Hidup jadi santri di salah satu pondok pesantren modern itu cukup menantang kawan. Tidak ada hp, penggunaan laptop dibatas waktu, beberapa source internet juga di block, jadi ya gak bisa akses sebebas itu. Imbasnya, agak sedikit ngap-ngap an berusaha cari info jurusan dan univ yang dipengen nantinya. Untuk bedakan apa itu jalur undangan, tes, dan mandiri saja harus bolak-balik ke bagian konseling. Apalagi pada zamannya, pondok saat itu masih dalam tahap pertumbuhan memperbaiki informasi studi karir, seperti beasiswa, layanan konseling, rekam jejak alumni, dan sebagainya. Maka untuk bisa dapat informasi yang optimal, harus dari dua arah. Itu berarti diri sendiri juga yang harus pro aktif bertanya sebanyak-banyaknya. Konselor, guru, bahkan teman.
Aku yang sejak kelas 4 (satu SMA) sudah mengazamkan diri untuk melanjutkan studi ke Kota Bandung mulai mewanti-wanti pilihan universitas juga jurusan. Ketakutan tak bisa lolos di UPI nanti, ku lirik Universitas Padjadjaran jurusan Biologi murni. UPI-Pendidikan Biologi ku simpan di urutan pertama, lalu UNPAD-Biologi murni di urutan kedua. Pintar sekali bukan? Ayolah jawab iya. Maklum waktu itu belum begitu fasih tentang reting universitas. Hingga di penghujung masa pendaftaran jalur undangan (saat itu kami menyebutnya SNMPTN), seorang teman dekat memberitahu kalau reting universitas pilihan bisa mempengaruhi kelulusan SNMPTN. Ditambah lagi informasi dari konselor yang bilang kalau hanya ada kesempatan memilih maksimal 2 univ dengan total 3 jurusan, satu univ WAJIB universitas negeri yang ada di provinsi asal. Itu berarti aku harus membuang satu kesempatan pemilihan univ di Bandung untuk diganti dengan Universitas yang sungguh tak pernah ada listnya dalam hidupku, Universitas Sultan Agung Tirtayasa (UNTIRTA). The one and only kampus negeri di provinsi ku, Banten.
Putar otak aku bagaimana caranya kesempatan sempit itu tetap bisa digunakan semaksimal mungkin. Maka mulailah surat2 beterbangan. Surat yang berisi kebingunganku tentang pemilihan jurusan dan univ pada beberapa teman yang ku percaya, intinya ku minta pendapat mereka (kalau di antara kalian ada yang merasa pernah ku repotkan dulu, berbahagialah wwkwk, aku masih ingat kalian :). Seorang teman bilang:
"Harus milih Hen, mau pertahanin jurusannya, atau mau univnya?"
Seorang teman lain bilang:
"Kita tuh dari pondok, jadi lebih aman ambil PAI aja daripada PGSD, PGSD juga passing grade nya tinggi di UPI, PAI masih newbie. Kita dari pondok, insya Allah aman"
FYI guys, posisi pertama masih dipegang UPI Pendidikan Biologi, posisi ketiga sudah jelas UNTIRTA Pendidikan Biologi, posisi kedua, masih gelap otakku, tapi yang pasti harus di UPI.
Tiba hari pendaftaran SNMPTN, di depan komputer saat itu mulutku komat-kamit. Tak mau lewatkan kesempatan berharga seleksi gratis masuk univ ini, karena tau finansial keluarga ku tak cukup banyak untuk bisa biayai mobilitas nantinya kalau aku harus bolak-balik tes SBM hingga seleksi mandiri di univ-univ lainnya. Di luar itu, mentalku juga tidak cukup kuat jika ada di posisi itu nampaknya, FYI again aku punya semangat juang yang gampang naik tapi juga gampang turun, masuk ke jurang. Dan terlebih, aku tau kapasitas diri ku yang semakin dekat kelulusan SMA ini nilai IPA nya semakin meroket, ke bawah. Kecuali, Biologi tentunya :)
Kekhawatiran itu masih terus muncul hingga akhirnya aku tetap meminta kepada umi dan bapak untuk tetap mencarikan tempat les bimbel guna membantuku dalam menyelaraskan ilmu-ilmu IPA juga siapkan diri menghadapi tes seleksi masuk universitas yang luar biasa heboh itu.
Singkat cerita, hari ketiga setelah hari kelulusan ku di pondok, jadwal hari perdana masuk les bimbel itu sudah ada. Hari-hari yang harusnya masih jadi hari bersantai-santai ria (FYI again, lulus pondok itu harus ngelewatin berlapis-lapis ujian guys! I would like to tell it soon). Belum lagi perjuangan itu harus dilewati seorang diri, tak ada teman pondok di sekitar rumahku. Parahnya lagi, aku terlalu rajin masuk les bimbel karena ternyata hari itu hanya ada aku sendiri dengan satu guru privatnya. Ya maklum, hari itu sekolah-sekolah di luar belum ada di tahap wisuda para siswanya, dengan kata lain, pondok ku terlalu rajin.
Seminggu awal jadi anak bimbel ternyata tak semenyenangkan jadi santri. Lebih tepatnya, suasana asing ini sangat-sangat menghabiskan energiku. Tak terbiasa memang di tempat baru dengan orang-orang yang baru. Dan hey lihat, pelajaran IPA ku ngap-ngap an. Makin aku tak semangat menghadapi tes SBM nanti. Maka do'aku saat itu pada pemilik semesta adalah:
"Ya Allah, Henni pengen lolos di UPI aja. Pengen kuliah di Bandung. Pengen lolos SNMPTN, biar gak repotin orang tua sama tes-tes an"
Benar kata orang bijak untuk kesekian kalinya, jangan pernah main-main dalam berdo'a. Seminggu kemudian, sore hari, sedetik sebelum takbiratul ihram asar ku laksanakan,
"Teh, lulus, UPI", teriak aa dari ruang tengah
"Tapi bukan Biologi, lulusnya IPAI"
Wow Tuhan menjawab, tapi koq,
@fadhila-trifani @gugunm @mathmythic @sekotenggg @adhit21