Hai. Rasanya lama sekali ga cuap-cuap di tumblr. Setelah kehidupan baru beberapa bulan ini sebenernya banyak hal yang ingin dituliskan. Cuma suka masih banyak mikir, ini penting ngga ya ditulis, apa ya niat nulisin ini, dan beberapa peperangan lainnya terhadap diri sendiri antara ingin menuliskan dan tidak. So, untuk tulisan ini, saya khusus memang menuliskannya untuk diri sendiri. Untuk mengapresiasi, untuk mengobati kerinduan, syukur-syukur bisa memberi manfaat bagi yang membaca (entah padahal, ada yang membaca atau tidak).
Cerita ini bermula dari meningkatnya jam terbang saya untuk memasak setelah menikah. Meski belum meningkat-meningkat banget, tapi at least signifikan lah kalo dibikin grafik. Gimana ga signifikan, dari yang dulunya ngekos sendiri, dan ga ada keinginan untuk memasak (dengan alasan takut masak kebanyakan karena ga tau siapa yang mau makan selain diri sendiri, dengan rasa masakan yang ala kadarnya yang mungkin agak kurang layak jika diberikan pada orang lain) menjadi hidup bersama sesosok emmm sesosok laki-laki bertitel suami, yang membuat saya mengharuskan diri sendiri untuk memasak demi terjaganya stabilitas ekonomi keluarga yang sehat #ceilehbahasanya.
Di sisi lain saya merasa senang, karena rumah tangga menjadi wadah tersendiri bagi saya untuk terus mengeksplor diri dalam dunia perdapuran. Ya lagi-lagi walaupun di sini saya masih dalam tahap "mau masak" ya, bukan "ahli" atau "pinter" atau "jago" memasak. Seenggaknya itu pencapaian yang baik untuk diri saya sendiri.
Saya pikir ngga mudah menjalankan peran sebagai seorang istri dan wanita karier di ibu kota. Berangkat pagi, pulang sore menjelang magrib. Belum lagi, rumah yang berantakan, piring-piring yang kotor, cucian menumpuk, dan sayuran yang ngga tahan basi karena ngga punya kulkas ππ #duhjadicurhat. Semua itu butuh waktu, tenaga, dan pemikiran lebih, dalam mengaturnya. Dan saya senang jika dituntut untuk berpikir banyak untuk hal-hal seperti ini. Semacam tantangan yang harus ditaklukkan. Yah walaupun saya juga belum berada di level yang baik dalam urusan manajerial rumah tangga ini. Saya belajar, suami belajar, dan kami menikmati sekali semua perjalanan ini.
Balik lagi soal masak, saya mengingat-ingat kembali awal kami tinggal berdua. Saya yang tiap pagi dan sore suka berantakin dapur, dengan alat dan bahan seadanya, demi kami agar bisa makan, agar saya bisa bawain bekal suami. Sampai ketika seminggu lebih kemudian suami berkata "aku pikir, kamu gak bisa konsisten loh, untuk masak tiap hari dengan kondisi kamu yang sambil kerja" dan dia lanjutkan dengan pujian bagi diri saya. Well, yang terlintas di pikiran adalah sama. Saya juga pikir begitu, dan saya hanya tersenyum ke suami.
Saya sendiri pun ngga menyangka saya bakalan kuat menjalaninya. Tapi justru di situlah tekad saya semakin kuat, untuk bisa lebih baik lagi. Ya, siapa sih yang ngga seneng, dari yang tadinya kosan deket tempat kerja, terus jadi jauh dari tempat kerja (depok-jakarta) dan harus masak pagi-pagi, biar bisa sarapan, biar bisa menikmati makan siang buatan sendiri. Terus, sorenya belanja bahan makanan untuk proses masak selanjutnya. Sampe di kontrakan, yang masih masak dan mikir ini itu. Capek sih kalo dipikir, tapi itu semua jadi "worth it" banget, karena pahala yang mengalir. Apalagi suami juga seneng dan mau-mau aja makan apapun yang saya buat. Tak jarang saya meminta saran dan penilaian suami untuk setiap makanan yang saya masak. Daaan...selalu suka, kalau suami lahap makan gitu. Hihihi, semacam kepuasan tersendiri sih. Mungkin ini kali ya rahasia kekuatannya, apa yang bikin saya tetap bertahan untuk mau masak. Karena bagaimanapun juga saya harus belajar. Nanti kalau jadi ibu kan, ga bisa ngandelin buat beli di warung terus, apakah ekonomi keluarga akan terus menguat jika si ibu selalu membeli makanan jadi di luar? Apakah kualitas makanannya juga terjaga? Belum tentu kan? Itulah alasan saya mau terus belajar masak. Hal yang lebih penting lagi, saya juga ingin suatu saat nanti ketika anak-anak jauh dari ibunya, satu hal yang membuat rindu adalah masakan ibunya. Selain itu, sekarang saya kan juga tinggal bersama anak laki-lakinya seorang ibu juga. Masak tega sih, ibunya dari kecil udah ngegedin dia, ngasih makanan bergizi, terus kita telantarin begitu aja? ππ ngga mungkin lah yaaa..
Ngomong-ngomong soal masak, sekarang saya lagi kangen-kangennya. Setelah seminggu lebih ngga masak, ternyata saya rindu juga. Awalnya sih ngga masak, karena emang tubuh lagi ngga fit, sampe beberapa hari. Pengennya makan bubur aja, sampe suami bilang " apa ngga bikin aja buburnya?" Dan saya menolaknya, karena merasa ngga enak kalo mau bikin bubur pas lagi sakit gini. Karena jujur saya emang ngga bisa bikin bubur. Padahal dulu dah ada pengalaman, ibu sakit dan ngga bisa bikinin bubur, lalu saya berniat untuk bisa masak bubur di kemudian hari. Setelah badan mulai enakan, drama pun dimulai. Suatu hari, saat saya memasak dan suami belum pulang, tiba-tiba tabung gas berbunyi dan mengeluarkan gasnya. Saya agak panik dan cuma bisa mematikan kompor. Saya merasa bodoh sekali, karena ngga tahu gimana cara melepas tabung dari selangnya ππ sedih banget sih. Selama ini mau belajar masak, tapi ngga belajar buat "maintenance" peralatannya, semisal ngelepas atau masang gas.
Saya pun langsung telpon suami nanya gimana cara melepas selang berikut regulator yang masih terhubung dengan si tabung gas itu. Udah dikasih instruksinya sih, dan saya masih ga ngerti juga πππ saya pasrah dan menunggu suami pulang aja.
Singkat cerita, regulatornya ternyata rusak. Ngga bisa klop gitu saat dipasangin ke tabung. Suami langsung beli regulator baru dan jeng jeng...malem-malem pas coba dipasang sama aja hasilnya. Tetep longgar gitu.
Saya ngga ngerti, saya pasrah aja. Hingga beberapa hari kemudian kami harus makan di luar.
Awalnya mah seneng, bisa libur masak karena lagi sakit. Kalo dipikir-pikir ada fase capek atau bosen gitu sih pas masak tiap hari. Entah karena skill saya yang segitu-gitu aja dan seringnya masak itu-itu aja atau emang beneran capek karena harus mengatur waktu masak, dimana jarak saya dan suami pulang kerja hanya sekitar 1 jam. Ya dipikir aja lah bisa masak apa sih ini mbak-mbak istri pemula dengan waktu 1 jam π
. Ketika suami pulang kadang ngga semuanya sudah "ready to served". Entah nasinya yang belum mateng, atau saya masih harus menggoreng sesuatu, atau apalah.
Setelah drama tabung gas itu, dan saya belum bisa masak beberapa hari bahkan menginjak seminggu, saya beneran kangen. Kangen eksperimen-eksperimen memasak. Bergelut dengan asap, kompor, dan minyak. Kangen berkejaran waktu di pagi, untuk memasak bekal siang kami dan suami menyuapi saya dengan roti karena kedua tangan saya ngga bisa sambil makan roti. Kangen belanja sore-sore kemudian memasak makan malam untuk kami makan berdua. It has been a long time.
Bisa gini ya ternyata. Ah kangen memang. Semoga regulator barunya cepet dateng dan bisa dipasang. Semoga lebih bersyukur lagi karena "masih mau" untuk masak. Semoga ngga mudah ngeluh dan ngga gampang capek untuk semua urusan rumah tangga ini. Semoga resep-resep yang mau dicoba segera tereksekusi. Semoga makin meningkat skillnya. Semoga selalu sehat dan bahagiaaaa ππππ yeeeayyy...
Jakarta 05-10-2017, di hampir seminggu yang belum bisa masak lagi.