Waktu itu pernah buat survey kecil-kecilan ke teman terdekat. Hasilnya seperti yang ada di gambar :) speechless, haru, dan rasanya gak pernah menyangka. Dari sebagian besar teman yang mengatakan bahwa diriku adalah seorang pen-de-ngar yang baik, rasanya tak percaya. Karena ternyata, dampak hanya dari sekadar mendengarkan -yang padahal menjadi pendengar bukan hal yang mudah, bisa memiliki arti yang besar untuk orang lain.
Entahlah, aku sadar bahwa diriku ini bukanlah
orang yang ahli dalam berbicara, tapi menjadi seorang pendengar ternyata bisa membahagiakan banyak orang. Aku memang suka saat mendengar orang bercerita, menyimak setiap inci dari cerita-cerita mereka, meski kadang aku tak punya solusi apapun atas setiap perkara mereka. Tapi yang kutau, semua orang butuh didengar, hanya cukup didengarkan tanpa perlu di komentari, tanpa perlu dihakimi.
Diusia yang sudah kepala dua ini aku baru tau sekarang, arti sebuah namaku yang sesungguhnya. Sewaktu kecil, aku selalu bertanya pada umi "mi kenapa sih namanya Qotrunnada Fajriah? Orang-orang selalu salah menyebutnya, katanya susah. Emang artinya apa?" Umi menjawab dengan tegas "artinya tetesan air embun di waktu pagi"
Lalu aku bingung, kenapa gitu. Biasanya makna dibalik nama seseorang itu kalau gak cerdas, pintar, cantik, atau apapun yang jelas artinya tentang sifat baik. Kenapa justru arti namaku sulit dimaknai, terdengar seperti anak indie :D
Memaknai embun pagi. Bagiku embun adalah sesuatu yang sejuk dan menyejukkan, beningnya dapat menyucikan, dan ia datang ke bumi dengan segala kerendahan hatinya membawa sesuatu yang berharga. Lebih dari segalanya, embun datang bukan hanya menjangkau pepohonan yang tinggi saja, tapi untuk seluruh bumi sampai menjamah rerumputan yang paling mendasar. Embun datang selalu di awal waktu. saat fajar datang. Saat seluruh manusia sedang bersiap untuk memulai harinya, ia datang untuk memberi kesejukkan bagi setiap yang memaknai dengan setulus hati. Ia tetap hadir dengan segala kondisi, meski ada badai, hujan, bahkan angin kencang. Ia tak peduli. Ia tetap hadir dengan kebijaksanaanya yang menyelimuti, memberikan aromanya yang wangi. Setidaknya begitu makna embun, bagiku.
Ku harap, aku bisa menjadi layaknya embun dipagi hari yang dapat menyapu debu di bumi, layaknya embun yang jatuh mempesona dengan cara yang sederhana, layaknya embun yang selalu dinantikan kehadirannya oleh banyak jiwa, layaknya embun yang tetap jatuh meski ada banyak pesaing yang lebih menakjubkan, ia memilih jatuh dengan caranya sendiri.
Dan aku ingin berterima kasih kepada setiap nama yang tulus hadir menemaniku sedari dulu, yang sudah mempercayaiku sebagai tempatnya untuk bercerita, yang sering menyebut namaku dalam tiap doa-doa, terima kasih telah mengajariku makna hidup yang sesungguhnya, terima kasih telah meberikanku pelajaran yang begitu berharga, terima kasih telah menjelaskan tentang pemahaman - pemahaman yang benar adanya, terima kasih sudah mau menceritakan bahwa mimpi itu benar - benar ada selagi kita percaya untuk terus berusaha sekuat tenaga
Juga, kuucapkan terima kasih banyak kepada Umi yang telah memberikan nama yang sungguh begitu dalam pemaknaannya. Benar, setiap nama adalah do'a. Doa yang abadi, doa yang senantiasa selalu disebut-sebut meski nama itu sudah terpampang di batu nisan sekalipun.
Dan satu hal, menjadi embun bukanlah semata - mata takdir yang dipasrahkan, semuanya perlu diupayakan. Sesuatu yang baik tidak akan berfungsi jika tidak dipakai. Demikianlah, semoga setiap kita bisa terus mengupayakan perihal kebaikan💙
*Ucapan kusus terima kasih kepada teman-teman yang tulisannya ada di screenshoot, terima kasih yaa sudah mau di repotkan :)
Bekasi, hujan dibulan Desember | Qotrunnada Fajriah