Jurnal Akar Wangi #1 Hara
Aku menyimak Jurnal Akar Wangi #1 Hara sambil minum You•C•1000 untuk mengobati sariawanku. Setelah sehat dari TBC beberapa tahun lalu, setiap kali sariawan, menurut ku, pasti lukanya cukup dalam dan besar. Sekujur tubuhku ikutan panas, seperti demam. Kulit wajah dan telapak tangan kering, gigi dan gusi ngilu.
You•C•1000 yang ku beli di warung, lebih murah dibandingkan beli di indomart atau temannya. Selisihnya lumayan.
Warung yang ku datangi untuk membeli You•C•1000 ini bersebelahan dengan rumah seorang bapak tukang becak, yang suatu hari ketika anak perempuannya meninggal aku turut serta memandikan jenazahnya. Bapak itu tinggi besar, rambutnya beruban. Perawakannya mirip bapakku! Aku tidak pernah sanggup melihat bapak itu lama-lama. Terutama ketika beliau berduka.
Aku ingat hari dimana aku melihat bapakku berusaha tegar atas kepergian ibu.
Malam ini, ketika menunggu giliran yang punya warung melayaniku, di rumahnya, bapak itu sedang bercerita. Bahasa dan suaranya berbeda, tapi, sekali lagi, perawakannya mirip bapakku!
Aku sudah lama tidak menangis. Entah sebab perihal apa, aku melupakan banyak rasa, terutama sedih yang menyebabkan tangis.
Di perjalanan sepulang dari warung, aku tidak menyangkal, bapak itu mengingatkan bapakku, lagi!
Menuju kamar, aku merasakan kepasrahan yang mengantar pada rasa sedih. Seandainya tidak banyak orang, aku hampir berteriak menangis.
Aku rindu sebuah tangisanku sendiri.
Jurnal Akar Wangi #1 Hara, tidak membantuku terpancing. Entah karena aku sambil menahan perih sariawanku yang ku guyur You•C•1000, atau memang jurnal tersebut tidak dibikin untuk memeras air mata.
Tapi aku hampir keselek minum You•C•1000 yang bersoda itu saat berusaha tidak ambruk mengendalikan perasaan ku sendiri.
Catatan ini ditulis hari Sabtu malam tanggal 30 Januari 2021.



















