Meeting Table
Sebuah cerita pendek. Fiksi. Tak lebih. Tak kurang. Sekadarnya.
***
"Kenapa dia selalu di meeting table ini?" gue bergumam dalam hati.
Menghitung hari, sudah kurang lebih 2 minggu, gue bekerja secara remote di meeting table (re: work from cafe) kedai kopi waralaba yang terletak di lobby rumah sakit tempat nyokap gue dirawat. Juga sudah 14 hari, gue tidak pernah membayangkan seorang nyokap terbaring, gak seaktif seperti sebelum dirawat yang selalu rutin olahraga bersama gue.
Rutinitas inilah yang membuat gue sering bertemu dengan perempuan ini. Namanya Nare. Rambutnya panjang berponi, kulitnya putih, sedikit kekuningan. Berkacamata. Postur tubuhnya standar perempuan Indonesia dan ia terlihat bugar meski tidak kekar. Terkadang jas putih dokternya dia gunakan, terkadang dilipat dan ditaruh di kursi sebelah tempat duduknya. Ia terlihat seperti wanita modern, Airpods selalu menempel di kupingnya, tak lupa di sebelah laptopnya ditemani juga dengan iPad untuk mencatat.
Gue selalu heran dengan pesanan andalannya yang hampir gak pernah berubah. Asian Dolce Latte, shot kopinya dan pump saus dolce-nya selalu dikurangi satu, dan di shake. Asian Dolce Latte.. di shake?! Formula macam apa ini. Bagaimana saus dolce bisa bercampur dengan paripurna kalau di shake?
Ah, setidaknya gue berterima kasih dengan kebijakan kedai kopi waralaba ini yang selalu mencantumkan nama customer di cup-nya, dimana lagi gue bisa tahu namanya. Selain disitu, sulit rasanya mengetahui namanya, gak akan mungkin juga gue bertanya ke barista, atau ke dokter yang lain.
Gue tahu bahwa Nare sadar gue beberapa kali memperhatikan dia saat bekerja di meeting table tempat kita duduk. Bukan karena genit, tapi memang sudah menjadi kebiasaan gue untuk mengobservasi orang yang gue anggap menarik, terlepas dari gender mereka. Entah yang mana yang duluan - dia membuat kontak mata intens di malam itu. Alih-alih membalas dengan senyum layaknya dokter yang ramah, ia merespon dingin dengan tatapan yang seolah berkata, “Sorry, gak akan ada ketertarikan buat gue memulai obrolan dengan lo meskipun kita berada di meja yang sama terus-menerus".
Kurang lebih satu jam berlalu, gue mendapatkan momen yang tepat untuk memulai obrolan dengannya. Di saat intensitas laptopannya terlihat lebih santai, ia terlihat berjoget kecil menikmati lagu yang ia dengarkan dengan Airpodsnya.
Gue mencoba mengalihkan pandangannya dengan melambaikan tangan menyapa, "Eh, gue beberapa kali notice kalau lo sering banget di sini, lagi bikin report ya?"
Nare menjawab, "Haha nggak, lagi lanjutin application beasiswa gue nih. Gue juga notice hal yang sama btw, lo sendiri juga ngapain sering di sini?"
Satu waktu gue sempat berpikir, Nare dengan kehidupannya yang gue rasa sudah lebih dari cukup, baik dari sisi finansial dan sosial. Masih rela abai terhadap rasa nyamannya dengan melanjutkan kehidupannya laptopan di malam hari, setelah bekerja atau di tengah-tengah ia bekerja.
Mencoba mengejar sesuatu lagi terhadap kehidupannya saat ini yang notabenenya sudah jauh lebih baik daripada orang-orang kebanyakan. Buat apa lagi?
Sama halnya dengan gue, mau sampai gue dengan kerjaan sekarang ini, menghasilkan duit yang sedikit lebih banyak daripada kebanyakan orang. Selalu berkutat dengan kehidupan seperti ini, laptopan pagi hingga malam sembari menyeruput kopi 2 cup, kalau lagi hectic, 3. Mengerjakan deck presentasi untuk esok hari, atau mengolah data di excel yang setiap saat selalu not responding. Buat apa lagi?
***
Malam yang berbeda, tapi dengan meeting table yang sama. Kali ini gue dan Nare tidak sedang laptopan bersamaan. Tapi, kita berada di mode mengobrol berdua.
Jawaban dari kontemplasi gue beberapa saat yang lalu, kurang lebih sama dengan Nare. Buat apa? Ya prosperity. Terkesan cliché, tapi sulit rasanya untuk mencari indikator lain dalam kebahagiaan selain.. prosperity.
Hidup tidak akan mencapai kebahagiaan kalau tidak memiliki prosperity atau kesejahteraan. Kesejahteraan juga gak semata-mata gak dinilai dari angka, berupa income ataupun sejenisnya, tapi semua bermula dari angka.
Kesejahteraan juga gak sesempit itu, tidak dilihat dari seberapa income yang orang itu punya. Tapi ada faktor lain setidaknya menurut gue bahwa seseorang itu bisa dibilang sejahtera, yaitu emotional intelligence and environment.
Orang yang memiliki lingkungan yang bagus, bisa berkembang dan berproses dengan baik di lingkungan tersebut berkat beberapa faktor dukungan, biasanya akan otomatis memiliki kecerdasan emosional yang bagus juga.
Kemudian, kenapa semua berawal dari angka? Karena environment yang baik dan memiliki lingkungan tumbuh untuk mencapai emotional intelligence yang baik pula somehow membutuhkan itu.
Oke, beberapa bulan gue kenal dengan Nare, with some unfortunate series of their families, dia mencoba mengejar environment yang dia mau di masa depan. Salah satu caranya dengan mengejar pendidikan.
"Kenapa kamu ngejar ini banget?" Gue tiba-tiba memotong keheningan.
"Posisiku di sini stuck, lingkunganku juga stuck, bahkan income ku juga stuck. I feel trapped and I think the only way to get back to square one is through the education." Nare merespon pertanyaan gue.
"Tapi apa relevansinya? Kenapa gak pindah aja dan mencari lingkungan baru, gak perlu melalui jalur yang ini kan? Aku punya lingkungan yang gak mengejar dan mereka seperti mencukupi kesejahteraannya." Gue membalas.
"Iya, aku ngerti maksud kamu, finding prosperity doesn't have to be this way, kan? It's just.. the way of live shouldn't be like this. Kamu gak capek ngejar ini terus?" Gue merespon.
"It may take sometime to process kalau kamu gak S2, kamu bisa cari tempat lain yang mendukung ini? Atau semua konstruksi sosial emang mengharuskan kamu melanjutkan S2 supaya prosperity yang kamu incar itu bisa tergapai?" Gue menambahkan
"Iya, tapi gimana? Aku pun juga gak begitu nyaman dengan proses perjalanan ini. Kondisi ku sudah cukup baik, tapi aku rasa kurang cukup untuk jangka panjang. Kemampuan sosial dan finansialku secara jangka panjang tidak memadai. Semua rasanya terhenti, ya begini-begini aja; living on my own mediocrity." Nare bergumam.
"..."
"Dan aku gaakan mau, jikalau aku punya di masa depan, penerusku nanti living this way too.. of being overly stupid to have the urgency to grind on life."
"Maksudnya?", Gue bergumam.
"We should be living at a level where mediocrity is not mediocrity if we have already settled. Kasarnya, ya gak usah ngoyoh-ngoyoh dalam hidup, nikmatin ajalah. Tapi untuk berada di level ini kan harus punya safety net.", Nare menghela nafas.
"Safety net gaakan kebentuk kalau gaada prosperity. Kalau orangtua-mu medioker, safety net macam apa yang bakal kamu punya. As a future parents, you need to grind hard to be on that position"
"Jadi kalau udah di posisi itu, anak-anakku nanti gausah ngoyoh-ngoyoh. Carpe diem, lah!"
Setelah menyeruput kopinya, Nare melanjutkan omongannya, "Aku tau, rasanya capek. It looks like we're just surviving, not living. And I am aware of that".
***
Beberapa bulan sudah gue lewati, beberapa project sudah gue selesaikan. Kebiasaan baru di perusahaan baru gue ini membuat gue harus mondar-mandir airport. Commute dari pulau ke pulau, meskipun kalau di rata-rata hanya seringnya ke daerah Jawa Timur dan Bali saja.
Satu waktu, gue butuh laptopan di daerah Semanggi, kedai kopi waralaba berapron hijaulah top-of-mind gue waktu itu. Gue suka tempat ini, meeting tablenya besar dan panjang, toiletnya cuma 5 langkah buat gue yang selalu beser. Udaranya juga gak terlalu dingin dibanding cabang yang lain. Paling penting, ini reachable dengan MRT.
Sembari menyeruput kopi, gue menghitung hari. Enam bulan yang lalu, nyokap gue dirawat di sini.
Tepat 6 bulan yang lalu juga, gue duduk di kedai kopi ini, persisnya di meeting table tempat gue biasa bekerja remote sembari menunggu nyokap di rumah sakit.
Ini kali ketiga gue berkunjung melanjutkan rutinitas gue laptopan di malam hari, bosan dengan kedai kopi dekat rumah, mencoba suasana baru lagi dengan mampir kembali ke rumah sakit ini. Sesekali menatap pemandangan luar kedai, gak buruk-buruk amat: Simpang Susun Semanggi.
Sudah kali ketiga pula gue mencoba mengamati sekitar di tengah-tengah aktivitas gue laptopan, apakah ada seseorang duduk di meeting table dengan Asian Dolce Latte andalannya.
















