Terlibat
Ini mungkin hanya pikiran saya saja yang mencoba memahami bagaimana sebuah takdir bekerja. Kita seringkali meminta ini itu tanpa mencoba untuk terlibat dalam proses memilikinya.
Misalnya, kenapa kita belum dipertemukan dengan seseorang yang menurut Allah pantas, karna kita pun tidak berusaha memantaskan. Ilmu tentang rumah tangga, hak dan kewajiban kita sebagai istri atau suami, belajar mandiri, beres-beres rumah, cuci baju sendiri, masak, dan lainnya.
Misalnya lagi, kita belum bisa masak karna kita tidak berikhtiar untuk terlibat di dapur. Yang sekiranya bisa kita raih ilmu masak di sana, tapi kita enggan belajar untuk terlibat di dalamnya. Sekedar bantu Ibu saat memasak menu makanan hari ini pun, kita malah sibuk dengan kegiatan lain. Merasa masih ada Ibu, yasudahlah tinggal makan saja.
Dulu, saya begitu. Merasa masih ada Ibu dan malah dinanti-nanti. Mau belajar masak, ah nanti saja deh masih ada waktu. Tapi ternyata semakin kita tidak mencoba, maka orang tua semakin tidak percaya. Saat awal mula ingin belajar masak, Ibu seringkali terlihat "ini anak bisa nggak sih nguleknya?". Meskipun tidak diungkap secara lisan. Haha.
Keterlibatan kita hari ini dalam suatu hal, akan mendukung langkah kita ke depan. Menumbuhkan kepantasan dalam diri itu ternyata harus TERLIBAT. Dengannya, kita lebih mudah mendapatkan kepercayaan orang sekitar. Siapkan mental kalau sesekali kita ditegur, namanya juga belajar. Tentu kalau salah, ya diluruskan.
Selamat terlibat. Selamat melibatkan diri. Semoga yang kamu harapkan bisa terwujud ya. Tentu di waktu yang tepat.
Bandung, 9 Mei 2019
Dari saya yang belajar terlibat.










