Wujud penerimaan terhadap diri, termasuk di dalamnya fisik, status, jalur keturunan, pekerjaan adalah yang paling aku rasakan ketika memasuki umur 20an.
Ketika masih belasan, ada semacam energi dalam jiwa yang menggebu. Mungkin itukah yang dibilang orang energi masa muda? Anehnya, kadang saking menggebunya energi itu, bisa mengendalikan diri yang aku sendiri nggak mengerti mengapa aku seperti itu. Tapi, dari energi tersebut, banyak hal yang kalau sekarang dipikir-pikir 'kok bisa?' menjadi sebuah kenyataan, tentunya dengan izin Allaah.
Dan setiap massa, ada episode yang harus dilewati.
Umur 20an ternyata benar-benar mengubah cara pandangku. Bagaimana seseorang yang dulunya kaku, melihat hanya dari satu sudut pandang, bisa jadi lebih luwes terhadap sesuatu yang memang lebih luas seharusnya.
Kalau diandaikan, dulu ketika belasan mudah sekali untuk menghafal, namun sangat sulit untuk memahami maksudnya. Dan umur 20an, ternyata mudah memahami maksudnya namun sulit untuk menghafalnya.
Apakah ini yang disebut dengan perkembangan yang terjadi dalam otak manusia?
Kalau dulu belasan, banyak saraf yg belum menyimpan memori sehingga lancar sekali untuk mengingat suatu hal. Namun keterhubungan antar sel saraf masih sedikit sehingga suatu peristiwa dimaknai dengan seadanya. Bedanya, di 20an memori tersebut sudah saling berpegangan, saling menyambung satu sama lain. Hal ini menyebakan jika ada suatu peristiwa, masing-masing sel saraf bisa membuat presepsinya. Jadi otak mengirimkan banyak sekali pengandaian, dan hati yang nanti memilih mana yang sesuai dengan keridhoan-Nya.