2022
"Dulu kelasku di sebelah sini."
Jariku menunjuk ke deretan jendela yang ada di sisi depan gedung.
"Kalau waktu kelas sebelas, kelasku di situ--yang bangunannya terpisah itu. Pas kelas sepuluh masih rolling class jadi nggak ada ruang kelasnya yang tetap. Eh, mau keliling dulu nggak?" Tiba-tiba sebuah ide terbersit di benakku.
Tepat setelah itu, terdengar sebuah suara dari speaker yang sepertinya diletakkan di setiap sudut. "Gerbang sekolah akan ditutup pukul sebelas TEPAT! Para murid yang akan pulang diharap segera meninggalkan gedung sekolah. Bagi yang akan melaksanakan salat Jumat di sekolah ..."
Bahuku terkulai, seiring dengan semangatku yang melesak turun. Terbayang sudah tumpukan kegiatan yang menanti untuk ditunaikan setelah ini. Tidak akan ada cukup waktu kalau aku harus berputar-putar selama--setidaknya--satu jam di sini.
"Ya udah, pulang aja deh," putusku. Adikku--yang mengantar atas permintaanku dan karenanya berprinsip 'ngikut aja'--langsung mengiyakan.
Dengan menggenggam erat map berisi ijazah dan SKHUN yang baru saja aku ambil, aku menoleh ke arah sekolahku untuk terakhir kalinya. Dalam sekejap kepalaku dipenuhi memori masa putih abu-abuku. Kapan lagi aku bisa kembali ke sini?
Saat motor yang kami naiki melewati gerbang, aku merasakan satu ikatan putus dalam diriku. Ikatan yang selama ini menyiksaku, namun juga mati-matian kujaga.
###
Dengan ini kami kirimkan nama mahasiswa yang telah memenuhi syarat untuk dinyatakan lulus yudisium periode wisuda Maret 2022 sebagai berikut:
1. ...
2. ...
3. ...
Mataku menelusuri daftar nama yang kuterima dan mendapati namaku ada pada nomor tiga belas. Urutan terakhir. Tapi siapa peduli? Aku lulus yudisium. AKU LULUS YUDISIUM!
Anehnya, meskipun aku merasa bahagia, euforia itu seketika surut, secepat pasangnya. Air mata haru, lelah, dan lega yang aku pikir akan tumpah ternyata tidak ada. Ucapan-ucapan selamat yang mengikuti setelahnya aku tanggapi sekenanya, ditambah dengan seulas senyum supaya tetap terlihat bahwa aku menghargai.
Aku kembali merasakannya. Terputusnya satu ikatan lagi. Meninggalkanku dengan kehampaan yang berusaha aku pahami sebabnya.
###
Lalu ia datang. Perasaan yang kukenal baik, karena hampir selalu mengisi setiap hariku beberapa tahun ke belakang.
Takut.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Lulus kuliah, bangga? Memangnya mau jadi apa?"
"Kalau bukan mahasiswa, lalu apa statusmu? Pengangguran?"
"Kamu masih berpikir kalau kamu punya tempat di dunia ini?"
Iya, rasa takut yang selalu membombardirku dengan pertanyaan dan pernyataan yang memojokkan. Dan sayangnya, sejauh ini, selalu berhasil menahanku, membuatku mempertanyakan dan meragukan diriku hingga memutuskan untuk tidak bergerak.
"Aku tidak ingin berjalan maju."
"Aku tidak mau meninggalkan saat ini."
Aku mendengar teriakan putus asa dari dalam diriku. Aku melihat diriku memohon hingga bercucur air mata. Dan hatiku sakit karena tahu aku tidak bisa menyanggupi permintaanku sendiri. Aku tidak boleh menyanggupinya.
"Waktu terus bergerak ke depan, tidak peduli apapun yang kita lakukan."
"Akan lebih menyakitkan untuk terus diam daripada mengambil satu langkah maju."
Adalah pesan yang dikirimkan semesta kepadaku. Pesan untuk menguatkanku ketika ketakutan mulai menyebarkan bisanya lagi ke dalam pikiranku. Pesan yang coba kuhidupi, karena aku tahu tidak ada cara lain yang lebih benar, atau lebih baik untuk menjalani hidup.
Sambil tetap berurai air mata, aku menoleh ke belakang. Pada saat-saat yang menyenangkan. Pada saat-saat yang tidak menyenangkan. Pada saat-saat yang sudah berada di masa laluku. Aku tidak akan membuangnya, janjiku dalam hati. Tapi aku juga tak akan terus tinggal di dalamnya.
Aku menutup kotak berisi setiap kenangan dalam hidupku.
Selamat tinggal, masa kanak-kanak.
Selamat tinggal, masa remaja.
Halo, dunia orang dewasa yang menakutkan.















