KATARSIS
😃 Assalamualaikum. Masih dalam suasana Iduladha, Supermom’s Note tetap hadir menyapa. Kali ini, #psycorner akan membahas satu tema yang dekat dengan diri kita, yaitu katarsis.
☘ Pernahkan moms and dads mengalami sesuatu yang membuat marah, sedih, atau emosi yang meletup-letup, kemudian merasa lega setelah menulis, curhat sambil nangis-nangis, atau teriak-teriak di pinggir pantai? Nah, itulah yang disebut katarsis.
☘ Katarsis atau katharsis, (dari bahasa Yunani: κάθαρσις) pertama kali diungkapkan oleh para filsuf Yunani, yang merujuk pada upaya "pembersihan" atau "penyucian" diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. Secara lengkap, katarsis adalah suatu metode terapi dimana pasien diminta untuk mengingat kembali dan melepaskan emosi yang tidak menyenangkan, ketegangan dan ketidakbahagiaannya dengan tujuan untuk melepaskan dari penderitaan emosional/gangguan mental. Terapi katarsis ini dikenalkan oleh Josef Breuer dan kemudian dikembangkan oleh Sigmund Freud.
☘ Proses katarsis ini sangat penting bagi orang-orang yang sedang menghadapi masalah-masalah emosional. Ketika menghadapi masalah-masalah emosional yang menyedihkan, mengecewakan, menjengkelkan, seringkali seseorang tidak mau mengungkapkannya kepada orang lain. Mereka lebih suka memendam atau berusaha untuk melupakannya. Padahal, ketika suatu masalah semakin dipendam dan diusahakan untuk dilupakan, justru akan menimbulkan berbagai macam ganguan fisik dan psikologis seperti depresi, kecemasan dan berbagai bentuk penyakit psikologis.
Bentuk-Bentuk Katarsis
☘ Setiap orang melakukan penyaluran emosi dengan cara yang berbeda-beda. Semua bentuk itu diperbolehkan asal baik dan aman. Misalnya, menulis diary, menggambar, bernyanyi, dan lain-lain. Beberapa orang yang merasa mempunyai masalah berat dan menurutnya adalah sebuah ‘aib’, cenderung menahan diri untuk menceritakan masalahnya kepada orang lain. Maka, aktivitas ini dapat membantu untuk menyalurkan emosi secara jujur, tanpa takut rahasianya diketahui orang lain. Bisa juga dengan melakukan kegiatan yang “tidak terlihat” sebagai penyaluran emosi, namun sebenarnya merupakan bentuk katarsis yang baik, misalnya makan, jalan-jalan, tidur, dan lain-lain.
☘ Lalu, seperti apa katarsis yang buruk? Katarsis yang buruk adalah katarsis yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Misalnya mengamuk pada orang yang membuatnya marah, mengeluarkan kata kasar atau yang menyakiti lawan bicara, melakukan hal yang membahayakan diri misalnya naik motor kebut-kebutan, naik ke atas genting yang tidak aman, dan lain-lain. Jika teman atau saudara kita melakukan katarsis yang buruk ini, maka tugas kita untuk mengajaknya mengganti metode katarsis agar lebih aman dan tidak merugikan orang lain.
☘ Sebagai seorang muslim, shalat dan mengaji bisa menjadi katarsis yang sangat baik. Ketika shalat, kita mengadukan masalah kepada yang Maha Penyayang, memohon untuk dikuatkan dan dimaafkan kesalahannya. Karena penguasa tunggal alam semesta ini adalah Allah, maka tidak ada yang bisa meringankan masalah kita selain Allah.
☘ Sekian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat. (rm)
🌐 Sumber: konselingindonesia(dot)com
🌷SUPERMOM's NOTE🌷 Edisi #psycorner 22.08.2018
☘ Email : [email protected] ☘ Fanpage FB : https://web.facebook.com/supermomwannabefanpage/ ☘ Twitter : https://twitter.com/supermom_w ☘ Instagram : https://www.instagram.com/supermom_w/ ☘ Tumblr : http://supermomwannabee.tumblr.com/ ☘ WhatsApp: +6281904714215 ☘ Line: @qxb9368f (use @) Link: http://line.me/ti/p/%40qxb9368f













