01. Your favorite part of today
14 Mei 2024 Your favorite part of today 1/150
Sebenarnya, ini bukan hari yang begitu baik untuk memulai cerita tentang bagian favorit yang kusuka pada hari ini. Pasalnya, adek Asyaf demam sejak pagi, lalu keadaan dirumah sedang tidak baik-baik saja. Seberes memandikan kaka dengan air hangat pagi tadi, adek akhirnya juga mau dimandikan. Dia masih saja lemas, yang biasanya lari kesana-kemari saat sedang dipakaikan baju, kini hanya tiduran dan memeluk handuk birunya. Wajahnya pucat, suhu tubuhnya mulai berangsur, namun aku tetap ingin membawanya ke klinik agar ia mendapatkan obat sesuai dengan kebutuhannya.
Seberes kurapihkan diriku, kuajak anak-anak menaiki motor kami dan berjalan menuju klinik, namun baru keluar dari gang menuju jalan raya, aku lupa mengenakan baju hangat untuk Asyaf yang kala itu duduk didepan. Akhirnya, kuputar balik lagi roda motor kami, pulang menuju rumah.
Setelah beberapa drama lupa dan segala macam yang tadinya tak dalam rencana, akhirnya kami sampai juga di klinik. Kaka dan Ayah yang mengantar pulang, kebetulan jarak klinik tidak begitu jauh dari rumah kami, dan pagi menjelang siang itu kaka sudah tak sabar untuk sarapan dirumah neneknya, karena kupikir ia mungkin akan bosan jika harus menunggu di klinik bersama aku dan adiknya yang sedang sakit ini. Jadi Keputusan untuk pulang dahulu bersama ayahnya, tentu saja kuijinkan.
Adek sudah diperiksa oleh dokter, namun badannya kini semakin panas, matanya yang layu seakan memberi tahu bahwa ia hanya ingin tertidur dipelukanku saat itu. Sambil menunggu namanya dipanggil dalam antrian obat, aku memeluknya dan sesekali mencium pipinya yang hangat. Ia tidur, matanya panas, sesekali berair.
Setelah semua beres dan kami sampai dirumah nenek, asyaf memelukku erat sekali, ia bahkan bilang tak ingin aku pergi bekerja hari ini. Sungguh berat sekali meninggalkannya yang sedang sakit, namun aku sungguh tak memiliki banyak kesempatan untuk izin sebab kemarin libur panjang sudah kuterima. Dengan berat hati, seberes memberinya beberapa suap bubur dan obat, kubisiki telinganya bahwa ia bersama dengan ayahnya dulu hari ini, dan aku akan pulang awal waktu.
Ia mengangguk, mengiyakan tawaranku tanpa bertukar apapun.
Pagi itu aku hanya belum sempat memeluk putri cantikku yang saat kusampai dirumah, ia sedang main dirumah sebelah, rumah saudara kami. Kuharap ia sehat selalu.
Saat kuingat-ingat dan mencari bagian mana yang terbaik yang menjadi favoritku pada hari ini adalah bagian dimana kehadiranku ternyata masih begitu berharga untuk anakku. Saat kurasa aku sudah hampir menyerah sebab masalah yang tak kunjung reda, ternyata itu bukan hal yang menyeramkan. Pelukannya, tangan mungilnya, ternyata mampu menguatkan hatiku untuk tegar dan menghadapi seluruh hari yang begitu buruk.
Kurasa, ini bukan “my favorite part of today, tapi favorite part of my whole life”.
Sehat-sehat ya nak, kaka dan adek yang sangat mama sayang😊















