Mengapa Meresahkan Resah?
Semakin hari, suara tentang keresahan paruh baya dengan mudahnya tersebar dan terdengar dimana-mana. Anak-anak muda riuh bercerita tentang keresahannya dalam soal pendidikan, keuangan, pernikahan, pekerjaan, dan keresahan lainnya. Sebagian hatiku resah mendengarnya. Aku tidak ingin mengangguk setuju pada keumuman ini. Beginikah seharusnya hidup seorang muslim? Tenggelam dalam kekhawatiran? Kurasa tidak.
Bukan aku tak pernah merasakannya. Episode sedih dan khawatir itu juga pernah ada. Tapi, rasanya itu tak lantas membuatku berlindung di balik tebing kewajaran. Sebab, ketika itu terjadi, kutahu ada yg tak semestinya pada hubungan aku dgn Rabbku: hilang bergantung, hilang percaya, dan banyak berprasangka. Alih-alih fokus menghamba, saat hal itu terjadi, aku lebih fokus memikirkan diriku sendiri dan apa-apa yg belum terjadi atau termiliki, lalu membandingkannya dengan apa yg terjadi pada hidup orang lain, yg bahkan hanya kulihat dari kotak-kotak persegi empat unggahan mereka di sosial media.
Aku diam-diam menahan diri dan mendidik hati agar keresahanku tidak sampai membahayakan diriku sendiri. Aku belajar untuk mencari cara lain agar keresahan itu tidak memenggal energi-energi masa muda yg semestinya bisa kugunakan untuk kebaikan: untukku, untuk orang lain, dan untuk-Nya.
Tangis itu ada, tapi biarlah ia mewarnai saja tanpa harus membuat hari-hariku tercuri semangatnya. Resah itu ada, tapi biarlah ia bergemuruh di dalam saja, lalu gemuruhnya menggerakkanku untuk mencari cara agar kembali kepada-Nya. Khawatir itu ada, tapi biarlah aku menerimanya sebagai sebentuk perasaan dan pendidikan dari-Nya, yg bagaimana pun tidak boleh sampai menghentikan langkah menuju perbaikan dan kebermanfaatan.
Awalnya, kukira resahku akan hilang ketika semua yg kuinginkan terjadi sudah terjadi. Tapi ternyata, ketenangan itu justru kutemukan di jalan-Nya: saat aku fokus menghamba, saat berlelah bergerak mengerjakan apa-apa yg disukai-Nya, dan saat berpayah dan tertatih untuk belajar menukar harta dan jiwa dalam perniagaan paling menguntungkan sedunia, yaitu melaksanakan amanah maha penting dari-Nya untuk menjadi cahaya bagi sesama. Minadzulumati ilan nur.
Picture: Kajian Great Muslimah. Bandung, 21 Juli 2019