baru lebih luwes, karena saya belajar hal baru setiap hari sampai hari ini.
Dua-tiga jam yang saya habiskan di meja kedai kopi itu adalah ruang untuk memproses informasi hari itu. Saya menybutnya ruang antara. Hal-hal yang saya serap seharian saya susun selama dua jam tersebut ke dalam kotaknya masing-masing. Sehari-hari tentu saja ada hal yang saya buang dan tidak jadi saya gunakan untuk framework saya. Tapi kebanyakan informasi hari itu pasti punya sumbangsihnya.
Dengan punya ruang antara dan jeda itu, saya bisa pulang dengan kepala sudah off. Pikiran saya sudah selesai untuk hari itu sehingga sesampainya di rumah saya bisa mengerjakan hal-hal yang tidak perlu berpikir: mencuci piring, menggosok dan mencuci baju, beberes rumah, atau sekedar menonton ulang video David Doobrik di YouTube. Biasanya, di atas kereta pulang otak saya sudah βoffβ, sudah tidak berpikir keras lagi. Hal ini membuat saya jadi rileks. Punya waktu untuk mengistirahatkan otak adalah sebuah kemewahan buat saya. Kalau tidak, mungkin saya akan tidur dengan kening berkerut.
Saya tidak ingin mengglorifikasi betapa menjlimetnya otak saya. Tapi ya begitulah adanya saya, tidak lebih dan tidak kurang. Daripada bingung dan tersiksa mengubah diri saya menjadi orang lain, lebih baik saya mengapresiasi diri saya dan menemukan sendiri mekanisme bertahannya kan? Duduk di kedai kopi sambil laptopan atau kadang menulis itu adalah mekanisme bertahan saya.
Kehidupan di usia 27 tahun ini rada-rada awkward. Di satu sisi saya merasa kesepian tapi di sisi lain saya sangat selektif terhadap orang-orang yang saya izinkan untuk mengisi waktu saya. Ada kecenderungan saya menarik diri dari lingkaran pergaulan yang semakin sedikit. I donβt push people away. Tapi saya menarik diri, kemudian tenggelam dengan laptop saya ini.
Bercerita dan menjelaskan hal-hal kepada laptop saya lebih mudah dan lebih legaan dibandingkan bercerita kepada orang lain yang belum tentu juga akan mengerti. Apalagi harus menjelaskan hal-hal dengan panjang lebar kemudian disalah-artikan. Tidak sekali dua kali saya disalahartikan saat bercerita. Saya sudah puas dan kenyang lah menjadi korban pelabelan orang lain. Sehingga daripada basa-basi lebih baik saya bercakap-cakap dengan laptop saya saja.
Kalau kata Bhagavad, orang memang cuma butuh pengalih dari kegilaan dunia yang dihadapi sehari-hari. Pekerjaan, bos dan client, kegilaan dunia yang bikin mikir βbusetβ dan hal-hal yang susah diterima otak, butuh obat penawarnya supaya tetap waras. Kebutuhan akan sanity pill itu adalah niscaya. Ada yang lari/running untuk tetap waras. Ada yang menyelami dunia Kpop. Ada yang bermain musik, dan berbagai aktivitas lain. Semuanya adalah niscaya. Satu-satunya cara untuk terlepas dari kebutuhan akan sanity pill itu adalah menemukan tempat pulang.
Bagi saya tempat pulang sifatnya masih kelak. Masih di masa depan, masih belum jelas, bahkan mungkin belum tahu. Tapi yang jelas, di dalam jeda waktu tersebut, di dalam ruang antara yang menjembatani pekerjaan saya dan kasur saya di rumah, saya menggunakannya sebagian untuk menyicil menulis cerita. Cerita tentang diri saya, tentang keseharian saya, keinginan saya, ketakutan saya, hal-hal yang memebani saya tapi tidak bisa di-apa-apain, juga imajinasi-imajinasi dan hasil olahan kepala saya yang njlimet itu.
Sudah cukup banyak cerita yang saya tuliskan. Cerita itu yang nanti akan saya bawa pulang, ketika saya sudah tahu dimana alamat rumah saya. Sampai saat akhirnya waktu tersebut tiba, maka saya akan menunggu di kedai kopi yang memanggil saya Slamet, atau yang nasi gorengnya sudah satu paket dengan es teh manis itu.
Saya rasa fair-fair saja untuk punya mekanisme bertahan seperti ini. Apalagi jika bisa produktif. Sudah berapa draft artikel dan bahan pikiran untuk konten yang lahir di ruang antara itu? Sudah cukup banyak pula kebijaksanaan yang tersimpulkan di dalam ruang antara tersebut.
Jika memang belum tahu kemana akan pulang, setidaknya saya sudah punya bayangan mau pulang lewat mana.