RINTIHAN SUMATERA MEMANGGIL
Dua minggu berlalu. Banjir dan longsor melanda tiga provinsi sekaligus. Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Tiga provinsi teratas di pulau Sumatera.
Dalam sekejap, hujan yang seharusnya membawa rahmat itu, malah sebaliknya membawa kemalangan bagi warganya. Meluluhlantahkan apa yang ada, kehilangan anggota keluarga, harta benda, tempat tinggal, semua habis terbawa arus banjir terkena galodo.
Di Palembayan Agam, ada seorang bapak-bapak hidup sebatang kara, terus mencari keberadaan istrinya, setelah empat tahun kehilangan anak satu-satunya. Lalu, ada seorang pemuda yang akhirnya menemukan ibunya dalam kondisi wafat masih menggunakan mukena, tampaknya selepas sholat. Dia rela menyewa alat berat untuk bisa mencari jasad ibunya.
Di Padang Panjang, jalanan jembatan kembar yang biasa menjadi akses utama menuju Bukittinggi dan antar kota lainnya, rusak terhantam arus banjir.
Di Aceh Tamiang, salah satu tempat yang terdampak paling parah, terlihat tumpukan truk, mobil-mobil berjejeran di jalanan. Banyak jasad yang belum dievakuasi. Bahkan sudah ada yang berkata, “kalau tidak ada makanan, kirimkan saja kami kain kafan”. Sudah seperti kota mati.
Di Tapanuli Selatan, kondisi jalanan masih dipenuhi lumpur dan pohon-pohon yang tumbang. Akses jalan sulit, listrik dan jaringan juga putus.
Ini baru sedikit fakta dari apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Belum lagi kondisi di Padang, Padang Pariaman, Gayo Lues, Bener Meriah, Sibolga, Langkat, dan daerah lainnya yang terdampak.
Tak lama, gelondongan kayu mulai tampak. Pikiran mulai bertanya-tanya, “Ada apa gerangan?” “Apakah ada yang disembunyikan?” “Kenapa bisa begini?” “Kenapa bisa ada tumpukan kayu yang ukurannya sama, seperti habis ditebang?”. Dan jumlahnya tak sedikit, melainkan seperti lautan. Bentuk kayunya rapi sekali, preposisi.
Diksi bahwa ini adalah bencana alam, sepertinya tak layak dikatakan demikian. Secara natural, alam akan memperbaiki kondisinya sendiri. Jika ada kerusakan yang terjadi di dalamnya bukan sebab alam itu sendiri, cepat atau lambat ia akan memberitahukannya kepada dunia.
Namun, ada yang bilang; “Ini hanya bencana biasa”, “kami masih sanggup menanganinya”, “tak perlu menjadi Bencana Nasional”, “kejadiannya tak mencekam seperti di media sosial”, “keadaannya sudah lebih membaik”. Dan narasi-narasi lainnya yang menggiring opini, kadang bisa buat emosi. Hingga timbul perang narasi di media setiap detiknya.
Hei, apakah mata ‘kalian’ tak melihat? Apakah hati ‘kalian’ tak terketuk sama sekali? Korban sudah banyak berjatuhan. Sampai detik ini, sudah hampir seribu nyawa melayang. Tiga ratusan orang masih hilang. Lima ribu orang luka-luka. Ratusan ribu rumah dan fasilitas publik rusak, hilang terseret arus. Puluhan kabupaten terdampak. Hewan yang terbunuh pun tak terhitung, bahkan habitat mereka ikut terampas.
Berlindung di balik istilah “pembangunan berkelanjutan”, jutaan hektar hutan ‘kalian’ babat, pohon-pohon ditebang, lalu diganti dengan perkebunan sawit, hutan taman industri (HTI), dan lain-lain hanya untuk mengisi pundi-pundi ‘kalian’ supaya aman dan sejahtera. Perkebunannya tak masalah, panennya memang bisa menghasilkan bagi negara. Yang jadi masalah adalah penebangan hutan dilakukan terlalu liar dan masif, ditambah banyak yang ilegal pula. Terlalu luas hektar hutan tergantikan dengan pepohonan yang akarnya tak mampu menampung air, sehingga jika turun hujan bisa timbul banjir bahkan galodo seperti kita saksikan saat ini. Kita bisa baca sendiri faktanya, sudah banyak ahli yang membahasnya. Jika kita mau melihat lebih jauh, kerusakannya sudah separah itu. Miris sekali.
Ini hanya menambah luka masyarakat, hanya menambah tangki amarah, suatu saat bisa saja terjadi seperti Agustus lalu, atau bahkan seperti Reformasi ’98. Bom waktu, hanya menunggu masa saja untuk meledak. Sudah selayaknya kita semua marah dan kecewa dengan pemerintah pusat yang bergerak sangat lamban, datang ke lokasi bencana hanya demi pencitraan saja, tak menyentuh akar masalah fundamental sama sekali, baru melaksanakan rapat darurat setelah berhari-hari warga bertarung dengan nyawa dan waktu.
Sampai saat ini, status banjir dan longsor Sumatera belum dinaikkan menjadi Bencana Nasional. Entah pemerintah pusat tak paham, atau mungkin mereka sedang mencuci tangan, membersihkan darah-darah yang mereka tumpahkan sendiri, supaya tidak ada audit proyek, alokasi anggaran tidak didrop seluruhnya untuk penanggulangan bencana, tidak ada bantuan dari internasional yang masuk sebab mereka sendiri yang menolaknya. Betapa percaya dirinya mereka, merasa mereka bisa menanggulangi masalah ini sendiri. Padahal kenyataan di lapangan lebih parah dari apa yang sekadar terlihat di media sosial ataupun berita. Kita bisa telusuri sendiri kebenarannya, alasan di balik semua ini, yang itu.. sungguh pahit dan gelap.
Ya.. sudahlah. Sepertinya untuk saat ini, menaruh harapan jauh kepada pemerintah pusat hanya sebatas angan-angan. Sebaliknya, mari kita coba tengok ke sisi lain. Tagar warga jaga warga pun mencuat kembali. Bahkan muncul istilah ‘korban bantu korban’. Ma sya Allah. Dibalik kesusahan ada kemudahan. Sudah menjadi janji-Nya, dan buktinya kita lihat saat ini. Seluruh elemen masyarakat (pemerintah daerah, TNI, polda, NGO, warga sipil) saling bergotong royong, tidak memandang latar belakang apapun. Siapa saja saling bahu-membahu, saling berdonasi, saling menginfokan perkembangan berita, saling berisik di media sosial, saling bertanya kabar satu sama lain. Bergerak cepat dan tanggap tanpa perlu birokrasi dan prosedur yang meribetkan, dengan caranya masing-masing. Semuanya demi satu hal, KEMANUSIAAN.
-- -- -- -- --
Turut berduka cita yang mendalam untuk masyarakat Sumatera, para korban dan lingkungan yang terdampak.
Jujur, dari hati yang terdalam, ikut merasakan betapa mengerikannya peristiwa ini. Ingin rasanya marah dan berteriak. Tak jarang menangis melihat kabar yang beredar, melihat banyak orang yang kehilangan, lingkungan sekitar rusak akibat arus banjir dan longsor. Sedih rasanya belum bisa terjun langsung membantu warga yang terdampak. Ingin rasanya menepuk pundak mereka, memberi semangat kepada mereka, bahwa kita ada dan hadir untuk mereka.
Ditemani lagu-lagu dari Ebiet G. Ade; Berita Kepada Kawan, Untuk Kita Renungkan, Rembulan Menangis, Sketsa Rembulan Emas; Heal The World-nya Michael Jackson, tulisan ini diketik satu persatu, kata perkata. Tulisan ini mungkin hanya sedikit dari apa yang bisa dilakukan. Namun, tulisan ini ingin hadir sebagai pengikat memori, luapan emosi yang ada.
Semoga ini bisa menjadi satu renungan. Semoga bisa menjadi catatan penting bahwa pernah terjadi peristiwa besar, yang itu – sekali lagi – bukanlah bencana alam. Melainkan ia adalah bencana ekologis, bencana kebijakan akibat ulah segelintir mereka yang tidak pernah mengindahkan pemberian Allah dan terus menggeruk kekayaan alam demi kantong mereka sendiri. Kita, masyarakat – lagi – yang harus membayar mahal kerakusan mereka, padahal tangan mereka yang berbuat. Mereka tetap bersembunyi seakan-akan tak ada kejadian serius yang menjadi dalang utama peristiwa ini bisa terjadi.
Ini adalah akumulasi dari puluhan tahun alam Sumatera menyimpan cerita duka, bahwa ia dieksploitasi oleh kalangan elit. Pada akhirnya, melalui ‘tangan’ Allah kita bisa menyaksikan sendiri lewat peristiwa ini. Mata kita lebih terbuka lebar lagi, pikiran kita lebih memahami lagi, bahwa harus ada pemulihan dan perbaikan besar-besaran setelah ini.
Mari kita lakukan apa yang dimampukan untuk dilakukan. Doa kami membersamai perjuangan masyarakat Sumatera. Lekas pulih dari segala trauma, lekas bangkit kembali. Jeritan, luka, tangisan, kesedihan warga yang terdampak, semoga Allah gantikan dengan yang lebih indah. Yang telah berpulang, semoga Allah tempatkan di tempat paling mulia disisi-Nya.
Jauh setelah itu, semoga ada perbaikan tata ruang yang nyata, penanggulangan daerah pasca bencana yang reaktif, pemulihan psikologis warga terdampak, penanaman kembali hutan tropis, deforestasi dikurangi, penegakan hukum kehutanan lebih diperkuat. Kesejahteraan masyarakat harus lebih diperhatikan lagi, keselamatan lingkungan harus menjadi perhatian besar bagi semua pihak. Visi dan misi pembangunan negeri yang sesungguhnya semoga bisa terwujud.
Mereka, orang-orang nakal yang masih ingin menggerus kekayaan alam hanya demi kepentingan mereka sendiri, suatu saat semoga Allah balas dengan balasan-Nya yang setimpal. Semoga Allah binasakan orang-orang yang ingin menghancurkan negeri ini.
Semoga Allah lindungi dan jaga segenap masyarakat Sumatera juga Indonesia. Semoga Allah jadikan negeri ini negeri yang aman dan makmur, rumah yang damai bagi rakyatnya.
Pinta kami, TOLONG WAHAI PEMERINTAH, TETAPKAN INI MENJADI BENCANA NASIONAL!! JANGAN BIARKAN KRISIS KEMANUSIAAN MAKIN MENJADI!!
Pray for Sumatera, pray for all of us.
Save Sumatera, save life of us.















