"Dalam setiap sajian makanan ada usaha, cinta dan doa di setiap proses pembuatannya."
- Fikratus Sofa Muzakkiya -
Setelah menjadi seorang Istri dan Ibu, aku sadar bahwa pandai memasak memang bukan kewajiban setiap seorang Ibu. Tapi aku sadar bahwa gizi anak-anakku dan keluargaku bergantung pada bagaimana aku bisa mengolah makanan dan bahan yang ada, aku juga sadar dari memasak itu pulalah mengajarkanku arti kesabaran. Kesabaran bahwa setiap proses mengolah bahannya berbeda dan membutuhkan ilmu dan perasaan.
Dulu sebelum menikah aku hanya menganggap perihal sepele tentang makanan, jika lapar tinggal pesan atau beli. Jika kenyang, tak perlu dihabiskan. Sesimple itu. Nyatanya setelah menjadi seorang ibu tak semudah anggapan itu.
Memasak kini menjadi bahan pertimbangan sekali, menu apa yang disukai suamiku, anak pertama atau keduaku. Yang seringnya dalam keluarga mood makannya berganti, yang terkadang berbeda selera atau bahkan cepat bosan.
Terkadang masak banyak, bosan. Masak sedikit kurang. Atau masak banyak bersisa, masak sedikit harus memasak ulang. Itulah juga kadang menjadi gejolak perasaan.
Disatu sisi menjadi Ibu dan Istri adalah harus pandai mengelola pengeluaran. Dengan memasak menjadi salah satu cara untuk lebih hemat dan uang jajan nya bisa dialokasikan demi kebaikan lain.
Dulu sering sekali aku komplain ke orang tua (Ibu) tentang menu nya yg kurang varian, atau rasa yg kurang Pas. Ternyata memang tak semudah kita makan.
Sedih, ketika masakan kita tak dihargai rasanya nampak sia-sia segala usaha dan waktu kita. Apalagi jika masakan kita tak dilirik sekalipun. Atau ada sisa masakan kita yang tak habis. Sedih sekali. Rasanya tak tega jika harus dibuang meski tak ada lagi yang ingin memakan. Membayangkan segala proses nya.
Itulah wahai suami, mohon mengertilah jika istrimu bertanya tentang masakannya yang memang rasanya negatif, tolonglah ucapkan positif nya dulu baru negatif. Jangan sebaliknya. Contoh: "Rasanya hambar tapi pas matangnya". Coba dirubah, "Ini enak, pas matengnya, cuma kurang gula garem sedikit aja pasti tambah enak."
Dari perbandingan itu, istrimu pasti akan merasa dirinya dihargai usahanya dalam membahagiakan suami nya melalui masakannya.
Dalam adat Jepang, biasanya sebelum makan semua anggota Keluarga mengucapkan "Terima kasih makanan nya" mereka pun makan dengan suka cita. Dari sini kita bisa belajar menghargai orang yang memasak untuk kita dan bersyukur atas nikmat Tuhan.
So, buat para suami kurangilah bertanya perihal hasil masakan istrimu. Seperti "Berapa harganya", "Kenapa beli bahan ini buat dimasak", "Beli gini dimana" dll.
Ucapkanlah terima kasih dan biarkan komentar positif merona hati istri mu terlebih dahulu sebelum kamu menyikapi masakan negatifnya. Karena jika istrimu merasa dihargai masakannya, Ia pun akan berusaha memasak lebih baik lagi untuk keluarga nya.
- Fikratus Sofa Muzakkiya -