Pertanyaan kali ini datang dari seorang mba notaris kepada semua peserta TTALK.
Apakah akang teteh akan mengorbankan cita-cita yang selama ini diraih apabila ternyata pasangan kita tidak menghendaki, misalnya masalah pekerjaan?
Menarik. Untuk yang sudah bekerja, atau mungkin freshgrad, pasti ada target atau cita-cita yang ingin dicapai. Setelah menikah, bagaimana kelanjutannya? Berikut respon dari peserta perempuan khususnya.
“Insya Allah, tidak mengapa jika masalah pekerjaan tidak diridhoi. Melalui diskusi selanjutnya dengan pasangan, akan ada banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan sebagai bentuk Amaliah dari ilmu kita.”
“Jika sudah didiskusikan dan dipertimbangkan bersama bahwa itu yang terbaik dan akan mendatangkan banyak kebaikan, maka saya sebagai istri akan mengikuti keputusan tersebut.”
Tipikal manut, setelah diskusi tentunya.
Btw, sebagian dari peserta laki-laki ingin istri yang di rumah saja.
“Pertama saya akan mencoba berdiskusi terlebih dahulu untuk meyakinkan pasangan, mengenai cita-cita saya. Tetapi, apabila pasangan saya tidak menghendaki, karena saya seorang perempuan dan akan menjadi seorang istri, maka saya akan menurut kepada suami saya.”
Poin yang berbeda apa? “meyakinkan” akan cita-cita yang ingin dicapai.
“Tidak, oleh karena itu saya mencari pasangan yang bisa mendukung saya.”
Suka banget sama jawabannya. To the point. Pernah denger istilah, “menikahi pasangan dengan mimpi-mimpinya”? Mungkin ini kalimat yang pas untuk mendukung pertanyaan tersebut.
That’s why, selalu ada pertanyaan visi-misi, atau bisa juga dalam istilah life plan “rencana karir ke depan seperti apa?”. Room for discussion tentunya selalu ada, tinggal kita yang memilih, diskusi sebelum atau sesudah bersama.