Don't be Evil
Photo by Tom Parsons on Unsplash
Minggu yang lalu saya bertemu dengan beberapa teman, kebetulan ada teman yang baru saja pindah pekerjaan ke salah satu Perusahaan Multi Nasional yang sangat bergengsi. Pembicaraan mengalir demikian rupa hingga kemana-mana, karena ada teman yang lain bernasib berbeda, sudah berusaha sedemikian rupa untuk pindah pekerjaan tapi juga belum membuahkan hasil, boro-boro dipanggil interview. Dari perbandingan nasib yang begitu kontras, ada yang sempat menyeletuk, "Rezeki sebetulnya berbanding lurus dengan perbuatan, kalau kita sering berbuat baik, biasanya nasib dan karir juga menjadi baik", melalui perkataan ini saya sejenak berpikir, apakah hukum tabur tuai itu nyata adanya?
Dalam beberapa buku biografi mengenai pendirian Google, sempat ada value yang dipegang oleh pendiri dan segenap karyawannya, yaitu "Don't be Evil" atau Jangan Jahat, sesimpel itu, dan kita bisa melihat sekarang, Google sedemikian besarnya, mungkin salah satu faktornya adalah karyawan yang merasa memiliki nilai yang sama dengan perusahaan, jadi memiliki rasa memiliki dan jadi mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk membuat Google jadi sebesar sekarang, atau pelanggan dari layanan Google karena melihat nilai itu, menjadi sangat loyal dan turut membesarkan layanan Google hingga sebesar hari ini.
Dalam beberapa buku motivasi dan pengembangan diri juga berulang kali ada yang membagikan saran, jika ingin mendapatkan uang, jangan ragu-ragu untuk mengeluarkannya, jika ingin mendapatkan ilmu, jangan segan untuk memberikannya ke orang lain (Mengajar,dll), dan memang kalau kita berkaca dengan orang-orang yang menurut pandangan umum adalah orang sukses, seperti Bill Gates (terlepas dari kontroversi dan perceraiannya dengan mantan istri-nya), tidak dapat dipungkiri, kekayaannya memang sangat luar biasa, tapi di lain sisi ia juga seorang filantropis yang tidak kalah luar biasanya.
Beberapa tahun yang lalu, sempat juga saya membaca sharing dari salah seorang pebisnis yang dalam kebangkrutannya, ia bertemu tokoh agama yang mengajarkan untuk terlepas dari hutang, ia harus mensedekahkan uang yang dimiliki saat ini, semuanya, disini memang logika manusia diuji, bagaimana ceritanya untuk bayar hutang, malah kita "buang" semua uang yang kita punya?, tapi ternyata setelah si pengusaha mendonasikan uangnya, dia mendapatkan projek yang nilainya cukup untuk membayar hutangnya, ini seperti cerita karangan.
Saya pribadi belum pernah mengalami yang se-ekstrim memberikan seluruh harta, tapi saya punya pengalaman yang tidak kalah ajaib. Beberapa bulan lalu, saat semua orang bergulat dengan pandemi, saya pun juga demikian, untuk mencapai target penjualan disaat kondisi ekonomi negara kita yang kurang baik, saya sempat hampir putus asa, tapi waktu itu memang saya niatkan untuk coba menggunakan gaji saya, untuk berdonasi, tapi niat saya waktu itu bukan untuk capai target penjualan atau apapun, betul-betul saya niatkan untuk donasi aja, karena kondisi lagi susah, saya agak kurang tega melihat orang lain terdampak, sampai uang untuk makan mereka tidak punya, apalagi untuk kebutuhan lainnya, dan saya donasi melalui salah satu platform berbagi, sebagai anonim. Ajaibnya, saya yang awalnya hopeless, banyak projek tidak berjalan, akhirnya bisa menutup target, tiba-tiba saja, saya mendapatkan beberapa penjualan, yang bahkan sebelumnya saya tidak sangka akan ada, ini terserah boleh percaya boleh tidak, tapi saya mengalami sendiri, saat kita bantu orang lain, pasti ada aja balasannya.
Nah, kembali ke pikiran saya pada saat bertemu dengan teman-teman, kalau saya pribadi, dalam hati sebetulnya mengiyakan, karena saya mengalami sendiri. Sesimpel melakukan "Don't be Evil" dan peduli dengan orang lain, ternyata dampaknya cukup ajaib. Mungkin pembaca sekalian juga sempat mengalami yang serupa?













