Sedimen
Pikirkan dirimu bukan sebagai sebuah sungai yang mengalir, tapi sebagai dasar dari sungai itu.
Setiap hari, setiap pengalaman, setiap kegembiraan dan kekecewaan, adalah butiran-butiran pasir dan lumpur yang dibawa oleh arus waktu, lalu mengendap di atasmu.
Saat kau muda, arusnya deras. Semua hal terasa baru, dan sedimen yang mengendap masih tipis. Kau masih bisa merasakan dasar batumu yang asli.
Tapi waktu terus berjalan. Arusnya melambat, dan sedimen itu terus menumpuk, lapis demi lapis.
Lapisan dari hari-hari yang membosankan. Lapisan dari malam-malam yang penuh kecemasan. Lapisan dari tawa yang sudah kau lupa suaranya. Lapisan dari wajah-wajah yang datang dan pergi. Semuanya mengendap. Semuanya memadat.
Hingga suatu hari, kau menyadari sesuatu yang mengerikan.
Kau tidak lagi bisa merasakan dasar batumu.
Kau mencoba menggali ke bawah, mencoba menemukan kembali siapa dirimu di awal, tapi yang kau temukan hanyalah lapisan-lapisan dari dirimu yang kemarin, yang minggu lalu, yang lima tahun lalu.
Dan kau sadar, kau tidak lagi bisa berubah dengan cepat. Kau tidak bisa lagi menjadi apa pun yang kau mau. Karena untuk mengubah arahmu sekarang, kau tidak hanya harus melawan arus yang ada, tapi kau juga harus mengeruk ribuan lapisan sedimen yang telah mengeras menjadi batu di dalam dirimu sendiri.
Roni. | 24 Agustus 2025














