Dongeng Januari
Januari 2030 Ibu duduk di ruang baca, melanjutkan halaman kesekian buku yang sudah seminggu tak rampung-rampung dibaca. Baru dua halaman, anak bungsunya usia empat tahun masuk dan menggelayut di lengannya. "Buk, dongeng yuk?" Kata anak itu manja. Matanya yang belok mengingatkan Ibu pada Puss in Boots. Anak itu tak suka didongengi sebelum tidur. "Percuma Ibu baca kalau sebelum selesai aku udah tidur. Aku nggak ngerti ceritanya," kata anak itu suatu malam. Sejak saat itu, ritual mendongeng pindah ke sore hari. "Ayo, Buk! Ini ada buku baru dari Bapak." Sekonyong-konyong, Bapak sudah berdiri di ambang pintu, tersenyum mengangkat kedua alisnya. Ibu mengedikkan bahu, membuat tempat di sampingnya untuk Bapak. Di luar, matahari masih terik padahal sudah hampir pukul lima. Bapak memangku si Bungsu. Tulisan Dongeng Januari berwarna putih menghiasi kover buku abu-abu dan gambar tetesan air hujan. Ibu berdeham sebelum mulai membaca. Dongeng Januari Awan abu-abu berarak dari Utara ke Selatan, membawa rintik gerimis ke Kota Bianglala. Kota yang selalu cerah dan dipenuhi pasar malam itu, sepi pada bulan Januari. Januari: hujannya penuh sehari. Siang malam tiga puluh satu hari di awal tahun, hanya katak yang bersukacita di Kota Bianglala. "Pak, apakah benar, singkatan Januari itu? Kenapa sekarang setiap hari selalu panas?" Bapak memegang bahu si Bungsu dan mencium ubun-ubunnya. "Januari dengan hujan yang penuh sehari itu terakhir terjadi pada tahun pernikahan Bapak dan Ibu. Setelah itu, tak pernah lagi. Hanya panas, angin kencang, kadang petir, tapi hari hujan bisa dihitung dengan jari sepanjang bulan Januari," terang Bapak.
"Kok bisa gitu, Pak?" si Bungsu makin penasaran.
Bapak dan Ibu melempar pandang, menghindar, mencari cara untuk menjelaskan--atau tidak menjelaskan--bagaimana generasi mereka diam saja satu-dua dekade lalu saat Bumi mulai sakit parah akibat pemanasan global, sampah, emisi karbon, dan banyak lagi. Suhu rata-rata global naik dua derajat Celcius dalam satu dasawarsa terakhir. Dulu tak berbuat apa-apa, kini mereka harus menjelaskan kepada generasi selanjutnya: anak cucu mereka sendiri.
*
Chandra Wulan (2019)


















