Ruang Sendiri
Banyak hal yang mesti diketahui oleh diri sendiri. Namun, gak semuanya bisa diketahui. Kita abai pada diri sendiri dan menyibukkan diri untuk mengurus kebutuhan apa yang orang lain inginkan. Setelah sadar bahwa kita gak berarti bagi orang lain lalu raga ditampar sekuat tenaga dengan pertanyaan,
Kamu sayang gak sama diri sendiri? Kamu sudah ngerasa bersyukur sampai dititik ini? Kamu sudah bisa mengalahkan ego sendiri? Kamu sudah bisa mengatasi agar tak terlalu banyak menyalahkan diri? Kamu peduli rasa sakit yang ada di tubuhmu? Peduli?
Dan beberapa pertanyaan yang saya enggan sebutkan di sini tapi pertanyaan itu ada di masing-masing diri. Tentu, semua pertanyaan itu mesti dijawab oleh diri sendiri. Bukan orang lain. Bukan memaksa orang lain untuk suruh jawab. Tanya pada diri, komunikasikan bahwa kamu jangan sampai menyia-nyiakan dirimu sendiri.
Sekadar mengingat, segala aktivitas yang sudah kita lakukan pasti akan membuat kita lelah. Membuat isi pikiran juga ikut lemah. Tapi siapa yang pegang kendali semuanya? Kita atau orang lain? Terkadang kita dijejali kesibukan hingga diri merasa paling lelah. Kita perlu mengakui bahwa segala sesuatu akan bertemu kata bosan yang tak bisa dihindarkan. Saatnya, kasih ruang ke diri. Kasih ruang kalau dirasa lelah, ambil jeda lalu istirahat.
Kita marah pada segelintir orang yang memancing amarah. Kita menangis pada segelintir orang yang membuat kecewa. Kita peduli pada segelintir orang yang membutuhkan bantuan. Kita senang pada segelintir orang yang membuat tawa di sekeliling kita. Segala situasi yang tercipta menimbulkan kesan pada diri kita berapa banyak ekspresi yang dikeluarkan dalam sehari? Segalanya balik pada dirimu sendiri, ruang sendiri yang kamu buat dalam kehidupan yang sedang terjadi.
Sering kali kita tak bersyukur pada diri karena kurang segala sesuatu. Kita meminta apa yang tak bisa Tuhan penuhi. Kita meminta hal lebih yang akhirnya jadi senjata makan tuan hingga timbul kecewa pada kenyataan. Tumbang pada harapan dan rusak semua asa yang sudah dirancang sejak dini. Sekali lagi, rasa bersyukur itu sudah ada. Kadang kala rasa syukur itu gak kita rasa. Gak pernah kita masukan dalam hitungan menit. Padahal Tuhan baik, Tuhan memberi kita umur untuk banyak bersyukur.
Seandainya tinggal di satu ruangan gelap dengan lampu mati. Maka apa yang akan dilakukan? Menangis, tertawa, takut, atau apa ayo sebutkan lagi selain yang tadi? Bagi saya ada yang lebih ngena ke hati yaitu berdoa. Mau dalam keadaan apapun dalam gelap gulita sekalipun lakukan doa. Bilang ke Tuhan apa yang dirasakan dan minta perlindungan agar hati kita terasa aman. Semua ketakutan akan terhindarkan dengan rasa dekat dengan Sang Pencipta. Meski ruangan gelap tapi tetap ada yang terang yaitu ruang sendiri, hati kita sendiri.
Selamat menyelami diri agar gak terbawa arus yang tak nyaman. Ruang sendiri yang akan menuntun hidup kita selalu terang. Bukan ruang orang lain, bukan. Ini perihal ruang sendiri karena proses menata ruangan perlu kesadaran yang dalam. Jika salah coba perbaiki hingga benar kembali. Jika benar tetap pertahankan dan jaga hingga diakui memberi efek yang baik.
Ruang sendiri apa?
Ruang sendiri itu adalah hati kita
Kita yang menata apik seisi ruangan
Kita yang merapikan kembali ketika tak beraturan
Kita selalu berhubungan dengan ruangan itu
Dari lahir hingga mati kembali
Tetap, yang memegang kendali
Kita sendiri yang memiliki hati
Bagi saya, ruang sendiri adalah ruangan yang paling mahal di muka bumi. Jika ruang sendiri tak mampu diciptakan maka untuk apa setiap orang mempunyai perasaan. Orang punya emosi memuncak tetap yang harus diluluhkan adalah hati. Satu-satunya perasaan yang kita miliki. Dijaga untuk diri sendiri karena kita yang punya peran inti di muka bumi.
Semoga kita selalu baik pada ruang sendiri. Sesekali kasih apresiasi ke diri, buat ruangan itu hidup jangan seperti ruangan yang tak berpenghuni. Hati itu selalu hidup jika didalamnya dikasih iman. Iman yang menggerakan hati manusia punya perasaan yang nyaman menjadi diri sendiri ataupun saat berada dalam lingkungan orang asing.
Ruang sendiri adalah hati. Gudangnya perasaan ada di hati dengan bercampur iman maka hidup akan terasa nyaman.
@diksimelancholic














