Rara
sumber foto: instagram
Saya mengenal Rara Sekar Larasati atau lebih dikenal dengan Rara Sekar saat tampil di Komunitas Salihara Jakarta beberapa tahun ke belakang, saat itu dia masih tergabung dalam group musik Banda Neira bersama Ananda Badudu. Dimasa-masa awal saya mulai mengurangi lagu yang disajikan media konvensional dan mulai mendengarkan berbagai lagu indie, group musik Banda Neira inilah salah satunya. Namun sayang sekitar awal tahun 2016 mereka akhirnya menyatakan bubar di laman tumblr Banda Neira sendiri, dan di akun instagram masing-masing untuk menjelaskan alasannya. Banyak pihak terutama penikmat musik mereka termasuk saya pribadi tentunya, menyayangkan keputusan tersebut. Tapi apa mau dikata, sebagai penikmat karya mereka mau tak mau kita menghargai dan menerima keputusan tersebut. Meniru puisinya Sapardi, Banda Neira adalah fana (bubar) tapi lagunya abadi. Hehehe....
Yang menarik dari group musik Banda Neira ini selain karena suara Rara Sekar yang ciamik nan merdu di tambah permainan gitar Ananda Badudu yang seperti saling melengkapi, juga karena lirik lagu mereka yang puitis namun tidak sulit untuk dipahami pendengar, malah di beberapa lagu mereka juga mem-musikalisasi puisi karya Chairil Anwar dengan judul Derai-derai Cemara dan Rindu karya Subagio Sastrowardaryo. Tak mengherankan kalau lagu mereka memang pas didengarkan disaat-saat romantis, menjelang pagi atau menikmati senja. (Cieeee elah....). Selain tergabung dalam group Banda Neira yang telah bubar tadi, Rara Sekar juga tergabung dalam Daramuda Project bersama Danilla Riyadi dan Sandrayati Fay, yang ketiganya memiliki genre musik yang hampir serupa (indie, folk, jazz).
Dulu, awal tahu Rara Sekar ngerasa wajahnya familiar, ternyata Rara Sekar ini adalah kakak kandung dari penyanyi pop sekaligus bintang iklan berbagai merk, yaitu Isyana Sarasvati. Bisa dilihat bahwa memang keduanya memiliki jalur musik dan genre yang berbeda. Namun masing-masing mempunyai “warna”nya tersendiri.
Rara Sekar tidak seperti musisi kebanyakan yang hanya fokus pada musik, ia juga bergerak di bidang lain seperti bisnis, pendidikan dan sosial. Dalam bisnis ia mendirikan 9 am Photography, juga sebagai freelance photografer. Dalam pendidikan, saat ini sedang melanjutkan studi master di Victoria University of Wellington jurusan Antropologi Budaya. Dalam bidang sosial, ia merupakan kepala divisi kurikulum Sekolah Kita Rumpin, sebuah sekolah informal di Kota Bogor, selain itu juga pernah magang di Kontras, LSM yang didirikan aktivis Munir dulu. Ia banyak memposting foto hasil jepretannya di instagram serta tulisannya di tumblr.
Seperti kasus pada umumnya, saat sosok Rara Sekar muncul dan banyak menginspirasi anak muda kebanyakan (tentunya saya juga) sering kali disinggung soal agama apa yang dianutnya. Maklumlah masyarakat kita kebanyakan masih senang membahas soal SARA (agama, ras, suku, golongan). Melihat kualitas, kebaikan atau keburukan seseorang sering diukur dari agama apa yang dianut atau latar belakang lain. Padahal hal tersebut tidak bisa dijadikan tolak ukur. Misalnya dalam hal kebaikan memang kita harus melakukan demikian agar bisa disebut manusia, sedangkan kalau kita melakukan keburukan berarti memang kita belum benar-benar menjadi manusia seutuhnya. Juga semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan, dan masing-masing menekankan anti-kekerasan, cinta kasih, perdamian, keadilan yang saling melengkapi.
Soal agama, Rara Sekar acapkali ditanya soal agama apa yang dianut, entah itu di akun instagram atau twitter-nya. Akan pertanyaan tersebut, Rara tidak pernah merespon pertanyaan di akun-nya itu, karena seperti kita tahu instagram maupun twitter mempunyai space yang sempit kalau sampai Rara Sekar meresponnya, bisa-bisa malah timbul masalah karena kesalahpahaman.
Selain bergelut dalam dunia musik, pendidikan, bisnis, dan sosial seperti yang telah saya sembutkan juga diatas, dia juga disebut-sebut sebagai ahli dalam bidang public relations. Selain itu ketertarikannya pada dunia seni khususnya fotografi dan tulis-menulis, ini bisa dibuktikan di blog pribadinya, http://rarasekar.tumblr.com/. Disana ia banyak membagikan foto, dan juga tulisan yang bercerita tentang kehidupan dan pemikirannya. Di blog ini juga Rara Sekar membahas bagaimana keadaan keluarganya yang amat majemuk. Dari mulai Eyang-nya yang saat ini menjadi Bikkhu (Budhist Monk), Ayahnya yang beragama Islam, Ibunya yang beragama Kristen, dan Rara Sekar beserta adiknya yaitu Isyana Sarasvati memeluk agama Islam serupa dengan Ayah mereka.
Dalam blog ibunya yaitu http://marpanda.blogspot.co.id/. Di laman tersebut tertulis bagaimana ibunya yang Kristen tetap mengingatkan dan membantu anak dan suaminya dalam menjalankan kewajiban ibadah Islam misalnya puasa atau lebaran, teapi juga tidak lupa menjalankan ibadah dan perayaan yang dianutnya sendiri, Kristen.
Dari sanalah, kita bisa menyaksikan bagaimana kehidupan bertoleransi, ber-bhineka tunggal ika yang sering kita gaungkan, ada dalam keluarga Rara Sekar. Sungguh luar biasa.











