“Rul, masih aktif jadi relawan pengajar? Bukannya lo nggak suka ngajar ya?”
Pertanyaan yang sering saya dapatkan dari orang-orang terdekat yang tahu betul kalau passion saya bukan di dunia ngajar-mengajar. Bentar, harus mulai dari mana yaa ngejelasinnya? Haha.
Dimulai dari: saya suka anak-anak. Bahkan teman dekat saya, Nanda, pernah bilang:
“Yu, semua anak bayik dibilang lucu. Anak SD juga dibilang lucu.”
“Loh emang lucu kan, Nda? Anak-anak itu semuanya lucu hehe.”
“Eh beneran deh ni orang suka banget anak kecil. Nggak semua anak-anak itu lucu tauuk.”
Begitulah saya. Saya suka sekali melihat anak bayi yang sedang digendong, anak bayi yang baru bisa berjalan, dan yang paling suka adalah anak bayi yang sedang tersenyum atau tertawa! Suka banget! Tapi giliran si anak nangis pas digendong, saya gelagapan. Wkwk.
Banyak yang bilang, terutama orang tua baru, bahwa anak itu semacam obat paling mujarab dari berbagai macam penyakit. Kalau lagi jenuh di kantor, banyak deadline, banyak masalah, banyak cicilan (wkwk), dan banyak kekalutan hidup lainnya, ketika pulang dan ngeliat anak-anak menyambut dengan sukacita, semua rasa itu tetiba luluh lantak (kayak lagu yak :p). Katanya sih seperti itu. Dikarenakan saya belum menikah (dan tentu belum punya anak), saya tidak tahu persis bagaimana rasanya. Tapi saya sedikit merasakan kebahagiaan itu saat bertemu adik-adik di setiap sekolah yang saya kunjungi selama menjadi relawan.
Bertemu mereka, lalu tangan saya dicium, dipanggil “ibu”, dan melihat tingkah polah mereka yang lucu, ngegemesin, dan kadang bikin sebel inilah momen yang paling saya tunggu setiap jadi relawan. Seperti ada vitamin dengan dosis yang tinggi masuk ke dalam tubuh saya setelah merasakan momen tersebut. Wajah-wajah polos mereka, rasa ingin tahu mereka, dan semangat mereka meraih cita-cita inilah yang membuat saya ingin lebih banyak bertemu dengan banyak anak di Indonesia khususnya daerah-daerah terpencil.
Alasan lainnya kenapa saya senang menjadi relawan pengajar adalah saya suka bercerita. Haha. Ini betul loh. Saya lebih banyak bercerita dengan anak-anak dibandingkan mengajar. Tentunya bercerita positif ya. Saya suka menceritakan kehidupan saya kepada mereka hingga saya sampai di titik ini. Saya juga bercerita bahwa saya dulu pernah bersekolah di desa kecil yang hampir semua teman saya memutuskan untuk menikah muda (setelah lulus SD dan SMP). Kekurangan biaya menjadi alasan terbesar mereka mengambil keputusan itu. Saya kemudian memberikan pemahaman kepada mereka bahwa biaya jangan pernah dijadikan alasan untuk tidak bersekolah. “Jika kalian mau sukses, mau sekolah tinggi, maka belajarlah yang rajin. Banyak beasiswa untuk anak-anak pintar seperti kalian.” Pesan saya untuk mereka setiap akhir mengajar.
Alasan lainnya adalah saya semakin suka ketemu orang baru. Aneh bin ajaib sih ini sebenarnya. Saya kan tipe yang introvert ya. Ketemu orang baru itu kayak ketemu monster gitu. Haha. Tapi kekurangan orang introvert ini harus sedikit demi sedikit dihilangkan. Saya mulai berorganisasi dengan orang yang usianya berbeda jauh dengan saya, bertemu dan banyak mendengarkan cerita mereka, dan sama-sama punya kepedulian pada pendidikan. Saya jadi semakin tahu karakter manusia itu beraneka ragam dan saya juga semakin banyak mendapatkan ilmu yang tidak saya dapatkan baik di bangku sekolah, kuliah, maupun di pekerjaan.
Dan alasan terakhir adalah saya suka traveling. Suka banget! Haha. Saya pernah bercita-cita ingin bekerja sebagai pembawa acara my trip my adventure atau acara-acara semacam itu yang kerjaannya menjelajah hutan, rimba, pantai, dan mengunjungi tempat-tempat baru. Ini serius loh. Haha. Tapi berhubung public speaking saya kurang baik, jadi saya mundur. Selain itu, kondisi fisik yang langsung drop kalo kecapean sangat ini, nggak memungkinkan saya untuk bertahan di tengah kelelahan menjelajah dunia *apadeh ini*
So, that’s all my reasons why I like to be a volunteer. Ohiya, mengajar itu semacam pelarian buat saya yang jenuh ngetak-ngetik dan hanya berhadapan dengan komputer setiap hari. Kalau untuk dijadiin profesi, hemm, I can’t and I don’t want to. Hehe hehe.