Mengingat kebaikan Rasulullah SAW
Mengingat cerita tentang Rasulullah SAW, walau berkali-kali mendengar, tetap menghadirkan rasa keharuan dalam diri kala mendengarkan nya. Rasanya memang, tak kan pernah terbayar apa yang baginda Rasul sudah lakukan pada kita, ummat nya, yang hasilnya dapat kita semua rasakan hingga detik ini. Jarak waktu yang terbentang antara kita dan Rasulullah SAW begitu jauh, namun segala keteladanan yang Rasulullah SAW berikan, membuat segala nya terasa dekat.
Bayangkan saja, seseorang yang tidak mengenal kita sama sekali, dan tidak pernah bertemu dengan kita sama sekali, diujung waktu kehidupan dunia nya, saat sakaratul maut nya, menyebut-nyebut diri kita, ummat ku, ummat ku, ummat ku. Bayangkan, betapa cinta nya Rasul pada kita ummat nya.
Bayangkan, betapa tak mudah perjuangan nya dalam menyebarkan cahaya. Dilempari kotoran, di kejar-kejar bak buronan, hendak dibunuh, caci maki, adalah sesuatu yang lekat dalam hari-hari Rasulullah SAW, namun perjuangannya tak pernah surut, dan kau tau ? Kesedihan yang baginda Rasul rasakan adalah bukan karena memikirkan kehidupan dirinya yang serba banyak diuji berbagai hal, bukan sama sekali, namun kesedihannya adalah apa-apa yang menyangkut perihal ummat yang dicintai nya.
Rasulullah SAW bersedih, mana kala ada orang-orang yang beliau dakwahi, namun tak kunjung mendapatkan hidayah islam. Rasulullah menjadikan dakwah sebagai himmah dalam hidupnya. Dan nanti, saat hari dimana seorang ibu berlari dari anak-anaknya, seorang sahabat berlari dari sahabat karibnya, ya hari dimana tidak ada lagi pertolongan, hari dimana setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, saat itu satu-satu nya orang yang sibuk dengan orang lain adalah hanya Rasulullah SAW, beliau sibuk menyelamatkan ummatnya. Meminta pada Allah untuk dirinya dapat memberikan syafaat pada ummat nya yang walaupun hanya ada iman sebesar biji zarrah :“)
Betapa Rasulullah begitu teramat sangat menyayangi kita, betapa Rasulullah ingin bertemu dengan kita. Lantas kita bagaimana ?
Apakah kita rindu Rasulullah ? Jika benar rindu, apakah kita sudah mengamalkan setiap apa yang dicontohkannya, apakah kita sudah meminta pada Allah dalam setiap do'a-do'a yang terpanjat agar dapat bertemu dengan Rasulullah SAW ? Apakah kita pantas mendapatkan syafaat nya kelak ? Apakah iya kita mengidolakan Rasulullah ?
Dan kita belajar, bagaimana keindahan akhlak lah yang akan menjadi wasilah hidayah bagi seseorang. Betapa banyak yang tersentuh hatinya, karena kebaikan yang ada pada diri Rasulullah SAW. Maka, ngaji nya kita memang harus berbanding lurus dengan semakin baiknya akhlak pada diri. Jika dengan mengaji kita, malah membuat akhlak kita semakin buruk, malah membuat kita semakin merasa surga hanya milik kita, merasa paling shalih, maka periksa diri kita, pasti ada yang salah dalam diri kita.
Semoga kita termasuk ummatnya, yang akan berjumpa dengan nya dan berbaris di belakangnya kelak, Allahumma aamiin :”)
Bandung 17 Februari 2018, dalam macet perjalanan


















