09. Your favorite childhood memory
22 Mei 2024
Your favorite childhood memory
9/150
Sebagai seorang anak lulusan Pendidikan rumah nenek, dan telah menetap sejak usia satu tahun hingga menjelang akhir sekolah menengah pertama, bisa dibilang masa kecilku dipenuhi dengan cerita manis, pahit, asam, garam, dan menyenangkan. Berada dilingkungan rukun tetangga yang hangat, keluarga yang suaranya diatas oktaf sebab kakekku yang saat itu memiliki sedikit kekurangan pendengaran, serta nenek yang senang sekali menyetel lagu Ida Laila sehabis ashar sampai sebelum magrib tiba, membuat cerita masa kecil ini penuh dengan memori bahagia yang kupunya.
Aku ingat betul sewaktu usiaku mungkin kisaran lima atau enam tahun, setiap ingin pergi ke sekolah taman kanak-kanak, ada satu tetangga yang sudah mengganggap aku anaknya sendiri, seorang ibu dan bapak dengan dua anak laki-lakinya yang sudah remaja kala itu, mereka selalu sudah siap dengan motor vespa abu-abu milik sang bapak, dan istrinya di belakang menjemputku dirumah nenek yang kala itu aku selalu naik berdiri di depan. Dengan wajah penuh bedak, kerudung yang hampir menutupi mataku, aku kegirangan diantar sekolah oleh mereka yang kuanggap orang tuaku kala itu.
Atau saat sekolah dasar, mungkin ini bukan pengalaman yang baik tapi kurasa menyenangkan sekali berjalan kaki pulang dan pergi ke sekolah yang jaraknya kisaran dua kilo meter lebih ditempuh melewati jalan penyebrangan yang teramat luas. Bagi anak seusiaku kala itu, menyebrang lewat jalan raya adalah hal menyeramkan yang harus kita lalui, alih-alih meminta tolong disebrangi setiap hari, aku beserta teman-teman yang searah dengan rumahku, melewati jalur penyebrangan alternatif dibawah jalan raya yang terbentang luas, kolong jembatan. Dulu, kami begitu aman melewati jalan-jalan seperti itu, meski banyak orang-orang yang bekerja sebagai pencari barang bekas atau gelandang yang tidak memiliki tempat tinggal terpaksa tidur dan berlapak disana, jaman itu lingkungan bisa dikatakan aman untuk tempat berjalan dan bermain anak-anak.
Sesekali aku juga turut diminta bareng saja dengan kakak kelas yang bersekolah menggunakan sepeda. Kadang aku enggan menerima tawarannya, sebab untuk seusiaku saat itu, canggung sekali di “ciye-ciyekan” oleh teman-teman yang melihat. Makanya aku lebih suka berjalan kaki, sambil sesekali berkhayal sedang berada didalam “petualangan Sherina” sebab teman sejalanku saat itu juga sama serunya denganku. Haha
Waktu pulang sekolah adalah waktu yang paling dinanti-nanti olehku. Pasalnya, aku beserta kedua temanku yang memang kami terbiasa berkumpul dan bermain bertiga kala itu, kami biasa menghabiskan waktu sampai sore hanya untuk bermain sepeda, memutari daerah rumah kami. Tidak hanya bersepeda, kami juga kadang menepi dipinggir Sungai yang kala itu aliran airnya masih cukup bersih untuk kami bermain-main disana, dan cukup teduh untuk bercanda dan berimajinasi apapun sesuai tema harian yang kami sepakati bersama. Kadang aku bisa menjadi penjual sayur, kadang bisa menjadi pencari berudu, atau kadang kami juga bisa menjadi detektif yang menyamar dan menemukan penjahat dengan sepeda yang kami kayuh dibawah terik matahari.
Ahh, rasanya menyenangkan sekali jika bisa kembali ke masa kanak-kanak. Banyak lingkar pertemanan yang berbeda-beda, merasakan pahitnya dimarahi tante saat aku susah sekali diminta menghabiskan makananku, merasakan manisnya memiliki baju lebaran yang kuidam-idamkan hadiah dari para tante dan kiriman ibuku, merasakan kue oleh-oleh kondangan dari nenek yang selalu membungkusnya dengan tisu didalam tas miliknya, atau dibonceng sepeda oleh kakek demi berfoto bersama presiden yang dulu ramai sekali diarak menuju istana.
Kenangan-kenangan manis dan pahit itulah yang menemaniku tumbuh. Tinggal dilingkungan yang beragam dan hangat, saling membantu dan mengisi saat membutuhkan, saling mengerti apabila ditimpa kesusahan.
Ohya, aku memang bukan dari kalangan berada, barang mewah seperti video game atau handphone memang tak pernah tersentuh olehku, tapi berkat tante dan nenekku, aku merasakan indahnya semua permainan tahun 90an yang hampir semua bisa kurasakan. Berkat mereka, aku juga dapat hidup mandiri sedari kecil. Ada satu memori yang sangat indah, kenangan saat bulan Ramadhan datang, dan teman-teman memanggil namaku guna mengajakku solat subuh di masjid Bersama. Kami berlari dan tertawa bersama. Bercerita apa saja, atau menghabiskan waktu dengan bertukar orji, atau menunggu ayamku bertelur didalam Tamagotchi milikku. Mengaji sore, merasakan asiknya bangun pagi di hari minggu demi tontonan yang kami tunggu-tunggu, merasakan cinta monyet yang kurasa, aku juga pernah menyukai seorang anak dari kampung sebelah yang jago sepak bola kala itu. Atau momen main hujan bersama teman-teman dengan busa sampo dikepala yang tak kunjung bosan kami lakukan setiap hujan besar mengguyur ibu kota kala itu. Ahh, menyenangkan dapat mengingat kepingan memori masa kecil itu.
Kurasa, ada bagian dimana kita semua punya memori yang sama. Yaitu momen tidur siang yang menjadi hal wajib namun sungguh berat untuk anak-anak seusia kita kala itu. Kita baru sadar, disaat dewasa ini, ternyata tidur siang memang sebuah hal Istimewa yang tak semua orang dapatkan. Ah, diriku, kenapa kamu semalas itu untuk tidur dan mendengarkan kata-kata nenekmu dulu. Hehehe
Baiklah, selamat menjadi dewasa ya.
Teruslah mengingat hal-hal masa kecilmu, saat hari-hari berat dan kau tak sanggup untuk berjalan lebih cepat.
Terima kasih untuk kenangan yang masih tersimpan, pada kotak memori yang terjaga dengan baik, sebab dirimu berarti 😊