Dear my recent favorite person...
.
Aku cuma mau bilang bahwa aku khawatir.
Aku khawatir karena kamu sakit dan mau mastiin ada yang nanya hal-hal sederhana ke kamu, kayak
"Udah makan?"
"Masih kuat?"
"Kucing-kucingmu gimana?"
.
Aku tahu kamu bukan anak kecil dan udah biasa ngurus diri sendiri.
Tapi aku juga tahu rasanya tinggal jauh dari keluarga.
Dan aku cuma ga mau kamu merasa sendirian.
Terlebih aku pernah merasa sangat kehilangan saat Herri meninggal.
Sampai sekarang masih ada bagian kecil dalam diriku yang terus bertanya, "Kalau waktu itu aku tahu lebih cepat, apa aku bisa sempat nemuin dia?"
Aku menyesal seumur hidup.
Mungkin karena itu aku jadi begini.
Kalau orang yang kusayang bilang sedang sakit, aku langsung mau mastiin dia baik-baik aja.
.
Terima kasih ya...
Dua bulan ini kamu sudah jadi teman yang baik banget untuk aku yang lagi dalam depressive era ini.
Kamu ngajak aku makan, nongkrong sampai tengah malam, dengerin cerita-ceritaku yang acak, bantu ngebedah tulisanku, dan bagian yang paling kusuka adalah cerita-ceritamu soal pengalaman hidupmu, baking, gym, dan kucing.
Kamu bikin kota ini kembali jadi tempat yang selalu mau aku tuju, terutama selama kamu ada di dalamnya.
.
Aku ga tahu nanti setelah aku lulus, kita masih akan seakrab ini atau nggak.
Aku juga ga tahu hidup akan membawa kita ke mana.
Yang aku tahu, aku bersyukur kita pernah ketemu.
Dan aku berharap, apa pun yang sedang diperangi tubuhmu sekarang, semoga segera berlalu.
Karena dunia ini sudah cukup berat.
Akan menyenangkan kalau salah satu orang paling lembut yang pernah kutemui bisa sehat lagi, ketawa lagi, dan cerita receh lagi.
.
Istirahat yang bener ya.
Aku di sini.
Ga buru-buru dan ga akan marah kalau kamu lama bales.
Aku cuma akan senang kalau suatu hari nanti chat dari kamu masuk lagi, "Udah pernah ke sini belum?" đ¤












