Usia pun kini bertambah, seakan waktu akan bergegas, dan seketika berhenti.
hingga mempertegas, "apa yang akan dibawa diri (nanti)?".
Semakin sempit hingga berkurang, kesempatan harus dimanfaatkan sebelum hilang.
Kegagalan, kini menunjukan keberhargaannya.
Kembali atau mengulang, memperbaiki celah atau menghapus bekas, bukanlah pilihan.
Namun, membaik didetik ini, untuk benderang dimasa mendatang. Bisa kita usahakan.
Beriringan dengan bisikan do'a kepada bumi, hingga langit menjadi riuh, adalah tepat untuk merayu dengan khidmat pada Pemilik Setiap Jiwa yang Maha Kuat.
Dan kemana atau dimana pun, semoga hatimu tertambat hanya pada-Nya, hingga berbuah tenang yang tak tergantikan.
Dengan syukur yang tak pernah terlupa, pun prasangka baik untuk setiap jiwa. Berbingkis indah dan tersaji dengan bahagia yang bertambah.
Dengan manis, segala gundah akan terkikis.
Karena inti diri adalah dalam sanubari.
Sebelum terpanggil dan pergi.
Bangunlah fondasi dengan semangat, wahai diri.
Pujiani Geschichte; menata hati, hingga semua dengan nyaman dan tegas menghampiri, membentuk sinergi sejati.