A very personal Substack. Click to read Jurnal Berkebun, by Bohok, a Substack publication. Launched 5 years ago.
Teman-teman Tumblrku, ayo subscribe di Substackq dong. Leave comment di sana dsb

shark vs the universe
tumblr dot com
NASA
Mike Driver

pixel skylines
Cosmic Funnies
Today's Document
I'd rather be in outer space šø
𩵠avery cochrane š©µ
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Interview Vampire Daily
todays bird
Fai_Ryy

Game Changer & Make Some Noise
Noah Kahan
The Bowery Presents
h

tannertan36
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
seen from Singapore
seen from Australia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Panama

seen from Australia

seen from Germany

seen from Brazil

seen from Germany

seen from Palestinian Territories
seen from United States

seen from United States
seen from Thailand
seen from Venezuela

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Türkiye
seen from Haiti
@bohoque
A very personal Substack. Click to read Jurnal Berkebun, by Bohok, a Substack publication. Launched 5 years ago.
Teman-teman Tumblrku, ayo subscribe di Substackq dong. Leave comment di sana dsb

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Halo masyarakat. Bagaimana kabarnya? Lama tidak menyapa.
Garut, 19 - 22 Mei 2024
Saya lagi di Garut. Ada tugas kantor. Perjalanan ini dimulai dengan suasana sendu dan menyebalkan. Arsenal (lagi-lagi) gagal juara. Ya coba lagi tahun depan. Mudah-mudahan tahun depan beneran juara, karena ya masa tiap tahun pake execuse yang sama?
Lagi kesambet apa ya tiba-tiba pengen journaling, pengen menulis sesuatu. Menumpahkan yang ada di pikiran, meski ya gak banyak lagi hal yang bisa dituliskan, mostly karena tidak ada energi yang tersisa. Menulis, yang beneran menulis, butuh energi. Di sisa-sisa energi ini, saya memilih menyisihkannya untuk menulis.
Salah satu yang kepikiran ya soal bagaimana monev-monev yang dilakukan kantor saya ini masih bisa relevan dan bermanfaat untuk kebijakan dan regulasi ke depannya? maksud saya, sejauh mana hasil pemantauan yang dilakukan staff-staff ini mampu memperbaiki kualitas eksekusi dari kementerian/lembaga lain, yang punya banyak dinamikan, dan ya sarat kepentingan politik?
Setengah diri saya pengen melihatnya sebagai sebuah hal yang berada di luar porsi saya, bahkan di luar porsi K/L saya. Tugasnya jelas: pantau, evaluasi, sebagai masukan untuk perencanaan tahun depan. Begitu siklusnya setiap tahun. Dan, itu sama sekali tidak salah.
Tapi setengah diri saya ini mengidap saviour complex. Masa iya sih yang saya lakukan ini tidak menjadi apa-apa? masa iya kontribusinya begini doang? ayo dong yang lain dong? begitu pikiran saya. Jadinya saya memaksa dan menghukum diri saya untuk berbuat sesuatu.
Nyatanya malah jadi sok dipenting-pentingkan. Saya mengarang sendiri saja sense of urgency dari yang saya lakukan karena khawatir tidak berdampak dan tidak berguna ini. Padahal bisa jadi memang tidak ada dampaknya dan tidak ada gunanya. Tapi demi-demi supaya tidak merasa hambur, supaya tidak merasa bersalah menggunakan anggaran negara, jadinya ya begitu. Execuse saja.
Padahal ya bisa saja ditelan saja gitu ya. Kalau kata anak tongkrongan: man-up, swallow your pride. Ya emang nyatanya harus melakukan hal-hal ini kok, terlepas tidak berguna, terlepas tidak berdampak. Gak usah merasa spesial-spesial amat lah.
Ya ini sebenarnya pergulatan mental klasik dari sekrup-sekrup negara. Jadi ya gak baru-baru amat. Cuma lagi butuh venting, menceritakan (kepada diri sendiri), kelelahan dan kekalutan benak karena sudah melakukan ini berulang kali seperti robot.
Mungkin perlu pikirkan outlet lain untuk ini ya, kalau memang tidak berguna untuk perbaikan kebijakan dan regulasi, bergunanya untuk apa?
Jatuh Cinta
Tulisan Rara Sekar tentang Ben di blognya ini menjadi salah salah satu life defining moment di dalam hidup saya. Ada semacam rasa iri yang begitu menggebu-gebu setelah mendapati surat cinta semacam ini. Ada keinginan yang sedemikian rupa untuk menerima atau mendapatkan tulisan yang dialamatkan kepada saya, seperti Rara mengalamatkannya kepada Ben.
Mungkin itu juga alasan kenapa saya pernah punya syarat bahwa pasangan saya kelak harus bisa menulis. Menulisnya tidak harus satu genre dengan saya, tapi minimal ada perasaan yang asing bagi saya dan ia tumpahkan ke dalam bentuk tulisan. Membaca tulisan seseorang, apalagi yang dearly, mungkin akan punya keistimewaan yang berbeda pula.
Yang paling memunculkan keirian saya sebenarnya dari tulisan Rara ini adalah bagaimana ia jatuh cinta kepada Ben karena tulisan-tulisan Ben. Rasanya teramat senang sekali jika hal yang saya sukai - menulis- bisa menjadi sesuatu yang membuat saya dicintai lebih lagi.
Lagi-lagi itu yang menjadikan kenapa kegiatan tulis-menulis, dan baca-membaca adalah faktor besar sekali dalam pengembaraan asmara saya. Sepertinya itu menjadi faktor besar betul.
Sampai akhirnya saya mendapati sendiri: ada yang naksir kepada saya karena tulisan saya, yang bela-belain nanyain untuk sekedar bisa connect dengan saya, karena ia begitu terkesima dengan tulisan saya.
Tapi ternyata kesukaannya terhadap tulisan saya tidak serta-merta membuat perasaan ini lebih mudah. Menyukai tulisan saya tidak berarti membuat saya merasa lebih diinginkan, apalagi dicintai. Ada faktor lain yang lebih mendasar ketimbangan urusan tulisan. Perkara mencintai-dicintai ini jauh lebih complicated dibanding urusan tulisan saja.
Ben dan Rara tetap sepasang manusia beruntung yang di luar terlihat menikmati dunia kepenulisannya ini. Mungkin kebetulan mereka punya tulis-menulis yang kebetulan saya hargai lebih sehingga yang saya perhatikan hanya hal itu. Tapi saya yakin pula bahwa Ben dan Rara lebih dari sekedar tulisan-tulisan dalam blog yang bisa saya baca. Ada konfigurasi lain yang tidak ada satu orang pun tahu kecuali mereka berdua. Jadi ya, ndak akan membawa saya kemana-mana jika saya hanya fokus pada urusan tulis-menulis tersebut.
Dalam kasus saya, memang akhirnya tidak jatuh cinta pada wanita yang jago menulis. Tidak pula pada wanita yang menyukai tulisan saya. Ya mungkin suka tapi tidak sebegitu perdulinya. Justru faktornya adalah bagaimana konfigurasi saya dan pasangan saya ini tanpa embel-embel tulisan lah, satu hobi lah, atau satu selera lah.
Berbagai faktor dan variabel yang membuat urusan perasaan dan jatuh cinta ini semakin kompleks membuat perkara jatuh cinta tidak lagi sesederhana mengirimkan tulisan, atau menganggumi tulisan seseorang lewat blognya. Apalagi kalau sudah membicarakan rumahtangga. Urusan suhu AC saja jadi variabel yang besar kalau tidak bisa diselesaikan dengan baik.
Tapi bukan berarti menulis untuk mengirimkan perasaan, dan menganggumi tulisan dari blog ini adalah hal yang remeh juga. Saya tetap bisa menikmatinya, mengolahnya, dan memberikannya kepada Alsa dalam bentuk yang lain, sesuai dengan love languagenya. Hanya saja saya memanen perasaan ini dari cara yang berbeda dengan Alsa.
231010
Menggunakan judul dengan format YYMMDD adalah sebua kepraktisan, terutama dalam mengarsip. Tidak hanya menyediakan keunikan, karena tidak mungkin berulang, format ini juga memiliki fungsi kronologis. Dengan judulnya saja, bisa langsung ketahuan kapan tulisan ini ditulis dan diterbitkan.
Dari sisi estetika mungkin akan membuka perdebatan: apakah judul ini beneran memenuhi aspek estetik, atau hanya sekedar pembenaran untuk kemalasan? Tapi saya sudah menggunakan cara ini entah sejak kapan. Motivasi saya waktu itu menggunakan format penjudulan ini adalah mencari solusi penamaan judul tulisan yang gampang karena waktu itu saya sedang getol-getolnya menulis (hampir) setiap hari.
Tulisan ini tentu bukan refleksi soal cara memberi judul pada tulisan. Kebetulan saja saya kepikiran lagi soal judul ini saat memberi judul tulisan saya kali ini, sehingga saya pikir mungkin bisa menjadi sebuah pembukaan yang menarik?
Ya ada hubungannya sih tetap. Format judul ini membuat saya mengunjungi kembali waktu-waktu dimana saya rajin membuat catatan tentang keseharian dan pikiran saya. Semacam nostalgia dengan kerja-kerja katarsis tersebut. Waktu itu mungkin masih sangat berduka, sangat campur aduk, sehingga menulis jurnal adalah sebuah pelarian yang menyenangkan dan memulihkan.
Sekarang hidup saya lebih baik, lebih teratur, lebih jelas, terlebih sudah punya teman hidup dan teman tidur. Sehingga kebutuhan untuk journaling, untuk menumpahkan pikiran dan perasaan itu tidak lagi semenggebu-gebu itu. Berbicara dengan istri, berkeluh-kesah, dan quality time, adalah bentuk penawar racun yang menjangkiti dalam keseharian. Pernikahan membuatnya jadi lebih bearable karena menyediakan purpose dan koridor yang jelas.
Tapi ya bagaimana pun ada persoalan-persoalan yang tidak akan selesai dengan pernikahan dan pasangan hidup, terutama urusan yang sifatnya internal diri. Kesehatan fisik, kesehatan mental, kewarasan, hal-hal tersebut justru harus diselesaikan sendiri agar bisa berfungsi dengan baik dalam sebuah hubungan. Kalau emosi tidak stabil, kalau bawaanya marah terus, ya tidak akan bisa quality time itu kejadian.
Buat saya journaling, menulis mungkin lebih tepatnya, adalah resep hidup sehat yang sudah lama sekali saya tinggalkan. Selain kehilangan urgensinya, juga karena tuntutan untuk menulis hal lain selain pikiran dan perasaan sendiri lebih besar. Sehingga kalau ada waktu luang menulis, lebih baik cicil kewajiban saja untuk menebus rupiah.
Sampai akhirnya mulai muncul tanda-tanda badan dan pikiran ini mulai goyah dan berontak. Terlepas dari berbagai mitos soal perlu atau tidaknya istirahat, saya menyadarinya dengan harga mahal: deteriorating shape and mindfulness. Mungkin pikiran saya masih bisa segar-bugar ya, tapi fisik saya sudah tidak. Begitu fisik sudah kena, ya mudah sekali pikiran ini terpengaruh dan menjadi frustrasi.
Jadi di hari pertama tetirah ini, saya mengulang kembali sebuah ritual lama yang dulu pernah menjadi keseharian, bahkan identitas saya: menulis untuk mencari efek katarsisnya. Sungguh sebuah aktivitas yang menyegarkan dan memulihkan. Terlebih saya melakukannya dari meja kerja alm. Bapak saya. Sepertinya tidak ada cara yang lebih baik dari ini, ya?
Itās good to be back while enjoying this much-needed break.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
pre-PhD log #1
tadinya mau nulis juduknya PhD log, tapi sadar, ini bahkan belum mulai. Ditambah nanti pas PhD mungkin lebih banyak lagi keluhannya, Jadi sepertinya perlu dipisahkan gitu deh.
Baru persiapan aja pusingnya udah luar biasa. Gak salah orang-orang bilang nyiapin sekolah ini no jokes, apalagi kalau levelnya udah S3 begini. Kepusingannya bertumpuk-tumpuk. Makanya w memutuskan untuk menulis log persiapan.
Ada tiga hal/komponen utama yang lumayan bikin w snewen untuk menyiapkan S3 ini.
Pertama jelas persyaratan administratif yang sifatnya non-substansial seperti pasport, paspor, visa dsb. W juga memasukan sertifikat IELTS sebagai kesulitan administratif. Melelahkan sih.
Kedua, urusan mencari supervisor, dan korespondensi dengan univ tujuan. Kalau udah ketemu, harus email, berbalas-balasan. Nulis emailnya aja capek, overwhelmed sendiri. Belum lagi harus nyiapin admission dan persyaratannya. untuk bisa daftar, ya berarti harus tes IELTS kan? nah itu tuh. Balik lagi ke persoalan tersebut.Ā
Ketiga tentu saja substansinya: menulis proposal. Ini tuh paling bikin overwhelmed. Selain karena susah dan harus baca banyak hal, nulis proposal bikin w merasa bodoh banget. Banyak banget teori dan perkembangan ilmu yang udah gak w pahami perkembangannya.
Karena lagi di titik nadir ini, overwhelmed, ditambah tiga kerumitan itu, jadinya malah mental blocking, mencoba menego: ga usah sekolah di luar kali ya? di dalem aja. Atau gak usah sekolah sama sekali gapapa juga wkwkw. Weak mentality.
Emang butuh kontrak sosial dari luar sih, untuk menjaga motivasi untuk nyiapin sekolah.Ā
Sepi juga ya Tumblr akhir-akhir ini? Gak ada yang nulis. Gak ada yang curhat, bahkan yang repost pun gak ada..
Nama Gunung
Coba khayalkan sejenak sepuluh tahun nanti hidupmu Coba bayangkan sejenak misalkan ada aku Yang menemani hari demi hari yang tak terhitung Misalkan itu aku yang terakhir untukmu Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya bahkan akan aku taklukkan Tanpa cahaya di kegelapan Berbalutkan pelita hatimu Di aku di aku dan kamu Pastikan kau melihat aku Saat kugapai puncak tertinggi Bersama tujuh warna pelangi Misalkan semua terjadi meski belum terjadi Sekarang kita renungkan sejenak cara agar semua Bisa terjadi walau ku tahu tak semudah itu Tapi coba sekali lagi bayangkan aku Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya bahkan akan aku taklukkan Tanpa cahaya di kegelapan Berbalutkan pelita hatimu Di aku di aku dan kamu Pastikan kau melihat aku Saat kugapai puncak tertinggi Bersama tujuh warna pelangi
Betapa Besar Cinta yang Kutanamkan Padamu
Saya ndak pernah tahu lagi Tak Segampang Itu milik Anggir Marito ini sebelum dibawakan oleh Salma dalam ajang Indonesian Idol beberapa waktu yang lalu. Jadi bisa dibilang saya invested dengan lagu ini bukan karena Anggi (yang juga lulusan Idol di angkatan sebelumnya), melainkan karena Salma luar biasa gak ngotak membawakan lagu ini. Bukan sekedar eats the CD, tapi menginterpertasikan ulang lagu ini dengan luar biasa indah.
Penampilan Salma membawakan lagi ini benar-benar puncak kesempurnaan teknik olah vokal dan penghayatan penampilan. Gak salah saya yang tidak pernah mengikuti ajang ini jadi bela-belain mengikuti karena ya memang kontestan (yang per Senin kemarin sudah resmi menjadi pemenang musim 12) membuat saya invested.
Jauh banget sih kualitas Salma ini sebagai penyanyi. Gak cuma teknik. Ya kalau teknik ada beberapa nama yang mungkin serupa levelnya. Bedanya Salma punya groove dan penghayatan yang luar biasa unik. Gampangnya, semua lagu yang ia bawakan akan menjadi miliknya karena selipan-selipan signature move yang ia kuasai. Saya ndak akan teknikal membahas, tapi tebal-tipis, phrasing, dan sustainnya Salma itu one of a kind. Kalau soal stabil dan pitch perfect kayaknya gak usah dibahas. Gak salah Ahmad Dhani sampai kepincut.
Dengerin sendiri aja deh:
Setelah berminggu-minggu menyetel video ini on repeat, dan menyanyikannya di berbagai kesempatan, akhinya fase bulan madu dengan penampilan Salma ini berakhir. Tapi ternyata berakhirnya fase bulan madu dengan penampilan Salma membawakan lagu ini tidak membuat invested dengan lagunya berakhir. Justru saya mulai mau mendengarkan versi aslinya.
Saat mendengar versi asli ini kemudian saya menyadari bahwa lagu ini well-written. Ada faktor kepenulisan yang selama ini luput dari pandangan saya karena sudah kadung invested dengan pembawaan dan penampilan Salma. Dibalik penampilan Salma, memang ada lagu yang bagus, baik dari sisi aransemen, tapi terutama lagi di sisi kepenulisan.
Waktu demi waktu Hari demi hari Sadar ku t'lah sendiri Kau t'lah pergi jauh Tinggalkan diriku Ternyata ku rindu Senyuman yang s'lalu membungkus hati yang terluka Di depan mereka Tuhan masih pantaskah ku ātuk bersamanya Karna hati ini inginkannya Tak segampang itu ku mencari penggantimu Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu cinta Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu Mengapa kau memilih untuk berpisah Terlalu besar kutaruh harapan pada dirimu Itu alasanku lama tanpa dirimu oh Mereka yang bilang ku akan dapat lebih darimu Tak mungkin Semua itu tak mudah oh Ku mencari penggantimu Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu,Ā cinta Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu Mengapa kau memilih untuk berpisah Ku mencari penggantimu ho Sosok seperti dirimu cinta Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu Mengapa kau memilih untuk berpisah Kau memilih untuk berpisah
Ada part yang menurut saya jadi hook factor:
Pertama bagian bridge
Terlalu besar kutaruh harapan pada dirimu Itu alasanku lama tanpa dirimu oh Mereka yang bilang ku akan dapat lebih darimu Tak mungkin, semua itu tak mudah oh
Part āitu alasanku, lama tanpa dirimuā manis betul. Mengcapture kondisi yang ditimbulkan dari heartbreak. Gak semua orang memang mau berlama-lama sendirian pasca patah hati. Tapi yang patah hatinya sebegitunya (karena harapannya kegedean) emang cenderung berlama-lama sendirian. Hal ini juga ditangkap dalam MV versi asli oleh Anggi.
āMereka yang bilang ku akan dapat lebih darimuā adalah kebohongan lain yang sering didapatkan oleh para penderita patah hati. Seakan-akan hal itu mudah: tak mungkin, semua itu tak mudah.
Tapi menurut diskusi saya dan Alsa, yang paling kurang ajar itu adalah bagian:
Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu Mengapa kau memilih untuk berpisah
versi translasi: lo tau anjir gue segimana ke lo, pakai effort (makanya frasa nya adalah ditanamkan, bukan sekedar jatuh cinta).Ā
Kemudian ditekankanĀ āKau tahu betapa besarā alias bukan gak nyampe itu perasaan karena toh yang diberikan perasaan tahu. Tapi ya tetap aja: Memilih untuk berpisah.
Kata Alsa frasa yang kutanamkan padamu itu menggambarkan effort. Gak sekedar naksir dalam pandangan pertama. Tapi ada proses juga di dalamnya. di MV pun ditunjukannay begitu. Bukan hubungan yang singkat, tapi udah matured enough dan melewati banyak hal, tapi akhirnya kandas. Sialnya, kandas itu gak segampang itu menghapuskan sosok yang pergi.
Di MV ditunjukan juga akhirnya bahwa bekas yang nyisa ini akhirnya nyusahin dan melukai orang-orang lain di kehidupan berikutnya. Susaaaaah banget menghapus jejak-jejak penuh arti itu, simply karena orang baru itu bukan orang yang pergi.
Tak segampang itu, kumencari penggantimu ~~
Mon 22 May 10.38
Begini rasanya dikejar-kejar sama editor wkwkw. Sebenarnya gak dikejar-kejar amat sih. Tapi karena punya tanggungan dan deadline yang jelas, selama durasi tersebut pundak ini rasanya berat betul buset. Anxious. Tapi ya gak dikerjain juga. Pas sudah mepet-mepet waktu yang ditentukan, baru deh dikerjain.
Ternyata ini rasanya menulis dengan penuh tanggungjawab, tidak sekenanya dan semaunya saja pas kapan ingat saja atau pas butuh. Meski sama-sama menulis, ternyata ini adalah dua dunia yang berbeda. Mungkin ada versi menulis lain yang saya belum rasakan sampai sekarang ya? Bisa jadi.
Apakah jadi kapok? Engga juga sih. Tapi kalau misalnya deadlinenya lebih ketat dari ini, butuh beneran mencari cara dan pendekatan lain untuk melaksanakan tulis-menulis ini. Rutinitasnya udah berbeda sama sekali.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Sempat percaya banget sama ini wkwkwk. Apalagi kalau baca tulisanĀ āDate a girls who read, or better, date a girl who writesā.
Kayaknya dulu kalau bisa berbalas-balas kata, saling berkirim surat (atau email) itu adalah puncak paripurna dari hubungan dua anak manusia. Bahwa jika saling jatuh cinta dengan yang sama-sama menulis, maka bahasa cintanya akan sama. Bahwa jika berbagi hidup dengan yang butuh menulis di dalam hidupnya akan ditulisi banyak hal menyenangkan pula.
Nyatanya menulis ndak pernah jadi bumbu hubungan yang dibutuhkan. Menulis jelas adalah bumbu kehidupan yang dibutuhkan untuk tumbuh, apalagi untuk jadi bijak. Menggantungkan kewarasan sehari-hari dengan menulis memang akhirnya membekali diri dengan banyak hal, termasuk clarity dengan diri sendiri.
Tapi ternyata penulis tidak selalu butuh penulis lainnya. Bahkan penulis tidak perlu juga hidup dengan avid reader. Dunia tidak biner seperti 1 dan 0, atau hitam dan putih. Penulis ternyata cuma satu dimensi dari berbagai dimensi diri saya lainnya yang begitu kompleks, sehingga akhirnya hidup bersama seseorang yang bahkan tidak repot-repot menuliskan sesuatu untuk caption Instagramnya juga tetap menjadi hal baik dalam hidup.
Pada akhirnya kehidupan tulis-menulis saya ini ya hanya menjadi milik saya seorang diri. Tapi dampak dari menulisnya Alvaryan untuk dirinya sendiri di usia 20an akhirnya ini membahwa manfaat lain ke berbagai aspek hidupnya. Selain membekali diri saya untuk mencari cuan, juga ya untuk menjadi bekal terang-benderang soal perbedaan apa yang ingin, dan apa yang butuh.
Menulis bisa bebas menceritakan soal apa yang ingin sehingga sudah puas duluan. Jadi bisa lebih membumi ketika kehidupan sehari-hari yang menyisakan ruang untuk yang benar-benar dibutuhkan saja.
Juga pada akhirnya saya belajar, ada banyak cara manusia menulisi hidupn.
I just Realize I had a Depression
Setengah menulis saya baru menyadari bahwa ini adalah topik yang sensitif dan sangat personal jadi rasanya kurang pas untuk menuliskannya di sini. Ada medium lain yang rasanya lebih pas untuk menumpahkan kegelisahan (dan juga ketakutan tentang hal ini).
Yang bisa saya sampaikan sekarang soal ini adalah: I did a good job untuk keluar dari fase tersebut. Beneran waktu itu tidak disadari bahwa saya (sepertinya) mengalami fase depresif.
Memang jadi lebih mudah untuk mengetahui tempat busuk ketika sudah berada di tempat yang lebih wangi. Memang ada mekanisme tubuh manusia yang memaksa manusia untuk beradaptasi.Ā āThis is fineā seperti kata meme anjing terbakar di dalam bar.
Intinya begitu.Ā
anu..
Form me, Kwon Jinah's song, "The End," is a masterpiece. It captures the essence of heartbreak and the struggles of moving on from a broken relationship. With its soulful lyrics and haunting melody, this song has become a source of admiration and inspiration for music lovers all around the world.
This is a song about the pain of letting go of someone you once loved deeply. The lyrics are raw and honest, describing the heartache and emptiness that come with the end of a relationship. From the very first verse, Kwon Jinah sets the tone for the song, singing, "I can't believe this is happening. I thought we were forever, but now we're just history."
The chorus is particularly powerful, as Kwon Jinah's voice soars over a simple piano melody. She sings, "It's the end of the world. It's the end of you and me. How can I let you go?"Ā
This refrain captures the feeling of desperation that often accompanies a breakup, as well as the sense of disbelief that comes with realizing that the person you love is no longer in your life.
What makes "The End" truly remarkable, however, is the way that Kwon Jinah infuses the song with hope and resilience. Despite the pain that she describes in the lyrics, there is a sense of strength and determination in her voice that is both inspiring and uplifting.
In the bridge of the song, she sings, "I'll find my way. I'll learn to breathe again." This line represents a turning point in the song, as Kwon Jinah begins to move forward and let go of the past.
You should listen to this song wholeheartedly as it is a stunning example of the power of music to express complex emotions and connect with listeners on a deep level. Through her soulful voice and poignant lyrics, Kwon Jinah captures the essence of heartbreak and the struggle to move on, while also offering a message of hope and resilience.
In addition to its emotional resonance, The End is also a masterful work of music composition. The sparse instrumentation - mainly consisting of a simple piano melody and Kwon Jinah's vocals - creates a haunting and melancholic atmosphere that perfectly matches the song's theme. The song's arrangement is also quite restrained, with no unnecessary flourishes or embellishments that could detract from the raw emotion of the lyrics.
Her voice is both delicate and powerful, conveying a range of emotions with subtlety and nuance. From the pain and heartache of the verses to the soaring hope of the chorus, Kwon Jinah's voice captures every facet of the song's emotional landscape. It is a cliche topic that can be shared universally and nearly everyone can relate to, but and Kwon Jinah's song captures the essence of this emotion in a way that is both personal and relatable. This universality has made this song become an anthem for anyone who has ever suffered through a breakup or experienced the pain of lost love.
You may have/had a broken heart experience, and this is the song for you.
Just let me wave to you, not wave goodbye, let me stay by your side cause it's good enough, yea, it's good enough for me ~~~ Don't let me go back to darkness of blue, as long as I'm with you I want nothing more, nothing more, nothing more. Cause it's good enough, good enough, good enough

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Ramadan Writing Challenge, the Ultimate Recap wkwk
Ternyata keseharian saya di bulan Ramadan ini tidak lagi selowong tahun-tahun sebelumnya. Kerasa banget gak banyak slot waktu untuk berhal-hal seperti menulis challenge ini salah satunya. Di satu sisi memang ini semacam kemunduran dari sisi kepenulisan. Tapi di sisi lain saya bisa dengan gembira pula menyatakan bahwa keseharian saya diisi dengan cara produktif lainnya. Selain memang banyak kerjaan, saya juga banyak menghabiskan waktu dengan keluarga, berolahraga, dan ya tentu saja beribadah.
Challenge ini tetap saya selesaikan sebagai sebuah upaya untukĀ āmenyelesaikanā atau closing sesuatu.
17. Write a reflection on the value of mindfulness during Ramadan.
Gak enteng ngomongin atau bergibah sih. Puasa ini kan secara filosofis bukan ibadah yang bisa diobservasi ya. Kalau sekedar makan dan minum sih gampang menyembunyikannya. Tapi kalau menjaga pikiran dan lisan? nah itu tuh tantangan terbesar.
18. Share your experience of breaking your fast with a stranger and the lessons learned from the encounter.
Bisa dibilang hampir gak pernah euy. Makan sama teman-teman aja bisa dibilang jarang, apalagi sama stranger? Buat saya berbuka puasa itu lumayan sakral. Jadi saya ndak bisa tuh berbuka disambil-sambil. Antara pulang segera sebelum waktunya berbuka, atau ya nunggu berbuka dulu baru pulang. Yang penting bukanya proper. Mungkin ada unsur festive di dalamnya, tapi ya masing-masing orang berhak untuk menggunakan caranya masing-masing bukan?
19. Describe the experience of fasting during a pandemic and the changes it has brought to Ramadan.
Menurut w ini paling gak sehat sih wkwkw. Terutama tahun 2020. Buset itu seburuk-buruknya metabolisme. Udahlah gak keluar rumah, gak gerak, gak kena matahari, tapi makan-minum gak karu-karuan. Sampai sekarang w masih harus berjuang mengurangi berat badan yang bertambah karena periode itu. Padahal di tahun 2019 berat badan w menuju ideal karena tiap hari jalan kaki dari dan ke stasiun KRL. Emang sulit sih maintain good diet dan good habit di waktu itu. Puasa bahkan tidak diamalkan dengan baik kala itu wkwkw.
20. Write about your experience fasting and what it means to you.
Literally ajang mengelola diri dengan baik, dengan harapan di periode berikutnya kebiasaan tersebut terbawa, Bagi saya pribadi: tidur cukup dan olahraga
21. Discuss the health benefits of fasting and how it affects your body.
Mungkin bukan puasa nya per-se ya, tapi kebiasaan yang dibangun di sekitarnya untuk menunjang kualitas puasa. Menjaga tidur, olahraga, dan juga diet yang masuk ke tubuh benar-benar membawa banyak benefit. Badan sudah tidak berat lagi.
22. Write a reflection on how fasting impacts your spiritual life.
Kayaknya ini udah ada ya?
23. Create a recipe for a delicious iftar meal.
Personally menu iftar terbaik adalah kolak candil/biji salak, lalu pacar cina. Kayaknya gak ada bentuk lain yang seenak kedua hal tersebut. Selain manis menyegarkan, juga teksturnya yang bikin pengalaman makannya jadi memorable.
24. Share your thoughts on how to maintain good habits after Ramadan.
Bismillah banget ni. W ada beberapa good habits yang pengen w jaga setelah Ramadan. Maju mundur w pengen jelasin, tapi sepertinya mending gak usah dijelasin biar gak ngejinx. Tapi secara kualitas memang Bulan Puasa yang ini salah satu yang berkualitas (dalam standar w yg rendah ini ya)
25. Write about the challenges of fasting and how to overcome them.
Kalau ada kerjaan mikir tuh, ya Allah sulit bener. Kalau di luar bulan puasa, cara melawannya dengan ngopi. Lah kalau puasa gimana cara ngopinya?
26. Write a letter to yourself, reflecting on your spiritual growth during Ramadan.
You did good, but you can do bettah!
27. Write a reflection on how Ramadan has impacted your relationship with Allah.
:)
28. Discuss the importance of patience and perseverance during Ramadan.
Ada jokes-jokes kecil soalĀ āini masih lama ya? Buka jam berapa sih? kok ini panas banget ya cuaca?ā yang terus-terusan bisa diredam karena kesabaran dan perseverance itu sih. Meang jadi ujian yang meningkatkan deajat.
29. Write a story about a person who overcomes a personal challenge during Ramadan.
Credit untuk para ibu gak sih? Selain tentu saja Ibu w yang luar biasa tangguh menyeimbangkan ibadah dan upaya mengayom keluarga, juga para ibu-ibu lain di kehidupan w yang banyak kelihatan struggle dan juga upayanya untuk menyeimbangkan. Suami dan anak-anak baru bangun jam 4, ibu sudah harus bangun dari jam 2. Ibu-ibu di kantor w juga berbagi sentimen yang sama. Luar biasanya, ibu-ibu juga yang paling getol untuk terus meningkatkan kualitas berpuasa.
30. Write a reflection on the blessings of Ramadan and how they inspire gratitude
Dengan segala kemudahan dan kenikmatan w berpuasa di bulan ini, nikmat mana lagi yang mau didustakan?
--
Sekian Ramadan Writing Challenge tahun ini. Sebagai sebuah kompensasi, kayaknya perlu writing challenge lain yah di bulan-bulan berikutnya? Selamat berkumpul dan bersilaturahmi bersama keluarga, mohon maaf lahir dan batin!!
Rekap Ramadan Writing Challenge Kedua
Karena sibuk dan banyak agenda lainnya, tapi tetap mau menyelesaikan challenge ini, maka lagi-lagi tulisannya direkap ya supaya tetap terlaksana. Semoga tidak mengurangi esensinya, meski secara effort jadi berkurang sekali.
10. Share your favorite Ramadan memory from childhood.
Apa ya? Satu memori yang melekat banget adalah duit gepokan dua ribuan sebagai apresiasi atau benefit ketika puasanya full. Di tahun pertama aturan ini dilaksanakan, saya dan adik saya dapat 1 gepok yang isinya seratus ribu jika berhasil menyelesaikan puasa full 30 hari. Di tahun berikutnya mekanismenya diganti, tiap menyelesaikan sehari, langsung dapat 2 ribu rupiah. Tapi belakangan saya menyadari, kalau begitu rugi dong, cuma dapat 60 ribu? Akhirnya pada tahun berikutnya kembali jadi 100rb di akhir bulan puasa.
Mekanisme ini hanya berlangsung selama empat tahun saat saya dan keluarga saya tinggal di Jakarta. Waktu itu kedua orangtua saya sedang lanjut sekolah lagi. Setelah kami kembali lagi ke Padang, kebiasaan itu sudah tidak berlangsung lagi. Suasana berpuasa di Padang dan Jakarta sama sekali berbeda, dengan segala kerumitan dan hal baru. Belum lagi usia saya juga semakin besar. Jadi ya sudah. Tidak ada lagi duit apresiasi lebaran hahaha.
11. Describe the experience of attending an iftar party and the food served there.
Sejujurnya saya bukan orang yang suka melakukan iftar party. Kalau pun punya kenangan bersama-sama teman untuk buka bareng tak lebih karena kebetulan. Misalnya dulu di kampus, kami memutuskan untuk sama-sama tidak pulang dulu dan berbuka di sekre himpunan, atau di ruangan lab. Ya ada satu dua kami pergi ke BEC atau mall lain untuk berbuka, tapi itu juga karena setelahnya mauĀ ada kegiatan, entah menonton atau buka laptop di Upnormal atau cafe lainnya.
Bisa dibilang iftar party bukan sebuah hal yang saya simpan baik-baik dalam memori saya. Mungkin bagi orang-orang yang merantau ke negara yang mayoritas agamanya bukan Islam, iftar party adalah sebuah sarana silaturahmi dan pelepas rindu. Punya orang-orang yang sama-sama berpuasa sebagai minoritas bisa memberikan kekuatan tersendiri. Tapi buat saya yang seumur-umur masih di negara muslim, berbuka paling enak ya di rumah dengan keluarga.
Atau ya sendirian saja di kamar kosan atau dimana kek. Buat saya mending buka sendiri saja. Bersama-samanya itu melalahkan. Maklum, introvert.
12. What are some of the common misconceptions about fasting in Ramadan and how can they be corrected?
Aduh rada teologis nih, wkwkw. Apa ya? Menurut saya yang paling mendasar adalah soal pantangan dan sunah-sunah apa saja yang harus dilakukan selama bulan puasa. Misalnya menjaga omongan atau pikiran. Saat ini puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus. Memang susah sih dan harus super-duper mindful untuk menjaga pikiran dan juga mulut. Menjaga diri untuk tidak gibah selama bulan puasa ini luar biasa sulit juga ternyata hahah. Jadi mungkin itu yah?
13. Share tips on how to stay healthy and energized during Ramadan.
Banyak tips, tapi yang ingin saya highlight: saat sahur makan yang kaya serat seperti roti gandum dengan porsi secukupnya. Kemudian jelang berbuka, saat energi sudah tinggal sedikit dan cadangan energi hanya lemak, lakukan olahraga. Yang disarankan sih weight training karena bisa membakar banyak kalori dan menyasar kantung lemak tubuh. Kalau bisa dilaksanakan jelang-jelang berbuka. Benar atau tidak mungkin memang harus dirasakan dan dilaksanakan sendiri. Tapi saya merasa olahraga di sore hari menjelang berbuka itu really works, sih.
14. Describe the atmosphere of a typical day in a Muslim-majority country during Ramadan.
Mungkin tidak country kali ya? bagaimana kalau diganti dengan region aja? atau spesifik kotanya?
Saya paling suka berpuasa di Bandung. Iklimnya mendukung untuk berpuasa, tidak panas. Saat berbuka puasa lumayan festive, tapi kemudian orang tetap pergi ke masjid untuk salat tarawih. Berbeda dengan Jakarta yang kemana-mana jauh dan juga macet, akhirnya kefestive-an saat berbuka itu jarang sekali dilakukan dengan ibadah salat Tarawih. Ya meski sunnah sih yah. Kalau di Padang, karena saya pulang hanya saat jelang lebaran, jadinya yang terasa relevan itu ya hanya festive mudiknya saja. Tapi daily struggle yang dihadapi kelas pekerja saat berpuasa itu tidak sebegitu kantara.
15. Write about the significance of Laylatul Qadr and how to make the most of this night.
sepertinya saya ndak cukup layak atau pantas membahas ini. Daripada saya ngarang, mending saya tidak membahasnya saja ya? Tapi saya lumayan penasaran kenapa orang-orang menggunakan kataĀ āmenemukanā sebagai padanan terhadap malam Laylatur Qadar? katanya ada yangĀ ādilihatā atauĀ ādirasakanā saat menemukan malam tersebut.
16. Share your experience of fasting while traveling and the challenges it presents.
Hmm, yang paling memorable kayaknya berbuka di titik 0 IKN, deh. Waktu itu titik 0 IKN masih sebatas titik aja, belum ada apa-apa. Jadinya pas ketemu yang jualan martabak telor wuih rasanya mantab betul. Setelah itu lanjut berbuka di rumah Bupati PPU nya, ada acara apa gitu. Tapi anak-anak ayam ini hanya menunggu di luaran saja makan nasi kotak. Setelah itu balik lagi ke Balikpapan, tidak lupa drive trhu mcd untuk sahur karena tidak mungkin mata ini sanggup bangun saat sahur. Paling ga jelas deh itu berbuka wkwkw.