Atlas Wali Songo (resume)
Bab 1
Kepulauan Nusantara zaman purbakala antara 200-300 SM dihuni oleh Ras Melanesia, diantaranya suku Jawa, Bugis, Aceh, dsb. Saat itu peradabannya sudah mengenal agama yang disebut Kapitayan. Singkatnya, agama kuno ini suatu keyakinan memuja sembahan utama “Sahyang Taya” yang bermakna tidak bisa dibayang-bayangi pancaindra manusia. Sahyang Taya bersembunyi pada sesuatu yang memiliki kata Tu-To seperti ba-Tu, Tu-mpeng,To-peng dsb. Adapun ritual khusus dengan persembahan Tu-mbal.
Pengaruh Cina, pada 1405 kunjungan Laksama Mana Chengho sewaktu di Jawa menemukan komunitas Muslim Tionghoa di Tuban, Gresik dan Surabaya dengan bukti ditempelinya piring Dinasti Ming pada Mesjid Agung Demak.
Pengaruh Champa, pada rentang 1446-1472 M para penduduk Muslim Champa mengungsi ke Nusantara ketika penaklukan Ibukota Champa di Viajaya. Pada abad 15 dan 16 M, para pedagang Champa semakin aktif di Jawa, hal ini membawa tradisi mereka kepada masyarakat di Jawa, contohnya seperti orang-orang Champa memanggil ibunya dengan sebutan “mak”
Pengaruh India-Persia, keberadaan bukti arkeolog berupa candi terkenal seperti Borobudur menunjuk pada fakta tentang terjadinya alih-teknologi bidang arsitektur dan ajaran agama India ke Nusantara.
Pengaruh Arab, tercatat pada sumber dari Dinasti Tang, keberadaan seorang pemimpin Arab yang mengepalai orang-orang Arab di pantai Sumatera Barat. Para pedagang Arab sudah lama terdapat di Nusantara, tetapi jumlahnya tetap sedikit, walaupun di antara mereka ada yang mempunyai pengaruh politik yang besar atas kehidupan pribumi.
BAB 2
Dapat dikatakan bahwa proses masuknya Islam ke Nusantara yang ditandai awal hadirnya pedagang-pedagang arab dan persia pada abad 7 terbukti mengalami kendala sampai masuk pada pertengahan abad ke 15. Pada pertengahan abad ke 15 itulah era dakwah Islam yang dipelopori tokoh-tokoh sufi yang dikenal dengan sebutan Wali Songo, para tokoh dikisahkan memiliki karomah adikodrati, Islam dengan cepat diserap ke dalam asimilasi dan sinkretisme Nusantara.
Syaikh Maulana Malik Ibrahim, beliau adalah salah seorang tokoh pertama yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Beliau menyebarkan agama sambil berdagang. Tempat pertama berlabuh di Gersik menghadap Raja Majapahit Brawijaya menyampaikan kebenaran Agama Islam. Sang Raja menyambut baik kedatangannya tetapi belum berkenan memeluk Islam. Akhirnya Maulana Ibrahim diangkat Raja Majapahit menjadi sahbandar Gresik dan diperbolehkan menyebarkan agama Islam kepada orang Jawa yang mau.
Syaikh Ibrahim Samarkandi, adalah tokoh penyebar Agama Islam di negeri Champa. Beliau datang ke Jawa dengan tujuan menghadap adiknya Raja Majapahit. Perjalanannya dalam menyebarkan Islam dilakukan sangat berhati-hati. Rombongan tinggal agak jauh dari pelabuhan utama Majapahit. Beliau merupakan ayah kandung Sunan Ampel.
BAB 3
Kemunduran Majapahit dimulai dari perang yang disebut Perang Paregreg. Tahun 1447 Raja Majapahit ke-5 dikenal sebagai Raja pertama yang menaruh perhatian besar pada perkembangan agama Islam, hal itu terjadi karena ia memiliki kawan, kerabat serta istri muslimah nya yang berasal dari Champa. Setelah Raja Sri Prabu Kertanegara wafat, Titik terang Kejayaan Majapahit yang mengenal agama islam segera runtuh dikarenakan perang saudara yang tidak lain anak dan cucu dari Sri Prabu Kertanegara.
BAB 4
Fakta sejarah mencatat Kerajaan Islam tertua di Jawa merupakan Kerajaan Lumajang , ini berbeda dengan doktrin di sekolah kita yang menyebutkan bahwa Kerajaan Islam tertua adalah Kerajaan Demak. Penulis menambahkan bahwa penilitian yang lebih intensif terhadap Situs Biting harus dilakukan untuk menguak lebih dalam keberadaan Kerajaan Lumajang tsb.
Bab 5
Konsep dakwah Islam dilakukan secara sistematis oleh para Wali Songo. Pengambilalihan Nawa Dewata yang hinduistik menjadi yang sufistik /sufisme, Wali Songo membawa perubahan yang luar biasa dalam proses dakwah Islam dibekas wilayah kekuasaan Majapahit yang sedang mengalami kemunduran dari aspek sosio-kultural-regilius. Adapun factor penting proses islamisasi yang dilakukan Wali Songo lewat pendidikan yaitu mengembangkan dukuh (pendidikan Syiwa-Buddha) menjadi pondok pesantren.
Juga pada aspek seni budaya, pertunjukan wayang yang pada masanya adalah dipenuhi cerita kemusyrikan, para Wali Songo mampu mengembangkan cerita tsb menjadi cerita yang lebih menarik sesuai dengan dakwah Islam. Kecerdasannya mampu membuat masyarakat jawa lebih mengenal cerita wayang hasil karya Wali Songo dibanding cerita Ramayana/Mahabrata yang asli.
Bab 6
Asal-usul dan Nasab Tokoh-tokoh Wali Songo dapat ditelurusi yang mayoritas memiliki Nasab sampai Nabi Muhammad SAW. Para tokoh Wali Songo tersebut ialah Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunang Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Syaikh Siti Jenar, Sunan Kudus, Sunan Muria, Raden Patah
Bab 7
Majapahit yang telah mempersatukan seluruh wilayah Nusantara dengan nilai-nilai keagungan, bahkan oleh Diogo Do Couto mencatat kesannya terhadap orang Jawa sebagai bangsa paling arogan. Saat Nusantara dipimpin oleh raja-raja yang lemah dengan memahami nilai merasa agung, justru menimbulkan pecahnya pertempuran antar keluarga untuk saling menaklukan pesaingnya.
Keberadaan Wali Songo yang menanamkan nilai keislaman ke penduduk Majapahit yang sudah terpecah-belah dalam konflik itu, ,telah berhasil dengan melihat moral yang dianut masyarakat Jawa saat ini ialah nilai kesabaran, keikhlasan, kesederhaan dan guyud rukun.



















