En NOVELLTRIPLETT från Danje Förlag
http://www.adlibris.com/se/e-bok/spegelvan-9789188417251
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from China

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from Türkiye
En NOVELLTRIPLETT från Danje Förlag
http://www.adlibris.com/se/e-bok/spegelvan-9789188417251

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Trilogi : Tigapertiga.
Barangkali malam ini genap sudah perjalanan ruhiyah kita di bulan penuh mulia. Bulan dimana tiada kata berat sama sekali untuk beribadah, tiada kata lelah untuk terus bermunajat, bersimpuh memohon ampun atas segala kelalaian taat.
Masing-masing kita 'sudah' diberi waktu ataupun kesempatan yang mungkin sama, siang hari untuk menahan segala nafsu, lapar dan dahaga, kemudian di malam harinya diperintahkan untuk menghidupkan malam dengan sinar-sinar ketaatan; sholat, tilawah, dzikir, dsb.
Tentu saja, bukan sembarang orang yang mampu mengkonversikan setiap kesempatan itu sebagai momentum ketaatan, yang beroutput pada ganjaran pahala berlipat yang telah Dia dijanjikan.
Sebab, ada sebagian orang yang tidak sadar betapa mulia dan berharganya kesempatan-kesempatan itu, sebab jika itu sederhana, tiada harga, sudahlah pasti semua orang mendapatkannya. Nyatanya tidak, bukan?
Hanya merekalah yang beriman, yang mampu dan bisa mengubahnya menjadi momentum ketaatan. Ya, hanya mereka yang beriman.
Malam ini, kesempatan-kesempatan itu perlahan mulai sirna, bulan dilangit sana menjadi tanda bahwa kepergiannya adalah niscaya. Maka beruntunglah bagi mereka, yang diberikan setiap kesempatan yang ada, sempat menyambutnya dengan penuh khidmat dan sukacita.
Jika ikhtiar terbaik sudah terupayakan, maka dikesempatan akhir ini tibalah waktunya untuk bermunajat, bersimpuh memohonkan doa, agar apa yang telah diupayakan, bagaimanpun keadaannya, diterima sebagai sebenar dan sebaik bentuk taat kepada-Nya.
Maka,
"Ya Allah, hamba tahu bahwa memang tidak sempurna dan tidak banyak ibadah yang bisa hamba lakukan di kesempatan yang telah Engkau berikan ini,
"Pun dalam keberjalanannya, tiada malu hamba terkadang masih campur adukkan urusan dunia ketika menghadap-Mu,
"Akan tetapi ya Allah, hamba yakin betapa luas rahmatmu, betapa lebar pintu ampun-Mu, maka ya Allah, yang sedikit, yang tidak optimal, yang tidak sempurna ini,
"Terimalah ya Allah..."
"Terimalah ya Allah..."
"Jadikanlah ini sebagai pemberat timbangan kami di hari akhir, yang Engkau akan tanyakan kelak..."
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَمَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتِلَاوَتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Wahai Tuhan kami... terimalah puasa kami, shalat kami, ruku' kami, sujud kami dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Trilogi : Duapertiga
Ramadhan sebentar lagi usai. Sebagian orang mulai tergerus keostiqomahan ibadah-ibadahnya untuk memenuhi hajat duniawinya, tapi dilain sisi masih ada sebagian orang yang tetap bertahan dengan amalan-amalan terbaiknya.
Kedua golongan tersebut memiliki persamaan, yaitu sama-sama telah melalui perjalanan ruhiyah selama dua-pertiga Ramadhan di tahun ini. Yang satu, sibuk urusan duniawi, yang satu lagi masih teguh dengan amalan-amalan ukhrawy-nya (akhirat).
Pertanyaannya, siapa yang akan diterima amalan ibadahnya di bulan Ramadhan ini? Sedang dalam sebuah hadist Rasul sampaiakan "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada akhirnya." Jawabannya....
Wallahua'lam.
Barusan tidak sengaja baca surah Al-Mu'minun ayat 60, yang artinya “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.”. Lalu teringat akan sebuah hadist yang pernah saya dengar ketika mengikuti kuliah tarawih yang menjelaskan arti dari ayat itu.
Ketika mendengar bacaan ayat itu, Aisyah bertanya kepada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dalam ayat “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”, adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khomr?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab,
"Wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun Ia khawatir amalannya tidak diterima.”
Inilah yang kemudian kita takutkan. Jangan-jangan amalan kita selama Ramdahan ini, puasa kita, tilawah kita, sholat-sholat kita tidak diterima Allah.... karena sebab satu dan lain hal.
Ali bin Abi Thalib mengatakan,
“Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal."
Lihat pula perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fitri,
“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. "
Dikatakan kepada mereka,
“Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan!”
Mereka malah mengatakan,
“Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”
Itulah yang dirasakan para sahabat, para ulama, orang terdahulu ketika menyikapi akan berakhirnya Ramadhan. Mereka dirundung ketakutan akan amalan yang tidak diterima satupun. Lantas bagaimana kita? Yang kualitas ketaqwaan kita seperti bumi dan langit terhadap mereka?
Seorang Mua’lla bin Al-Fadhl berkata,
"Dulu, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah ta’la mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan."
Wallahua'lam. Masih ada 10 hari terakhir kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat dipertemukan Ramadhan tahun ini kepada Allah.
Masih tersisa kesempatan-kesempatan menjelang akhir, untuk menunjukkan ketaqwaan kita kepada Allah. Mari sambut dengan semangat, seraya memohon agar Allah mengampuni dan menerima amalan kita selama Ramdahan ini.
Hayya 'alal Falah!!
Trilogi : Sepertiga.
Tanpa sadar, 10 hari pertama bulan Ramadhan terlewat. Hari demi hari, waktu ke waktu terus berjalan melibas setiap kesempatan yang ada.
Lantas, pada 10 hari yang pertama ini, sudahkah kamu merasa menjadi lebih baik? Kamu bisa mulai menikmati sholatmu, menikmati setiap ayat-ayat-Nya tanpa bosan, atau menjadi ringan tangan dikala ada yang membutuhkan atau kemaksiatan-kemaksiatan yang perlahan kamu mulai jijik hingga kamu tinggalkan?
Sudahkah perubahan itu ada padamu?
Benar, waktu terus berjalan, tanpa peduli kamu mau menjadi baik atau tidak, sebab pilihan ada di tanganmu.
Tidakkah, janji-janji yang Rabb-mu telah tawarkan bagi mereka yang berkhidmat dengan amal sholih di bulan ini akan dilipatgandakan, pun keutamaan-keutamaan lain yang akan diberikan belum cukup untuk menyadarkanmu?
Jangan-jangan, karena sudah seringnya perjumpaan dengan bulan suci ini, membuatmu hilang sensitivitas? Sehingga menganggap hari-hari yag telah berlalu itu terlewat tanpa rasa menyesal sedikitpun?
"Gapapa, beramal pas-pasan aja, toh juga udah dilipatganda."
"Ntaran aja deh, maksimalkan pas 10 hari terakhir."
Jika, dirimu sedang berada di fase itu, maka perbanyaklah istighfar, minta ampun sama Allah.
Jika dengan segudang ganjaran yang akan Allah beri belum menggerakkanmu, bagaimana kalau kita lihat Ramadhan dari sisi bahayanya.
Dalam sebuah hadist,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” [HR. Ahmad, shahih]
"Celakalah!"
Bayangkan, seorang manusia dengan sebaik-baiknya akhlak, dan sesempurna-sempurnanya perangai seperti Nabi Muhammad saw, sampai mengatakan demikian?
Tidakkah itu sudah cukup menjadi cambuk kemalasan bagimu? Maka, mari berbenah, kalau kamu diberi umur, kesempatan, bisa jadi karena dosamu masih banyak, dan Rabb-Mu ingin kamu banyak bertobat.
Siang adalah buku ketiga dalam trilogi Malam. Novel ini mengurai berbagai tema tetapi subjeknya yang hakiki ialah setelah selamat dari berbagai peperangan keji, bagaimana seseorang masuk ke dalam dunia tak bermakna atau berbahaya? Terlepas dari segala yang menyerupai kehidupan normal, kehilangan segalanya kecuali kenangan, tokoh di dalam novel ini menderita oleh ketidakmampuannya bergantung kepada masa depan. Ia melawan kematian. Pula melawan kehidupan. Goyah di antara dua panggilan ini, yang sama brutalnya, ia hidup dengan ketakutan dan kenangan lamanya. Elie Wiesel, Siang, Novel Trilogi, Yogyakarta, Basabasi, Jan 2022, 168 hlm, 58.000 #ElieWiesel #siang #Novel #Noveltrilogi #trilogi #PenerbitBasabasi #KatalogJBS (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CZ-1FSZBWVC/?utm_medium=tumblr

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Fajar adalah buku kedua dalam trilogi Malam. Ia berkisah tentang Elisha, anak muda yang bertahan hidup dari kamp kematian—seorang yatim-piatu yang kehilangan tidak hanya ayah dan ibu, tetapi juga harapan—lalu direkrut oleh para anggota Perlawanan pada masa ketika pengadilan kebanjiran pekerjaan, penjara meluber, para jagal bekerja penuh waktu, peradilan begitu kejam. Suatu ketika seorang pejuang Yahudi dihukum mati, kemudian para petinggi di Perlawanan meminta Elisha mengeksekusi mati salah seorang pejabat kerajaan sebagai pembalasan. Elie Wiesel, Fajar, Novel Trilogi, Yogyakarta, Basabasi, Jan 2022, 128 hlm, 55.000 #ElieWiesel #Fajar #Novel #Noveltrilogi #trilogi #PenerbitBasabasi #KatalogJBS (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CZ8Yq7VhaE_/?utm_medium=tumblr
Pada 1986, Elie Wiesel mendapat Hadiah Nobel Perdamaian, dan mengacu pada Los Angeles Times, “dia (Elie) adalah Yahudi paling penting di Amerika.” Salah satu karya Elie yang paling kuat adalah trilogi Malam yang mencakup tiga cerita mencekam ihwal pengalaman pribadinya berhadapan dengan kekejaman Nazi atau lebih spesifik: holocaust. Malam adalah buku pertama dalam trilogi tersebut. Ia berkisah tentang penindasan Nazi Jerman terhadap kaum Yahudi yang tentu sudah banyak kita dengar. Namun, pengalaman langsung Elie Wiesel sebagai korban Nazi terasa lebih kuat dan gamblang sehingga mampu membuat kuduk berdiri bahkan perut mual. Setiap hari ia menyaksikan manusia baik tua maupun bayi dibakar hidup-hidup, mencium aroma daging manusia yang terbakar dan melihat cerobong krematorium mengeluarkan asap hitam berbau busuk. Dalam buku ini, dia mendeskripsikan peristiwa demi peristiwa kebengisan di kamp konsentrasi Auschwitz, Buna, dan Buchenwald dengan begitu lugas dan mengejutkan. Elie Wiesel, Malam, Novel, Yogyakarta, Basabasi, Jan 2022, 196 hlm, 60.000 #ElieWiesel #Malam #Novel #NovelTrilogi #Trilogi #PenerbitBasabasi #KatalogJBS (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CZ5dFNnhpgl/?utm_medium=tumblr