Hari ke Sebelas: Sepertiga yang Berlalu
Sesudah ini aku ucapkan apa lagi? Padahal baru saja kemarin fajar sapaan selamat datang itu begitu mesra bagi kita. Sekarang sudah sepertiga waktu kita luangkan, atau… Lewatkan?
Ada hingar-bingar yang dulu aku keluhkan. Kini perlahan hening mulai datang, menjelma menjadi angin-angin pecandu rindu. Sepertiga yang kamu jumpai telah sampai, akankah kamu masih sabar menanti perubahan dari kedewasaanku; tentang imanku yang masih fluktuatif.
Waktu adalah sejarah yang tak bisa dipertanggung jawabkan kedatangannya. Seperti halnya kamu yang datang menjumpai kehidupanku. Dalam wujud sepertiga ada banyak cerita yang bisa aku sesali, karenanya tak banyak kebaikan yang bisa dilakukan. Masih ada dua pertiga yang sedang dan akan datang. Bukan berarti aku akan datang pada sepertiga lain darimu, tapi aku akan ditinggalkan lagi.
Kita punya kontrak yang tak bisa dibahas dalam hitam diatas putih. Kamu pun enggan berbasa-basi ketika datang dan bertamu dalam hari-hariku. Hanya isyarat hilal yang secuil kamu tampakkan.
Kiranya waktu datang lagi, aku ingin bermesraan lagi. Menempuh waktu malam dalam lirihnya doa dan penyesalan. Kepada sepertiga yang telah berlalu, aku titipkan salam rindu pada sepertiga dirimu yang lain.
Bukan selamat tinggal yang aku ucapkan pada malam terakhir kita. Melainkan sampai jumpa pada pertemuan kita di tahun berikutnya. Semoga Tuhan merestui usiaku, juga merestui kedatanganmu. Lagi.