Montessori Perkembangan Anak
"Anak bukan kertas kosong, tapi manusia utuh yang sedang bertumbuh." β Montessori
Karena itu, tugas orang dewasa bukan βmengisiβ, melainkan menyiapkan ruang agar anak bisa berkembang secara alami.
Sekarang sebagai seorang ibu yang dibeli bukan lagi perlengkapan pribadi saja, namun perlengkapan anak juga selalu menjadi prioritas bagiku.
Salah satunya adalah mainan anak. Memang aku tidak sering membelikan mainan, tapi kalau ditanya benda apa yang aku beli padahal sebelumnya tidak biasa membeli benda tersebut, jawabannya adalah mainan anak. Mulai dari mainan montessori dasar, buku-buku anak, dan mainan lain untuk sensori serta perkembangan anakku.
Kalau ditanya, kenapa aku menerapkan metode montessori ke anak? Karena montessori itu sendiri bersumber dari obervasi pada anak dan psikologisnya, membentuk karaktenya bukan hanya kecerdasan, lalu sesuai fitrah anak, kemudian juga berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan pada diri anak yang sejalan dengan nilai-nilai islam insyaAllah jika kita mengambil dari sudut pandang islami.
Bukankah ini sejalan dengan Islam Bahwa mendidik bukan dengan bentakan, tetapi dengan keteladanan dan kelembutan?
Kita tahu bahwa anak balita mudah mempelajari sesuatu, bahkan dapat diibaratkan seperti spons yang menyerap air. Mereka sangat mudah memahami, mengikuti, dan belajar. Istilahnya adalah absorbent mind atau pikiran yang mudah menyerap.
Dalam Montessori, orang tua belajar untuk mundur selangkah, memberi ruang anak mencoba, dan hadir tanpa menguasai.
Rasulullah pun tidak tergesa-gesa mendidik, tidak mematahkan proses, tidak meremehkan kemampuan anak-anak.
Menurutku, montessori bukan metode barat yang bertentangan dengan iman. Ia adalah alat. Dan alat yang baik, jika dipandu iman, insyaAllah.
Having children is a blessing for me. Walau jujur kadang lelah dan menguras kesabaran, tetapi kehadiran anak adalah anugerah yang tidak bisa dinilai. Nikmat yang begitu besar karena sebagai individu yang dipercaya menjadi orang tua, kita akan belajar dan belajar kembali.
Aku bukan ibu yang sempurna, tetapi boleh lah aku menyebut diriku ibu yang idealis. Aku berusaha melahirkan normal, menyusui langsung, membuat MPASI sendiri, rutin grounding dan sunbathing, tidak memberi Aqsha izin makan upf, dan kini aku tengah berusaha agar perintah Allah menyusui hingga usia dua tahun hijriyah nantinya. Dan inilah salah satu ikhtiarku.




















