Sebetulnya, ada beberapa tema yang membuatku nggak nyaman karena terlalu mendobrak teritori pribadi. Tapi it's okay, hidup menawarkan beberapa pilihan, kan? Makanya kadang kalo udah capek banget dan nggak bisa nulis panjang-panjang, jadi kubuat puisi ala kadarnya. Bahkan sering sepulang kerja, mandi, langsung ketiduran tanpa makan, tanpa ngunci pintu pula, dan kuncinya masih ngegantung di luar sampai esok subuh, haduhh. Semakin capek kalo harus nulis sesuatu yang kuanggap: oh, itu biar cuma aku aja yang tahu. Tapi, lagi-lagi hari ini it's okay.
Jadi ... ketika banyak orang menulis untuk dipersembahkan kepada seseorang paling berarti dalam hidupnya, aku hampir tidak pernah melakukan itu. Dari puluhan surat dan prosa yang terketik, tidak ada satu pun yang khusus kurangkai untuk orang tua. Padahal doa mereka tak pernah pupus, tapi seisi morfem di semesta ini seolah punah, mungkin saking mindernya pada besar kasih itu.
Aku sudah bukan bocah lagi, anehnya, masih saja sering kebingungan tentang bagaimana cara memulai diskusi dengan mereka. Padahal, terkadang keinginan bertanya beberapa hal itu ada. Kayak ... "Ma, gimana rasanya jatuh cinta? Dulu, gimana rasanya pertama kali dicintai orang asing? Pernah nggak sih Ma, ngerasa kalo diri sendiri nggak pantes untuk siapa pun?"
Akan tetapi, ya ya ya, ada apa di balik kata tapi-nya biarkan cuma aku aja yang tahu. Eh, tapii lagiii, orang tuaku sering kok curhat ke akuuu hhhwh. Cuma akunya aja yang suka ragu kalo mau membahas sesuatu. Pernah beberapa kali, lalu rasanya ... ya gitu. Aku menyadari bahwa nggak semua orang bisa menjadikan orang tua--atau salah satunya--sebagai tempat bercerita terbaik.
No. Ini bukan salah mereka, perihal itu murni akunya aja yang aneh. Kalau menjadi orang tua nanti, belum tentu aku bisa sebaik mereka. Ibu pernah bilang, sebelum punya mesin cuci dan aku masih bayi, setiap hari ibu nyuci baju jam 11 malem. Sekarang ketika hal itu kealamin sama aku (yang sayang duit kalo harus bayar laundry) aku malah sering ngeluh. Tuh kan, aku tidak bisa sebaik ibu.
Meski begitu, kelak, aku ingin menjadi seseorang yang dipercaya untuk menampung segala kisah hidup dari manusia yang Tuhan titipkan. Kendati nanti zaman akan berubah dan berbeda, aku tetap ingin hidup di zamannya dia, di masanya dia, lalu membuat dia merasa ... rumah adalah tempatnya dia bercerita.
Lenyap semua paragraf indah untuk melambangkan kasihmu.
Musnah segala kalimat terpatri demi menggambarkan cintamu.
Kehabisan kata-kata adalah aku, saat menyadari rasa sayang itu tak ada yang menandingi.
Diksi mana pun mustahil mampu.
Bahkan huruf-huruf cemburu mendamba sosok itu.
Terima kasih, maaf, cinta, dan semua yang ingin kutumpahkan, seperti tak akan pernah sebanding dengan segala yang telah kalian berikan. Ada yang jauh lebih pantas memberi persembahan.
Kumohon, Tuhan, persembahkan segala hal baik yang Kau punya, untuk mereka.