Kamu Percaya Passion?
Saya percaya.
Berkali-kali hidup memberikan saya kesempatan untuk mencicipi rasanya bekerja-berkarya dengan passion.
Lihat video ini:
Seluruh footage dalam video itu dirangkai dalam satu malam. Narasi, rekaman, editing, dilakukan seorang diri. Semua itu dilakukan tanpa bayaran.
Energi apa yang bisa menggerakkan seseorang untuk sprint mengerahkan segala daya kreasi dalam waktu yang sangat singkat, selain passion? Bahkan lembur untuk pekerjaan kantor sehari semalam dengan bayaran ganda pun saya tidak akan bersedia. It’s beyond money!
Tapi, bukan berarti passion tidak implementatif untuk dunia “menghasilkan uang”. Tengok aplikasi ini:
(Unduh di sini. Tersedia di iOS dan Android, dioptimalkan untuk iOS yang sudah mendukung ARKit)
Masa pengembangan aplikasi ini hingga mencapai tahap yang kamu lihat di atas hanya kurang lebih 3 bulan—waktu yang sangat singkat untuk aplikasi semacam itu. Tapi bukan soal kecepatan pengembangan yang ingin saya garisbawahi.
Sepanjang mengerjakan desain antar-muka aplikasi tersebut—dan selama karir profesional saya di 2017, saya mengalami fenomena “masuk pagi, eh tau-tau udah malem lagi”.
Jika sudah duduk di depan layar iMac, menari-narikan mouse di aplikasi Sketch, maka bisa dikatakan saat itu saya sudah masuk ke dimensi lain dengan ukuran waktu yang berbeda; seolah beberapa menit di dimensi tersebut setara dengan beberapa jam di dunia nyata (ada istilah untuk ini: flow).
Bandingkan jika kita sedang kebosanan atau jika kita membenci pekerjaan kita, 5 menit terasa setengah jam, 1 jam terasa setengah hari.
Jika Anda pernah merasakan energi yang begitu besar untuk menghasilkan sesuatu, atau lupa waktu ketika mengerjakan sesuatu, dan pola ini bisa Anda ulang, kemungkinan Anda memiliki passion terhadap sesuatu itu.
Saya paham bahwa pemahaman kita mengenai passion jauh dari sempurna. Dahulu banyak dari kita, termasuk saya, yang berpikir bahwa passion adalah sesuatu yang inheren, sesuatu yang kita dilahirkan dengannya; bahwa ia menanti untuk ditemukan oleh diri kita.
Namun, pemahaman kita berkembang. Penjelasan itu tidak lagi memuaskan. Kita menemukan adanya gap antara ide tentang passion dengan realita.
Passion terasa seperti kemewahan yang hanya mungkin ditemukan oleh orang-orang yang kelangsungan hidupnya telah terjamin. Sementara kenyataannya, ada tagihan yang harus dibayar, ada keluarga yang mesti dihidupi.
Dalam perkembangan selanjutnya, konsep passion diperiksa secara ilmiah, sehingga memunculkan penjelasan lain:
Passion comes after you put in the hard work to become excellent at something valuable, not before.
Carl Newport
Intinya, passion adalah hasil dari keputusan dan komitmen kita mengasah diri pada suatu bidang yang bernilai.
Setelah kita mencapai tingkat kemahiran tertentu pada sebuah pekerjaan, maka kemampuan kita menikmati pekerjaan tersebut akan timbul. Perpaduan kemahiran dan kesenangan kita atas pekerjaan tersebut menghasilkan nilai tambah yang dihargai oleh orang lain, sehingga kita semakin menikmati dan semakin ingin lebih mahir dalam hal tersebut.
Penjelasan ini—bagi saya, lebih realistis dan lebih membuka ruang bagi upaya yang deliberate (sengaja) dalam pencarian passion.
Jadi, sekali lagi, saya percaya passion. Passion itu ada, dan kita bisa hidup, menghasilkan uang, dengan menjalani passion.
Semoga kita segera bisa kolaborasi lagi Sir dalam mengeksekusi passion ini. Can’t wait to have you (fully) on board :)
Terus berjuang dan belajar, biar pas saling ketemu nanti kita udah sama sama jauh lebih berkembang.









