Gletser atau glasier adalah sebuah bongkahan atau endapan es yang besar dan tebal. Terbentuk di atas permukaan tanah akibat akumulasi endapan salju atau es yang mengeras dan membatu selama kurun waktu yang sangat lama. Saat ini, es abadi menutupi sekitar 10% daratan yang ada di bumi.
Gletser menjadi salah satu reservoir terbesar di bumi dengan menyimpan air tawar di tiap bongkahan es nya. Gletser dapat terbentuk dari pembekuan air akibat musim dingin, lalu ketika temperatur tinggi gletser akan mencair sehingga menjadi sumber air tawar bagi mahluk hidup.
Meskipun banyak orang yang mengira gletser selalu ada di daerah kutub, sesungguhnya gletser juga bisa berada di daerah pegunungan tinggi di seluruh benua, kecuali Australia, bahkan juga terdapat di pegunungan tinggi di daerah dekat khatulistiwa.
Warna biru pada gletser disebabkan karena besarnya kuantitas air yang terakumulasi pada gletser. Sebab, molekul air sangat baik dalam menyerap berbagai warna kecuali biru. Alasan lainnya yaitu karena kandungan gelembung udara pada gletser kurang.
Dilansir dari CNN Indonesia pada tahun 2021 lalu, melalui laporan dari pengukuran satelit tiga dimensi menyatakan gletser dunia mencair lebih cepat dengan tingkat pencairan 31 persen dibandingkan 15 tahun sebelumnya.
Dengan menggunakan data satelit yang direkam selama 20 tahun, para ilmuwan menghitung bahwa 220.000 gletser gunung di dunia kehilangan lebih dari 328 miliar ton es dan salju per tahun sejak 2015.
Terlepas dari perannya sebagai reservoir utama air tawar di bumi, mencairnya gletser dalam kurun waktu yang singkat dan cepat tentunya bukan hal yang baik bagi kita. Menurunnya salinitas (kadar garam dalam air), juga naiknya permukaan air laut memberi dampak negatif akibat mencairnya gletser. Apabila gletser mencair dengan wajar maka dampak buruk tersebut tidak akan terjadi.
Kesadaran diri sangat diperlukan untuk menjaga bumi kita ini.