Ngetrip Ke Jepang Bersama Balita
Halo semuanya! Apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya publish, namun karena kesibukan yang membuat saya minta ampun, waktu dipublishnya tulisan ini diundur terus. Tulisan kali ini adalah tentang bagaimana pengalaman keluarga kecil kami melakukan liburan pertama kali ke luar Indonesia, Jepang. Jepang dipilih karena Istri saya, Davrina, sempat studi di Kobe University. Selain itu, saya pribadi juga termasuk first timer ke Jepang, jadinya saya rasa ini akan menjadi pengalaman menarik. Tulisan ini tidak akan membahas trip trip yang kami jalani (Anda bisa membaca review dari travel blogger untuk hal itu), melainkan tentang pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari sebuah perjalanan ke luar negeri bersama keluarga dengan membawa anak berusia 1 tahun. Ya, perjalanan ini bertepatan dengan 1 tahun ulang tahun Dayna.
Yak, ini pembelajaran pertama dan yang paling penting yang saya dapatkan. Ngetrip bareng Balita sangat berbeda dengan gaya ngetrip dewasa, apalagi para backpacker. Biasanya sebelum ngetrip kita selalu menyiapkan itinerary yang berisi targetan-targetan tempat yang ingin kita kunjungi, seperti ingin ngepost instagram di tempat ini, ngepath di lokasi itu, dll. Selain itu kita sangat terbiasa ambisius untuk ngetrip mengalahkan orang lain yang kita baca review nya sebelum perjalanan.
Saat bersama keluarga dan membawa balita, the game is totally different. Iya Anda bisa menyatakan memiliki banyak tenaga dan biasa mencapai banyak titik dalam satu hari. Tapi perlu diingat, ambisi harus diredam karena perjalanan yang dilakukan harus menyesuaikan dengan jam makan anak, jam menyusui anak dan jam tidur anak. Tempat-tempat yang ingin dikunjungi mungkin bisa disesuaikan menjadi tempat yang tidak terlalu menyulitkan jika membawa Balita, termasuk lokasi yang nyaman. Mengunjungi taman bisa menjadi salah satu opsi.
2. Persiapkan Semua Hal Sejak dari Indonesia
Ada hal menarik yang menjadi moda transportasi bagi turis di Jepang, yakni JR Pass. Dengan JR Pass Anda bisa naik seluruh rangkaian Japan Railway secara gratis karena sudah melakukan pembelian selama periode waktu tertentu. Menariknya, JR Pass ini tidak bisa dibeli di Jepang, harus dibeli sebelum masuk Jepang atau dari negara asal, Indonesia. Beruntung kami mendapatkan JR Pass ini walaupun membelinya sangat mendekati deadline keberangkatan. Selain itu, untuk tempat menginap di Jepang juga perlu dipastikan dari jauh jauh hari, seperti hotel dari kota ke kota. Kami memang mengunjungi beberapa kota selama di Jepang tapi menginap terpusat di Tokyo dan Kyoto. Beruntung kami menggunakan Traveloka yang sangat membantu kami dan memundahkan dalam melakukan booking hotel selama di Jepang (https://www.traveloka.com/hotel). Proses check in pun di sana tidak ada masalah dan saya mendapatkan harga hotel yang jauh lebih murah dibanding menggunakan yang lain.
Perlengkapan-perlengkapan “bertempur” (seperti stroller bayi, gendongan bayi, kotak makan bayi, jaket bayi) harus benar-benar dipesiapkan sedari Indonesia. Dan perlu sekali membawa cadangan karena cuaca di luar negeri sangat tidak bisa diprediksikan seperti halnya Indonesia. Kami memiliki 1 koper khusus didedikasikan untuk membawa peralatan bayi.
3. Kebahagiaan Anak Tetap yang Utama
Ketika pergi bersama keluarga, apalagi untuk menyenangkan hati anak, yang perlu menjadi prioritas adalah bagaimana anak kita lebih bahagia dibanding diri kita sendiri. Saat berada di Universal Studio (https://www.usj.co.jp/e/) misal, Anda bisa jadi tergoda untuk menaiki wahana yang sangat menantang bagi Anda seperti roller coaster. Akan tetapi jika anak Anda tidak bisa menaiki itu, Anda terpaksa ikhlas menaiki wahana yang membawa Anda keliling di Istana Boneka. Memang terkesan konyol, tapi senyuman yang terukir dan rona mata bahagia yang terpancar dari mata anak kita jauh lebih berharga dibanding kebahagiaan kita.
Ada momen pula dimana saat kita sedang bersemangat sekali berjalan dan mengunjungi banyak tempat, akan tetapi anak sudah mengantuk dan minta minum susu dari ASI Ibunya, kami terpaksa berhenti. Perjalanan dihentikan agar anak bisa tidur dengan nyaman. Atau saat turun hujan ketika perjalanan, yang harus kita pastikan payung dan jaket yang dimiliki sudah digunakan oleh anak kita terlebih dahulu dibanding diri kita sendiri.
Sebenarnya jika dijabarkan lebih jauh, ada sangat banyak hal yang bisa jadi turunan dari tiga besar hal pokok di atas. Perjalanan bersama keluarga, khususnya membawa balita, adalah sebuah perjalanan memiliiki waktu yang berkualitas bersama keluarga. Waktu-waktu ini sulit sekali didapatkan saat di Indonesia karena kita disibukkan dengan rutinitas. Memilih berlibur keluar negeri bukan tentang mewah-mewahan, namun semua bisa direncanakan hingga biaya dikeluarkan tidak seperti menghamburkan uang.
Kami sangat bisa melakukan efisiensi dalam perjalanan kali ini. Misalnya, dengan adanya Traveloka dalam booking hotel sangat membantu kami mendapatkan penginapan dengan mudah dan murah. Selain itu, kami juga tahu tempat-tempat dan hal-hal yang dapat dikunjungi tanpa menghambur-hamburkan uang. Intinya, butuh skill keuangan yang seakan "menjahit saku" saat bepergian ke luar negeri.
Akhirnya, tidak ada hal yang bisa menggantikan waktu berkualitas bersama keluarga. Hal ini tidak bisa dibayar dengan apapun dan berapapun bagi saya. Semoga kita semua bisa menikmati waktu-waktu intensif bersama keluarga. Semangat!