dulu hanya tau lewat sejarah. alhamdulillah qodarullah bisa menginjakan kaki di selat malaka.. jalur “emas” pelabuhan pedagangan pada masanya.
mampir ke masjid terapung.

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
dulu hanya tau lewat sejarah. alhamdulillah qodarullah bisa menginjakan kaki di selat malaka.. jalur “emas” pelabuhan pedagangan pada masanya.
mampir ke masjid terapung.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kepada biru Yang terjeda sekian waktu Yang tenang dan teduh Juga misterius yang ada di lubuk ° ° ° ° Lautan lepas Biru 💙 #blue #sea #lautanlepas #selatmalaka #nikon_photography #Malaysia #exploremalaysia #thallasophile (at Selat Malaka) https://www.instagram.com/p/BwhZnofBNzp/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=w6u7er4g5z8u
Pantai Pulau Beting Aceh Rupat Utara Rupat - Bengkalis Riau #ayokeriau Pasirnya berbeda dgn pasir pantai lain. Karena pasir pantai beting aceh jika bergesekan akan berbunyi berdecit. Kami menyebutnya Pasir Berbisik. Kami telah membuat video bunyi pasir tersebut. @Regranned from @abdulh_nasution - ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ Lokasi: Pantai Pulau Beting Aceh, Rupat Utara, Riau. 🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹 #exploreriau #pesonaindonesia #Riau #indonesia #pesona #pulau #rupat #rupatutara #island #beach #betingaceh #bengkalis #selatmalaka #wonderfullindonesia #telkomselmerahputih #pariwisatariau ___________________________________________________ @riaumagz @dinaspariwisatariau @pariwisata.riau @genpi.riau @bengkalisku @exploreriau @bengkalis_riau @riau.go.id @riauku @tripriau @humas_riau
Asal Usul Pulau Seribu Duyung
I.
Dahulu kala, negeri Melaka yang dipimpin oleh Kesultanan merupakan pusat perdagangan yang begitu termasyur dan terunggul. Masyarakat dari berbagai belahan bumi berbondong-bondong untuk ikut berdagang di Kota Melaka. Saudagar dari Gujarat dan Benggala membawa kain khas negaranya yang indah dan lembut, saudagar dari Cina membawa keramik – keramik dengan desain yang menarik hati, saudagar Aceh dan Jawa membawa rempah-rempah yang wangi hasil tanam para petani. Bahkan, dengan kedatangan saudagar Aceh dan Jawa ini, selat Melaka menjadi pusat perdagangan rempah yang paling penting di dunia. Di bandar Melaka, mereka saling bertukar barang dagangan dan membawa hasil tukar itu ke negara masing-masing. Perdagangan begitu ramai. Konon, saat itu tidak kurang dari 82 bahasa dituturkan oleh para pedagang.
Setiap hari, selat Melaka semakin ramai dikunjungi para saudagar dari berbagai Negara, termasuk para pelaut yang melintasi selat tersebut. Kegiatan perdagangan semakin berkembang pesat, selat Melaka pun menjadi selat tersibuk di dunia. Keramaian selat Melaka sebagai pusat perdagangan semakin terdengar ke berbagai penjuru dunia.
Di belahan dunia lain, Portugis dari negeri yang jauh di Barat yang saat itu telah tiba di India, mendengar tentang keramaian selat Melaka. Bagaikan mencium aroma rempah dari kejauhan, hasrat mereka menggebu untuk menguasai jalur rempah yang termasyur itu. Untuk itu, mereka berniat merebut Melaka dari tangan Kesultanan. Jenderal Rui De Brito Patalim segera diminta untuk memimpin pasukan yang bersiap berlayar dan menyerang selat Melaka.
Pasukan bersenjata lengkap Portugis berlayar berbulan-bulan menyusuri lautan. Hingga kemudian di tahun 1511, setelah penyerangan yang besar, Kota Melaka jatuh ke tangan Portugis. Selat Melaka pun turut berada di bawah kekuasaannya. Jenderal Rui dengan bangga mengumumkan kemenangannya di depan pasukan, warga dan para saudagar di bandar Melaka.
‘Hai para pasukanku tercinta dan saudagar-saudagar yang saya hormati, hari ini kami adalah penguasa kalian. Kami, Portugis, mampu menaklukan kesultanan Melaka ini dengan penuh perjuangan dan tidak mudah, maka dengan itu, kami meminta kalian para saudagar harus mematuhi aturan baru yang kami buat”.
Sejak itu, Portugis mengenakan pajak yang tinggi kepada setiap kapal yang berlabuh. Aturannya, semua kapal yang berlabuh harus ijin dan membayar pajak yang tinggi sesuai dengan aturan Portugis. Kondisi itu menyebabkan pedagang-pedagang memindahkan tujuan berdagangnya, sehingga Melaka menjadi sepi. Perdagangan Islam berpindah ke Aceh, Pedir dan Brunei. Pedagang dari Selatan berpindah ke Johor dan Batavia.
Portugis kecewa dengan keadaan itu. Mereka mengerahkan segala upaya untuk membuat Melaka kembali ramai. Portugis membangun rumah-rumah kedai yang besar dan cantik sebagai tempat persinggahan dan berdagang para saudagar. Berbulan-bulan berlalu, upaya tersebut tidak terlalu membuahkan hasil. Tidak ada jalan lain, Portugis pun menggunakan metode yang sedikit memaksa.
Portugis meletakkan satu regu polisi laut di tengah selat yang dipimpin oleh Kapten Alfonso Garcis de Solis, untuk menarik upeti dan pajak bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Melaka, baik yang hendak berdagang di Kota Melaka mau pun yang sekedar lewat. Tidak hanya di situ, mereka bahkan menghalau sambil memaksa kapal-kapal yang sekedar lewat tersebut agar mau mampir ke Kota Melaka, dan mengharuskan saudagar yang melakukan kegiatan perdagangan di selat Melaka untuk memberikan 10% dari hasil dagangnya. Jika ada kapal yang tidak mau membayar upeti dan tidak mendapat ijin, maka Portugis berhak untuk menenggelamkan kapal tersebut. Demikian aturan baru yang disebarkan ke seluruh penjuru selat tanpa negosiasi.
Peraturan itu tidak saja ditujukan kepada saudagar dan pedagang, namun juga kepada nelayan lokal yang memancing di sekitar wilayah Selat Melaka.
Aturan yang diterapkan oleh Portugis merugikan banyak saudagar dan pedagang yang berasal dari banyak wilayah penjuru dunia itu, tak terkecuali nelayan. Mereka sungguh kesal melihat ulah Portugis yang semakin menjadi-jadi. Tapi ada daya, mereka hanya pedagang yang membawa barang-barang dagangan, tanpa persenjataan.
Portugis mendapatkan banyak musuh, khususnya kerajaan-kerajaan tetangga. Mereka berusaha menyerang Bandar Melaka beberapa kali, seperti kesultanan Aceh dan Johor. Namun, usaha-usaha tersebut tidak mencapai keberhasilan yang gemilang.
II.
Hari-hari Kapten Alfonso Garcis de Solis sebenarnya cukup membosankan. Lamunannya berisi umpatan-umpatan mengutuk penempatannya di tengah laut untuk mengamati kapal yang berlalu lalang siang dan malam. Ia hanya duduk dan menerima laporan-laporan dari anak buahnya. Laporannya berkisar dua hal, jumlah upeti yang mereka dapatkan atau kapal-kapal mana saja yang siap ditenggelamkan. Namun, hidupnya tak seburuk itu pula, Ia punya waktu mendarat ke bandar selama satu hari dalam sepekan, tepat di hari sabat. Orang-orang di pelabuhan begitu hapal perilakunya ketika turun dari kapal. Begitu mendarat, ia akan disambut kuda miliknya, dan segera memacunya cepat-cepat menuju kedai minum. Ia menghabiskan satu-satunya hari yang ia syukuri di kedai minum itu.
Alfonso baru saja bangun dari tidur mabuknya di sebuah meja kecil di sudut paling belakang rumah kedai langganannya. Sudut itu tempat favoritnya, agak sepi. Meskipun di bagian depan rumah kedai digunakan oleh pemiliknya sebagai restoran, yang ramainya minta ampun. Pemiliknya, seorang peranakan Cina bernama Chung Wa tertawa kecil melihat Alfonso sudah tersadar. Lekas-lekas ia menghampiri Alfonso, dengan sedikit berbisik penuh kesopanan dicampur keengganan, ia memberitahu Alfonso bahwa anak buahnya sudah berdiri menjemputnya di depan kedai sejak dua jam lalu. Alfonso menggerutu menyesali betapa sialnya ia mempunyai anak buah yang begitu takut padanya, bahkan hanya sekedar untuk membangunkannya dari tidur. Ia ingat betul, di dalam bulan ini ia sudah terlambat berlayar tiga kali, ia tahu betul setelah ini Sang Jenderal akan memaki-makinya dan menyebutnya sebagai pemabuk.
Beberapa jam kemudian ia sudah berada di atas kapalnya. Wajahnya tampak masih memerah. Bukan karena mabuk. Benar saja, ia baru saja terkena makian Sang jenderal. Makian itu terlontar dari mulut yang hanya berjarak kurang dari sepuluh senti dari wajahnya. Ah, Alfonso enggan mengingat kejadian tak mengenakkan satu jam lalu itu. Ia melemparkan pandangannya jauh ke lautan dan menatap birunya laut dalam-dalam. Berkhayal tentang wilayah-wilayah lain yang ingin disinggahinya. Membayangkan bentuk tanaman rempah-rempah yang belum dijumpainya. Namun sialnya, rasa kesal akibat makian atasannya masih bersisa. Ia mengkerutkan dahinya. Tak mau berlarut-larut dengan rasa kecewanya, Ia membakar sebatang rokok kretek yang wanginya selalu membuat tersenyum, lalu menyesapnya nikmat.
Kapal Alfonso baru berlayar beberapa puluh kilo meter dari bandar, ketika anak buahnya tergopoh-gopoh datang kepadanya. Melaporkan, bahwa ada satu kapal kecil Cina pengangkut keramik enggan membayar pajak. Alfonso mengambil teropongnya dan mengamati kapal kecil itu. Enggan berpikir panjang, Alfonso memberi perintah untuk menenggelamkan kapal kecil tersebut. Ia kembali duduk di bangku malasnya, dan lanjut menyesap kreteknya.
Alfonso baru saja duduk kembali di kursinya, lamat-lamat terdengar suara aneh dari dalam laut tak jauh dari kapalnya. Suara binatang, entah binatang apa. Semakin lama semakin riuh. Alfonso penasaran dan segera berdiri di atas geladak kapal melongok ke samping kapalnya. Seekor binatang muncul menyembulkan kepalanya. Ah, hanya ikan, ujar Alfonso. Namun ia segera ragu dan menatap ikan itu dengan seksama. Alfonso kaget bukan kepalang, ia melihat ikan yang bentuk dan ukurannya tidak seperti ikan. Binatang itu besar dan gemuk penuh lemak, wajahnya tampak buruk seperti iblis. Seumur hidupnya, Alfonso belum pernah melihat binatang laut seperti ini.
Rasa kaget Alfonso berubah menjadi ketakutan, tubuhnya gemetar bergidik. Bukan saja karena keanehan bentuk ikan tersebut. Tapi karena ikan yang tadinya hanya satu berjumlah menjadi puluhan, menjadi ratusan, dan menjadi ribuan. Ikan-ikan itu muncul satu persatu dan berkumpul persis di samping kapal Alfonso. Dengan kengerian yang menyerang seluruh tubuhnya, tanpa pikir panjang, Alfonso memerintahkan anak buahnya untuk kembali berlayar ke pelabuhan.
Sesampainya di pelabuhan, Alfonso cepat-cepat menceritakan cerita menyeramkan itu kepada Jenderal. Malang, Jenderal dan banyak orang yang berada di pelabuhan tak percaya dengan cerita yang terdengar bak dongeng tersebut. Jenderal malah menuduh Alfonso berhalusinasi karena terlalu banyak minum. Alfonso dianggap tidak cakap dalam mengemban tugas penting mengontrol Selat Melaka, maka Alfonso pun dipindahtugaskan ke wilayah lain. Konon, Alfonso dipindahkan ke Tulang Bawang, Lampung. Di sana, untuk mengamankan perdagangan rempah, ia menghabiskan sisa hidupnya untuk melawan Kesultanan Banten, yang juga berusaha menduduki daerah Tulang Bawang.
Meskipun ketika itu tak ada yang percaya dengan kisah Alfonso yang melihat kawanan Duyung berjumlah seribu, namun kita tahu, cerita itu benar adanya. Beberapa orang menyaksikannya, kemudian menuturkannya dari mulut ke mulut.
III.
Malam itu selepas Isya, seperti hari-hari biasanya Naning menyiapkan perahunya. Angin kali ini bersahabat, pertanda bahwa setidaknya ia bisa berlayar sedikit lebih jauh dari bibir pantai. Tangkapan ikan malam ini akan banyak, pikir Naning. Ditemani langit cerah berbintang, angin sepoi-sepoi, kapal Naning berlayar dengan tenang. Jam demi jam berlalu, kapalnya seperti sendirian saja malam itu di lautan. Naning mengingat pada masa-masa saat pergi melaut bersama Ayahnya sewaktu kecil dulu. Kapal mereka sering berpapasan dengan jung-jung dan galai-galai yang berasal dari berbagai tempat beragam, menuju bandar Melaka dengan membawa berbagai macam dagangan. Sepulang melaut, Naning dan Ayahnya pasti mampir ke bandar Melaka untuk menjual hasil tangkapan. Ramainya bandar dengan berbagai macam manusia serta berbagai macam barang dagangan sangat menarik perhatian Naning kecil. Ia masih ingat betul ketika dihadiahi uang berbentuk buaya oleh seorang pedagang dari Arab sambil diajari mengucap syahadat. Atau, pengalamannya menemani Ayah untuk membeli cangkir-cangkir keramik yang cantik sebagai oleh-oleh untuk Ibu di rumah. Naning selalu suka berada di sana.
Namun, pikirnya, Melaka sekarang tak seperti dulu, Melaka sekarang tak lagi ramai. Benteng tebal yang didirikan Portugis telah menghalangi pemandangan syahdu cahaya temaram kota Melaka dari kejauhan. Jung-jung yang berlabuh tidak lagi banyak. Wilayahnya untuk mencari ikan pun kian sempit. Ia tidak pernah berani berlayar jauh ke tengah Selat. Di sana sudah menunggu satu armada Portugis yang bersiap untuk menarik pajak berjumlah besar, memaksa kapal-kapal untuk mampir ke Bandar Melaka, bahkan sesekali menenggelamkan kapal yang menolak aturan-aturan Portugis. Bagi nelayan kecil seperti Naning, wilayah tengah Selat merupakan wilayah terlarang.
Naning terbangun oleh cahaya matahari yang mulai naik. Rupanya, Ia tertidur terlalu lama. Subuh tadi seharusnya ia sudah pulang. Naning segera menarik jala yang tadi malam disebarnya. Hasil tangkapnya lumayan. Ikan-ikan hasil tangkapan segera menggelepar di atas kapal. Tak lama, Naning sadar bahwa tak jauh darinya terdapat armada polisi laut Portugis. Naning kaget, mengapa ia harus berpapasan dengan kapal Portugis menjadi pertanyaan besar. Ia mengira bahwa saat tertidur, angin dan arus laut membawa kapalnya ke tengah Selat. Namun, tidak juga. Naning masih bisa melihat bandar Melaka di kejauhan, meskipun samar-samar karena tertutup kabut pagi. Ah, berarti hari ini adalah hari yang sial, pikir Naning. Bukankah seharusnya armada Portugis sudah berangkat ke tengah selat sebelum matahari naik? Naning menggerutu. Ia tidak mau menambah masalah, cepat-cepat dia memutar balik haluan kapalnya, menuju bibir pantai.
Belum sempat mengayuh kapalnya bergerak lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari lautan. Angin menjadi kencang. Naning menguatkan tali layar Jung kecilnya. Terdengar seisi kapal armada Portugis menjadi riuh berteriak. Kehebohan tengah terjadi di atas kapal itu. Naning tidak berani mendekati perahu yang lebih tinggi dari pohon kelapa tersebut. Suara gemuruh tadi terdengar semakin jelas dan kencang, seperti ratusan orang yang saling bersahutan keras sekali. Lalu, Naning melihat Kapten armada laut Potugis naik ke atas geladak dan berteriak memerintahkan sesuatu. Armada Portugis berputar ke arah pelabuhan Melaka dan melaju dengan cepat. Selanjutnya, Naning dapat melihat apa yang ada di balik Kapal armada Portugis tadi.
Tak dinyana, Ia melihat ratusan Duyung, atau masyarakat di sana menyebutnya Dugong, yang berkerumun. Duyung merupakan binatang yang tidak asing bagi Naning dan mereka yang tinggal di selat Malaka, juga bagi bangsa-bangsa di wilayah selatan laut Cina. Kerap juga disebutkan di dalam berbagai hikayat. Naning penasaran dengan apa yang terjadi dan mendekat ke arah kerumunan Duyung.
Perlahan kerumunan Duyung ini membentuk sesuatu yang dari kejauhan sekilas terlihat seperti sebuah pulau. Naning melihat ini seperti sebuah keajaiban. Ketika semakin mendekat, Ia melihat ada beberapa kapal yang juga berlayar mendekati kerumunan Duyung. Diketahui kemudian, kapal itu adalah Syamsudin Al-Sumatrani dari Aceh, Armada laut utusan Pati Unus dari kerajaan Demak, kapal seorang saudagar dari Tumasik dan kapal saudagar dari Ciina.
Ribuan Duyung saling tumpang tindih bertumpuk membentuk gundukan. Dari kejauhan memang terlihat seperti sebuah pulau pasir yang menyembul di atas permukaan laut. Suara yang tadinya terdengar riuh meraung-raung perlahan menjadi sayup. Seakan hanya untuk memanggil mereka yang berada di dekatnya untuk mendekat. Dengan agak ragu, Naning turun dari perahunya dan menaiki pulau itu. Tak disangka, permukaannya keras sekali. Ia seperti sedang menginjak tanah atau mungkin pasir pantai. Air laut menjadi tenang dan Duyung-Duyung tak lagi mengeluarkan suara. Seakan menyetujui ketika Naning terus menaiki ‘pulau’ ini. Para pelaut lain pun mengikuti apa yang dilakukan Naning. Bahkan, Syamsudin Al-Sumatrani terus bertasbih melihat keajaiban ini.
Mereka yang berada di atas pulau ini, sama-sama menyaksikan takjub bagaimana polisi laut Portugis yang begitu ditakuti oleh para pedagang dan pelaut lari tunggang langgang kembali ke pelabuhan setelah melihat ribuan duyung ini. Binatang yang tidak membahayakan dan tampak biasa saja bagi para pelaut yang berkumpul tersebut. Melihat kejadian itu, mereka seperti tersadar bahwa bagaimanapun, seharusnya Portugis bisa dikalahkan. Lalu mulai bercerita satu sama lain, bahwa sejak kedatangan Portugis, Selat Melaka tak lagi menjadi milik bersama seperti dahulu. Masing-masing merasa dirugikan dengan monopoli perdagangan serta penguasaan dari bangsa Portugis.
Di atas Pulau Seribu Duyung ini kemudian, mereka bersepakat untuk membuat sebuah perjanjian. Bahwa, selat malaka harus tetap menjadi milik bersama, tak boleh ada satu bangsa yang memonopoli. Juga berjanji untuk bahu-membahu mengusir Portugis dari Selat Malaka. Seperti duyung bersatu menjadi seribu.
Saudagar dari Cina menawarkan piring keramik yang dibawanya sebagai sebuah tanda perjanjian. Lantas, Naning meminta semua yang berkumpul di pulau itu untuk memberikan barang yang dibawanya untuk diletakkan dalam piring keramik tersebut.
Syamsudin Al Sumatrani lantas mengeluarkan sekantung Lada terbaik dari Aceh.
Seorang dari Armada Pati Unus menaburkan cengkeh ke atas piring keramik itu.
Saudagar dari Tumasik mengeluarkan satu biji pala dari kantungnya, yang ia dapat dari Maluku.
Sementara Naning memberikan satu kantung beras yang menjadi bekalnya melaut. Mereka meletakkan prasasti itu di atas pulau yang tersusun tersebut dan sepakat menyebut peristiwa ini sebagai Perjanjian Seribu Duyung.
Angin bertiup kembali, mengembangkan layar masing-masing kapal. Semua berlayar pulang dengan percaya diri dan tekad baru. Terlihat dari kejauhan, Pulau Seribu Duyung itu seperti menyemburatkan cahaya ke atas langit. Perlahan ribuan duyung itu mengurai dirinya menyatu kembali.
Diketahui beberapa tahun kemudian, terjadi pemberontakan-pemberontakan terhadap kekuasaan Portugis di Melaka. Kerajaan Aceh melancarkan serangan terbesarnya dan berhasil membuat Portugis kewalahan. Pati Unus dari kerajaan Demak pun memimpin sendiri serangan melawan Portugis. Tak terkecuali Naning, bersama penduduk desa lainnya, membakar gudang makanan Portugis. Walau kemudian Malaka jatuh ke tangan Belanda dan kemudian Inggris, namun perjanjian di atas Pulau Seribu duyung menjadi kisah kecil yang sering diceritakan secara turun menurun mengenai tekad untuk menjaga apa yang menjadi milik bersama.
*Lokasi Pulau Seribu Duyung
https://goo.gl/maps/fRL4Jgt4V1y
Let's join and spend your time with @sap.2stosa Stosa Art Parade 2 @district10medan this evening!Accompanied by Selat Malaka and Jet Pistol Band. Enjoy your Friday evening! #district10medan #restaurant #bar #accoustic #medan #medanreview #kulinermedan #akustikgitar #perform #band #selatmalaka #selatmalakamdn

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
#tanparuang #selatmalaka #selatmalakamdn #medan #indiemedan #indiemedanbung
Mari berbagi bersama @1000_guru_medan ________________________________ Meet and Greet 1000 Guru Medan. Sabtu, 17 Oktober 2015. Pukul 14.00-selesai Di MIC Cafe (jl. Gagak hitam simpang jl.amal - Ringroad Medan) _____________________________ Pengisi acara : 1. Jemi Ngadiono (Founder 1000 Guru) 2. Ofalyn Octarya Sitepu (Duta Pariwisata Umatera Utara 2012) 3. Bebie Ayura (Finalis Putri Indonesia 2014) Dimeriahkan oleh: - Selat Malaka Didikung Oleh: - Matador Country Selain itu ada juga booth: 1. Merchandise booth (menjual kaos, mug, pin, stiker 1000 Guru Medan) 2. Donation point (tempat penerimaan donasi berupa alat tulis, buku pelajaran bekas/baru, perlengkapan sekolah, dll) Untuk ikut MnG 1000 Guru Medan ini, cukup membeli tiket Rp.40.000 (snack, merchandise, donasi) Untuk pemesanan tiket, silahkan hubungin CP di foto ya. Peserta terbatas. Ayo berbagi dengan adik-adik di seluruh pelosok negeri. Salam 1000 Guru Medan! Horas! #1000guru #1000_guru #1000gurumedan #1000_guru_medan _____________________________ #selatmalaka #selatmalakamdn #tanparuang #indiemedan #jazz #blues #medan #bandmedan #charity #indiemedanbung
12 Sept 2015 , 20.00 WIB Selat Malaka, terbentuk awal 2014. Band Kota Medan yang mengusung nuansa jazz kontemporer dan sensasi old school jazz dengan sentilan blues dan rock . "Gema senyum itu telah hilang, temani aku dari tempat Tanpa Ruang itu, ibu.." Setetes kisah tentang penyesalan yang dituang dalam nada oleh @selatmalaka_ dalam lagu "Tanpa Ruang" Dan kami persilahkan, nikmatilah sebuah karya ini di soundcloud.com/selatmalaka #TanpaRuang #selatmalaka #selatmalakamdn