Jangan Tertipu Amal yang Terlihat
Amal yang tampak besar belum tentu berat jika niatnya rapuh.
Sebaliknya, ada kebaikan yang kecil di mata manusia, tidak ramai disebut, tidak banyak diketahui, namun menjadi mulia karena keluar dari batin yang jujur.
Di sinilah seorang hamba perlu banyak takut kepada dirinya sendiri.
Bukan hanya takut malas beramal, tetapi takut ketika amal kehilangan arah; bergerak di luar, namun kosong dari ikhlas di dalam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits yang singkat ini seperti menyalakan lampu di ruang yang paling tersembunyi.
Karena nilai amal tidak berhenti pada bentuknya. Yang ditanya bukan hanya “apa yang dilakukan?”, tetapi juga “untuk siapa?”
Seseorang bisa menolong, namun diam-diam menunggu disebut baik. Bisa memberi, namun batinnya ingin disaksikan. Bisa lelah dalam kebaikan, lalu kecewa karena manusia tidak berterima kasih.
Niat itu lembut. Ia bisa bergeser tanpa suara.
Awalnya ingin Allah. Lalu masuk keinginan dipuji. Awalnya ingin bermanfaat. Lalu muncul rasa ingin diakui. Awalnya sembunyi-sembunyi, lalu mulai berharap orang tahu.
Maka jangan merasa aman dari penyakit yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Berhentilah sebentar sebelum, ketika, dan setelah beramal. Tanyakan dengan jujur:
Jika tidak ada manusia yang tahu, apakah aku tetap mau melakukannya?
Kalau jawabannya mulai keruh, luruskan lagi. Tidak perlu meninggalkan amal yang baik. Tinggalkan saja rasa ingin dipandang.
Sisakan ruang rahasia antara diri dan Allah. Ada sedekah yang cukup diketahui-Nya. Ada doa yang tidak perlu diceritakan. Ada sujud yang tidak membutuhkan saksi selain Rabb semesta alam.
Sebab tepuk tangan manusia tidak bisa menyelamatkan amal yang tidak diterima.
Yang kita butuhkan adalah Allah ridha, meskipun nama kita tidak pernah disebut.
Semoga Allah membersihkan amal kita dari riya, ujub, dan haus pujian; lalu menjadikan yang tersembunyi lebih jujur daripada yang terlihat.









