Schönefeld mulai ramai dengan pengunjung yang hendak berangkat dari berbagai negara
jam tangan nya lambat laun bergerak membunuh waktu menuju indonesia
soedibjo masih tertegun di tengah gaduhnya baling-baling pesawat kapal
di minumnya air dengan harapan tenang menauingi hatinya
dia mencari sesuatu tentang indonesia yang mungkin bisa membawa sebesit senyum untuknya
"Ayunda !!!" hatinya tiba tiba menemukan jawaban senyum soedibjo melambung ke langit-langit
wanita ini yang membuat indonesia terlihat lebih punya perasaan
soedibjo besar di kota yang tidak terlalu padat di indonesia dia bukan pelajar unggulan
nilainya tidak bagus bagus amat serupa dengan tampangnya yang biasa saja
dunianya sepi,dia anak yatim piatu yang di dibesarkan oleh kakek pemuka agama di desanya
pendidikan nya penuh dengan islam tidak heran soedibjo paham betul tentang al quraan
berbeda dengan pendidikan formalnya yang berkeringat dan penuh air mata untuknya
seperti biasa soedibjo kecil sering menghabiskan waktu di taman sendirian
hanya untuk sekedar membuat sketsa gedung gedung yang sebenarnya dia sendiri
belum tau gedung tinggi itu bentuk nyatanya seperti apa tapi inilah soedibjo
dengan bakat yang dia punya hanya dengan melihat di layar kaca saja dia sudah
mampu membuat gambaran detail tentang gedung seperti apa,tidak heran cita-citanya
menyamai gedung yang di gambar,iya mencakar langit
mentari mulai berlari mengejar senja yang kian dekat,soedibjo belum juga lekas dengan sketsanya
di bawanya pulang gulungan kertas gambar dan alat lainnya agar bisa di lanjutkan di rumaah ujarnya
hari memang tak hujan tapi tiba-tiba perwujudan pelangi muncul di arah jalan soedibjo
rambutnya sewarna lembayung senja,matanya hitam redup lengkap dengan kemeja gulungnya
hari berlalu begitu saja dengan bawaan soedibjo lengkap dengan perasaan penuh duga