Lirik yang ke-2 buat lagu pop bersama yang selalu, @hanamilktea. Alhamdulillah sekarang udah ada judulnya. Entah bakal jd seserius gimana atau apa. Yang jelas kami senang! segera di soundcloud.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Gue kemaren hampir nabrak kucing semalem, untung banget gue bisa ngebanting stang motor dan kagak jatoh.”
“Lah, gue malah hampir nabrak kakek-kakek kemaren, gara-gara gue nyoba nerobos lampu merah.”
Mungkin dialog di atas sudah sering terdengar di setiap tongkrongan yang selalu kita singgahi saat bercengkrama dengan para sahabat di waktu senggang. Tentu, dialogmu dan kawan-kawanmu yang lain tidak akan sama persis dengan dialog di atas. Setidaknya, ada pola yang terlihat dan pola tersebut selalu sama; membandingkan pengalaman meski hal itu tidak penting sama sekali.
Kegemaran untuk membandingkan sesuatu seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, atau merokok setelah makan, atau mungkin membaca doa sebelum tidur. Agak ganjil rasanya bila sesuatu tidak dapat dibandingkan satu sama lain. Bahkan, sejak orok sekalipun, orang tua kita mungkin telah membandingkan kita sendiri dengan orok tetangga, kerabat, atau bahkan orok selebriti. Mungkin kita semua terlahir untuk mengikuti mata kuliah sastra bandingan.
Masalahnya, kegiatan ini justru merambat ke hal-hal yang tidak penting. Misal, salah seorang kenalan kita mendapatkan sebuah musibah, ia berkeluh kesah mengenai hal itu. Tanggapan segelintir orang akan bersimpati; segelintir yang lain membandingkannya dengan musibahnya sendiri yang ia alami. Walah, merepotkan, memang. Kita datang untuk mengempaskan segala masalah yang sedang dialami dan berharap kawan lain dapat memberi solusi, kita malah mendapat ajakan berlomba dalam kejuaraan siapa yang paling menderita.
Ada pola pikir yang terlihat dalam ukuran perbandingan ini; kompetisi. Ini juga bukanlah sesuatu hal yang asing di dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Beban orok yang baru lahir pun bertambah; kini ia tak hanya menghadapi perbandingan yang menjengkelkan, ia juga harus berkompetisi dengan hal-hal yang tidak penting.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dalam berkompetisi. Kan hal tersebut justru malah dapat menentukan kualitas seseorang, seberapa cerdik, seberapa kuat, dan sebarapa tangkas ia dalam menghadapi rintangan yang terjal.
Masalahnya begini: kita dihadapkan dengan isu-isu yang tidak penting. Siapa yang mau berkompetisi mengenai musibah yang dialami, atau seberapa banyak jerawat yang ada di wajah, atau lebih parah, siapa yang lebih menderita. Efeknya sangat mendalam, lebih dari trauma kecelekaan ringan yang hanya berlangsung paling lama satu minggu. Orang yang sering berkompetisi dalam hal yang tidak penting ini (membandingkan) sering terjerat insecuritas, menjadi pengidap atelophobia, atau mungkin narsistik yang menjulang ke awan.
Adalah hebat dan menakjubkan saat individu terdengar lebih dihadapan individu yang lain. Adalah menarik saat satu memiliki kedudukan yang—walaupun mengenaskan—lebih dari yang lain. Kita selalu berhadapan pada pilihan bahwa selalu ada yang lebih “baik” daripada yang lain. Kita selalu memberi makan ego kita masing-masing dengan makanan yang sekiranya dapat dimakan. Pernyataan yang tak hidup digoreng habis-habisan menjadi makanan yang rasanya hambar; tapi begitulah kita dididik. Kita tak pernah memikirkan nutrisi dan kegunaannya apa, asal perut kita kenyang dan nafsu kita keloni, kita masih merasa bahwa semuanya wajar.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tahun lalu, ketika saya kehabisan bahan bacaan atau sekadar ingin melepas penat dari lika-liku kewajiban yang tak henti-hentinya mendera keseharian saya, saya dapat menyelami dunia luar. Tanpa adanya ketakutan dan tanggung jawab moral, saya dapat membeli buku baru kapan saja, menonton pertujukan teater di mana saja, dan berselancar bersama kerumunan di antara hentakkan drum dan suara sumbang grup musik tanah air dengan riang. Sayang semuanya berubah. Di tahun ini, kebiasaan dan kewajiban direkonstruksi ulang dan melahirkan normal yang baru.
Normal yang baru dapat diinterpretasikan berbagai macam. Bagi saya, normal yang baru berarti menyerahkan dunia saya kepada algoritma. Apa maksudnya? Mengapa saya memilih menyerahkan dunia yang saya hidupi dengan sukarela kepada algoritma? Apakah saya dapat menentukan kepada siapa penyerahan dunia yang sedang saya susun? Teman-teman pembaca, dengan rendah hati saya mengajak pembaca sekalian untuk menyelami keresahan saya terhadap normal yang baru ini.
Masa Transisi
Di tahun 2020, penghuni planet bumi dihadapkan oleh satu krisis global yang sama. Untuk pertama kalinya saya merasa dunia berhenti: jalanan kosong, penerbangan dihentikan, pendapatan berkurang, dan masih banyak lagi efek samping lain dari krisis global. Kematian ruang kehidupan manusia, mengajak kita untuk bermigrasi ke dunia lain: Internet.
Internet membuka ruang hidup baru bagi manusia. Kehidupan baru lahir di layar 6 inci. Dengan kecanggihan dan kecerdasan manusia, kita dapat merekayasa kehidupan di dalamnya. Membuat struktur kehidupan baru lewat platform dan aplikasi yang telah disediakan: berniaga, belajar, berinteraksi dengan kerabat, bahkan debat kusir dan ribut-ribut tidak penting.
Sebagai bagian dari orang menghadapi krisis global, saya terpaksa harus menerapkan kebiasaan baru ini menjadi bagian dari keseharian saya. Dimulai dari kuliah, berdiskusi kelompok, pengumpulan tugas, membeli kebutuhan primer dan sekunder, menanyakan kabar, berorganisasi, semua dilakukan dengan cara daring. Ruang hidup saya yang tadinya meliputi sekitaran Jakarta-Depok-Bogor-Sukabumi, sekarang ditanggalkan ke dalam layar 6 inci beragam merk. Rutinitas itu kemudian berangsur-angsur pindah dan beradaptasi.
Lambat laun, saya menikmati perubahan aktivitas itu. Saya dapat melakukan semuanya hanya dalam satu klik atau sambil mengongkangkan kaki saya di atas meja. Segalanya telah dengan mudah dipasok oleh aplikasi dan platform yang tergeletak di mana-mana. Namun, Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Senyaman-nyamannya saya melakukan rutinitas di dalam rumah dengan mudah, lama-lama bosan juga.
Dilanda kebosanan, saya mencoba mencari kebiasaan baru atas bahan distraksi kejenuhan. Di dalam perjalanan saya menjadi aktivitas baru, saya menyadari keanehan dalam perilaku saya: saya keranjingan dunia baru dalam layar 6 inci. Tidak dimungkiri, ketergantungan saya cukup parah. Objek pertama yang saya genggam saat saya terbangun dan objek terakhir yang saya genggam sebelum tidur adalah gawai. Orientasi saya berubah. Saya digenggam oleh kehidupan asing yang daya adiktifnya sangat kuat.
Ketergantungan itu membuat saya lelah. Saya merasa seperti kerdil dalam dunia sempit yang sialnya difasilitasi oleh media yang kita gunakan. Saya muak melihat objek yang sama setiap harinya di layar ponsel. Saya muak mendengarkan lagu dengan notasi dan nada yang begitu-begitu saja. Saya muak membaca cuitan orang-orang yang bahkan tidak saya kenal mengenai topik yang itu-itu saja. Kemuakan saya itu menelurkan pertanyaan: bagaimana bisa saya disuapi konten oleh media dan berbagai macam platform yang sesuai dengan preferensi saya? Secanggih dan semutakhir apa teknologi yang kita manfaatkan setiap hari berpengaruh pada cara pandang dan perilaku kita?
Setan itu Bernama Algoritma
Subjudul yang sangat pretensius, saya akui. Namun mari saya jelaskan mengapa saya menyebutnya setan--wujud yang dianggap banyak mempengaruhi perilaku dan cara berpikir yang sangat patut kita takuti. Preferensi, kenyamanan yang kita dapatkan di internet yang membuat kita berada pada gelembung konten yang sangat sesuai dengan preferensi kita dan mengatur aliran informasi yang kita peroleh setiap harinya itu bernama Algoritma.
Secara singkat dan garis besar, algoritma dimulai dengan input dan kondisi awal, deskripsi, eksekusi, dan menghasilkan output. Analogi yang paling mudah kira-kira begini: A lapar dan kemudian ia berkunjung ke warung makan. A sangat menyukai daging ayam. Ia memesan ayam rica-rica dan melahap hingga habis. Hal tersebut terjadi beberapa kali sehingga ketika A datang ke restoran tersebut, ia tak perlu menyebutkan pesanannya karena kegiatan berulang itu telah terekam dalam memori si penjual. Kemudian, di beberapa kesempatan, si penjual menawarkan menu daging ayam lain selain rica-rica. Begitu kira-kira bagaimana algoritma bekerja. Algoritma memiliki kecerdasan artifisial, mereka mampu merekam dan menginterpretasi apa yang terjadi di sekitar mereka sehingga mereka dapat merespons kita dan membuat pilihan otomatis untuk kita.
Jürgens dan Stark menyatakan bahwa ada pengaruh terhadap informasi yang kita dapatkan melalui tiga fungsi general: (1) they algorithmically select content that is relevant for the user, while at the same time excluding other content classified as non-relevant (filtering). In this context, “relevant” always means relevant for the individual user, not for society as a whole. (2) They rank the selected content in such a way that the most relevant content for users is (supposed to be) at the top of the results list, such as a search results page, social media feed, or news recommendation app (sorting). (3) They customize content to the interests and preferences of each user (personalization). Cara kerja algoritma yang dijabarkan oleh Jürgens dan Stark memposisikan algoritma sebagai gatekeeper terhadap informasi dan konten yang kita peroleh sehingga kita terus disuapi oleh informasi yang menarik perhatian kita atau kita sukai.
Lambat laun, algoritma membuat diversitas pada isi konten dan informasi dari berbagai platform dan media berkurang. Nechustai dan Lewis berpendapat bahwa Their algorithm-based selection logics are subject to their own rules, which include both chances and risks for viewpoint diversity because they do not filter and select content according to editorial news values, but on economic guidelines and popularity. Oleh karena itu, orang-orang dan perusahan di balik pemrogram algoritma berorientasi pada profit sehingga diversitas tidak diperlukan. Mereka justru malah memberikan dan memilah konten yang paling sesuai dengan penggunanya agar kita terus berketergantungan.
Dari ketergantungan tersebut, maka lahir kebiasaan baru: konsumsi berlebihan terhadap hal yang kita sukai. Akibatnya, masing-masing dari kita mempunyai realitas baru, realitas yang telah menjadi kepingan-kepingan kecil. Melalui kepingan realitas versi diri sendiri ini, perilaku, cara berpikir, dan pemilihan keputusan kita diatur--secara tak sadar--oleh Algoritma.
Roby Muhammad, dalam pidato kebudayaannya menjelaskan sedikit banyak mengenai rekayasa algoritma. Roby Muhammad meminta kita membayangkan sedang berada di kota A yang belum pernah kita datangi dan mencari tempat makan yang enak. Kita akan buka ponsel pintar lalu mengetik di mesin pencari: Restoran enak di kota A. Lihat, betapa keputusan kita ditentukan oleh algoritma. Cara kerja ini pun berlaku untuk pembentukan opini dan perilaku kita sehari-hari.
Dengan kata lain, sedikit banyak, sadar atau tidak, kita telah menyerahkan hidup kita pada Algoritma. Rekayasa algoritma membuat ruang kehidupan internet kita menciut, mengerdil, dan menjerat kita ke dalam pilihan-pilihan yang secara otomatis disuguhkan. Layaknya setan dalam berbagai kepercayaan, algoritma mempengaruhi cara berpikir kita, perilaku kita, dan pengambilan keputusan kita lewat keserakahan kita terhadap informasi dan konten yang kita sukai. Setan algoritma menghadapkan kita kepada tantangan baru: hal-hal yang kita sukai.