Dari banyak hal kegagalan dan kehancuran yang sedang aku rasakan sekarang. Tetiba hati ini berkata, "Jika sewindu lagi bagaimana?" Maksudnya, aku menutup hati ini selama itu, dan akan membukanya ketika usia ini mencapai 42 tahun. Memang cukup tua saat itu nanti, tapi setidaknya aku memperbaiki apa yang sudah sewindu lalu aku lewati. Karena menurutku, banyak hal yang aku tinggal dan pencapaian yang seharusnya aku dapat di sewindu lalu.
Namun, dari pernyataan diatas. Hanyalah sebuah rencana belaka dari diskusiku dengan hati. Karena setiap jejak dan langkah yang akan aku lewati, ketetapan sudah diatur di Lauh Mahfuz. Kalau pun rencana itu berjalan, berarti inilah yang tersirat dan tertulis di buku kehidupanku.
Hidup dalam kesunyian tanpa pasangan. Berjalan sendiri dengan hati yang beku, kenapa tidak? Toh, aku pernah menjalaninya. Walaupun sewaktu itu masih bercampur aduk dengan banyaknya perempuan yang mendekat. Karena usiaku kala itu masih 20an. Tetapi, sekarang? Usiaku sudah mencapai 34 tahun. Siapa juga yang mau mendekati. Kecuali, aku seorang pria yang dipenuhi dengan duit. Pastilah perempuan-perempuan akan mendekat.
Dan lagi, parasku sudah mulai keriput, rambut mulai memutih, dan perut semakin membuncit. Ini kesempatan sih sebenarnya untuk berjalan sendiri. Lagian, aku juga tak tahu sampai kapan paru-paruku akan tetap bernafas.
Intinya, hati ini meminta aku untuk menikmati hidup sendiri selama sewindu. Tak lagi disuarakan oleh berisik cinta yang kenyataanya hanya sebuah drama. Ya, cinta pada manusia itu adalah sebuah drama di opera kehidupan. Yang mana perannya bisa kita tentukan. Bahkan, kita bisa merubah dialog ditengah cerita. Semau kita.
Lalu, jika diusia 42 tahun nanti ternyata tak ada yang mau? Ya, aku akan melanjutkan perjalanan ini sendiri. Banyak hal yang masih bisa aku lakukan sampai akhir nanti. Toh, pada faktanya aku sudah pernah merasakan bagaimana kehidupan berumah tangga. Sekalipun hanya selustrum. Tapi, banyak pelajaran dan hal yang aku dapat.
Yang terpenting sekarang. Bagaimana aku memperbaiki kehancuran ini, dan menata kembali kehidupanku. Lalu, menikmati sewindu yang akan berjalan nanti. Selebihnya, biarkan semesta yang akan mengisinya.
Kalau pada kenyataannya ditengah sewindu nanti semesta mengantarkan seorang perempuan untuk menemaniku menata perjalanan hidup. Aku akan coba mencairkan hati ini, dan semoga saat itu keadaanku sudah jauh lebih baik dari sekarang. Semoga.
Tetapi, jika tidak. Aku tak akan mengindahkannya. Karena aku tak ingin kembali membuat perempuanku berpaling ke pria lain hanya karena kekolotanku dalam pandangan hidup. Aku tak ingin kembali mengulang cerita seperti itu.
Dan doa terakhirku, semoga 'dia' juga memiliki pandangan hidup yang sama denganku. Santai, sederhana dalam menikmati kehidupan ini. Menikmati. Ya, tak ada ambisi dan obsesi duniawi. Semua dibuat seimbang antara dunia dan akhirat. Karena yang aku butuhkan bukan hanya menemani perjalananku didunia saja, tapi hingga akhirat nanti. Menyatu dalam keabadian. Menjadi Ratu dari tujuh bidadari yang juga akan menemaniku nanti.