Disiplin Keuangan dan Perpuluhan
Saya mempunyai teman, sebut saja namanya Rest
Saya dan dia teman yang dekat sewaktu pelayanan persekutuan doa di kampus.
Jujur, saya pelayanan di PD saya melarikan diri dengan pelayanan di kampus terlebih lagi sewaktu di manajemen saya kuliah dengan ogah-ogahan. Padahal tidak ada masalah biaya.
Masih di kampus yang sama setahun kemudian, saya tidak sanggup melanjutkan kuliah dengan jurusan manajemen kewirausahaan. Kelemahan saya adalah akuntansi. Dengan berat hati saya pindah ke jurusan komunikasi dengan konsentrasi broadcast.
Jurusan komunikasi ini adalah jurusan baru dan masih sedikit mahasiswanya, per angkatannya hanya 100 orang termasuk pindahan jurusan.
Saya mengalami nikmatnya berkuliah, saya sungguh-sunguh pada awal semester 2006, tetapi ada penyakit saya kambuh lagi. yaitu rasa malas karena sudah berkecukupan. Saya seringkali bersikap "nanti saja".
2006 berlalu dan sampailah sekarang pada tahun 2011, bulan juli, tanggal 22, hari Jumat.
Banyak kejadian yang terjadi selama 5 tahun.
______________________________________________________________________
Rest mengalami kejadian tragis, dia memang sejak SMP sudah tidak ada ayah. Dia hidup bersusah payah, selama kuliah. Hal ini saya ketahui ketika berbicara hati ke hati dan jalan bareng dia (2011)
Dia bercerita, selama kuliah dia hidup dari uang jajan ibunya sebulan hanya dengan Rp 15.000,-. Pulang pergi naik bus 2 x 2500,- Dia bayar perpuluhan sebesar 1.500,- Sisa uang disimpan 10.000. Dan kalau mau buka celengan dia harus pecahkan celengannya tersebut. Berulang-ulang dia cerita ini kepada saya.
Pada malam yang menyakitkan ini, Rest sedang di warnet. Rest merasa gelisah, sangat gelisah, tidak seperti biasanya.
Di tempat lain, kakak perempuan pertamanya, dalam suara hati kakak perempuan pertama ini berkata, "jangan matikan telepon selulermu"
Kakak pria Rest dengan nomer urut 2, lain lagi. Dalam mimpinya, " Ibu mereka tidur di samping Kakak no 2, lalu kakak nomer 3 Res berpakaian hitam."
Semua itu penanda ibunya berselisih dengan kakak no 3. Dan benar, pagi-pagi buta itu ibunya tiada dengan tragis.
Rest pahit dan sakit hati. Siapa yang tidak sakit hati ibunya diambil dengan tiba-tiba, mendadak. Ibunya meninggal karena masalah keluarga, Rest menjadi benar-benar yatim piatu. Perselisihan antara ibu dengan kakak ketiganyalah yang menyebabkan ini terjadi. Kakak perempuan nomer tiga harus masuk penjara.
Ia menceritakan setahun kemudian (sekarang) 2011 dia sudah berbicara dengan kakak ketiganya. Semenjak itu dia sudah tidak menangis tiba-tiba ketika teringat ibunya. Luka batinnya tersembuhkan dengan memaafkan kakaknya dan berbicara kembali dengan kakaknya.
Ini tidak mudah dan perlu waktu setahun. 2010 setelah kejadian tragis, teman temannya dapat berkata ."Ayo Rest, bangkit" Teman-teman menyemangatinya. Ia mengetahui maksud teman-temannya itu baik . tapi tidak mudah. Dia diam saja menanggapi ajakan temannya.
Kakak ketiganya pada tahun 2011 dibaptis oleh Bapak B. Bapak B juga yang menjadi Bapak Rohani Rest. Pemulihan hubungan kedua kakak beradik ini terjadi.
____________________________________________________________________
Saya mau berkata kepada Rest
"Ibu kamu memang sangat ketat memegang uang. Ia displin mengatur keuangan. Mungkin ini hal yang tidak disampaikan lsecarang langsung oleh Ibumu."
Saya melihat sendiri Ibu saya memiliki catatan keuangan yang jelas dan rapih. Ia tau kapan saja mengeluarkan uang, uang untuk kuliah, uang untuk buku, uang untuk rumahtangga.
"Perbedaannya adalah Ibumu sudah tidak bersama ayahmu lagi, kawan. Dia ketatkan anggaran untukmu masa depanmu. Dia sayang kamu. Rest" Sayang benar-benar sayang. Kasih ibu sepanjang jalan hidupmu kawan.
"Saya harap kamu juga memiliki displin yang sama, tetap mebayar perpuluhan dan menyimpan sisa pendapatanmu yang telah dipotong pengeluaran."
Karena saya sekarang yang lebih berkecukupan dan masih memiliki ayah dan ibu, mulai sadar. Baru saja saya membayar perpuluhan dua ratus ribu ke gereja.kemudian mencatatnya dalam buku harian, berapa uang tunai yang saya pegang.
Saya menekan diri saya sendiri untuk tidak membeli mainan koleksi saya. Saya belajar mengendalikan diri.
Semoga disiplin keuangan ini berlanjut untuk kamu dan saya. Untuk kita. Agar kehendak Tuhan berjalan dalam hidup kita.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++