Tajuk acaranya tampak besar. Judul tidak hanya sekadar judul namun sebesar pagelaran yang akan begitu besar adanya. Melibatkan tentu penulis, budayawan, aktivis lintas budaya lintas kepercayaan lokal maupun luar Bali oh aku hanya terpaku menyoroti nama demi nama pengisi panel keacaraan. Menemukan beberapa nama yang sama sekali tidak asing, beberapa sisanya berkesiur seperti bebunyian melalui telinga, aku mengenalnya, aku pernah bersamanya, tapi sayangnya tidak berkesamaan jadi hanya dari sisiku saja. Aha! Akupun mengenali sang empu acara yang pernah sedekat nadi, kalau boleh dengan bahasa penulis nan mendayu ini. Dekat meskipun belum pernah bertemu yang memang aku tidak merencanakan pertemuan kita. Bersama pasangan, dan anak sulungnya kompak meramaikan acara yang digagasnya.
Aku tidak bermaksud membeda-bedakan tapi percayalah memang berbeda. Awalnya memang begitu baik begitu manis, saling membersamai. Tapi akhirnya aku hanya berlalu bagai desau angin mempersiapkan pertanyaan orang lain yang akan bertanya mengapa aku tidak lagi bersamanya,
“Aku tidak terlalu suka bergaul dengan Luh, Dek, Mang. Mih gampang ditebak gati.” maksudnya untuk nama-nama orang berawalan Ni Luh-Kadek-Komang yang menunjukkan urutan kelahiran berturut dari anak pertama berkelipatan tiga. Seperti ibuku tentu Ibu Agung yang sampai sekarang belum kuketahui memiliki berapa saudara kandung, pertama seperti aku kah, tunggal kah? Begitupun Desak, Ida Ayu, Cokorda, begitupun aku Agung Ayu yang tiada mencerminkan kelahiran keberapa. Sederhananya aku akan bilang mungkin maaf dia tidak berkulit putih susu seperti ibuku, atau sering menyama-nyamakan diri dengan hal berkaitan India sebagai pusat Hindu. Begitu saja.
Aku memutus hubungan dekat semudah menggunting tali rafia plastik, pada beberapa orang, beberapa waktu ini. Alasannya tidak sederhana apalagi didasari kelabilan emosi malah oleh sebab merasa lebih dewasa dan lebih tidak apa-apa kehilangan beberapa teman. Aku lebih layak bersanding dengan yang sepadan denganku, usia sebayaku, gelar akademisku, jurusan kuliahku, hirarkis kekeluargaanku, kepercayaanku, semuanya itu hampir beriringan tidak dibawahku pula terlalu atas tak terjangkau olehku. Lebih baik melompang hati kesepian daripada menghabiskan waktu barang semenit bersama yang tidak seimbang berlaku hubungan pertemanan hingga bakal pasangan hidup kelak. Sepertinya aku tumbuh mendewasa seirama doa yang selalu dibaca ibu. Terlihat acuh, dan pongah, terlihatnya, oh kemurnian harus dijaga. Padahal tidak sepenuhnya benar. Kusudahi saja lah. Setidaknya yang penting sudah mengutarakan mengapa begitu. Lalu aku ingat salah satu orang yang kuhapus dari radar komunikasiku malah yang banyak berdiskusi soal pesanan rangkaian bungaku untuk seseorang disana.
Rasanya sejak bulan Februari pertengahan aku banyak berceracau mengenai rencana menghadiahi seseorang dengan bunga di bulan kelahirannya, Maret. Terpisah sekira seratus kilometer lebih membuat aku tidak memiliki pilihan lain kecuali memesan dari penjual satu kota dengannya lalu membayarnya, agar lebih murah. Bukannya tidak ingin bersama dan bertemu tapi memang sepertinya hanya aku yang menginginkan hal itu, tidak dengan sebaliknya, tidak saling. Kalau boleh optimis aku akan menganggapnya belum. Maka aku perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan memesan bunga untuknya. Salah satu caranya dengan mencoba bertanya, menyahuti pemikiran orang lain mengenai kiraan respon yang akan ada. Mulai jenis bunga, warna, tidak lupa saling sok tahu makna dibaliknya apa. Dan aku tidak akan begitu asal menebak reaksi orang itu pertama kebingungan, lalu heran, lalu berpikir aku hanya emosional mengeluarkannya dari semua jejaring kabar digitalku. Padahal kita banyak bertukar pikiran soal harus bunga apa yang diberikan orang berganti usia berzodiak Pisces, yang bahkan diapun demikian. Maaf, aku merasa tidak perlu lagi bukan tidak pantas mengucapkanmu selamat ulang tahun. Nyatanya aku tetap memesan bunga tanpa adanya intervensi siapa, dan apapun.
Aku hanya mengira-ngira sekiranya bunga apa yang pantas. Utamanya pasti mawar, tinggal dipikirkan warnanya saja, kan? Sekian lama bergumul dengan diri sendiri menimbang-nimbang perlukah membelikannya bunga dengan posisi “tidak saling” tadi. Aku memilih berproses meminta maaf pada langit-langit kamarku yang semoga mewakili dia, tak lupa aku memaafkan diriku sendiri, memaafkan segala keadaan yang tidak bisa kukendalikan, memaafkan semua yang kehendaknya bukan dari diriku, ya pokoknya memaafkan. Aku terus mengulang maaf itu sampai ditemukan suatu hari meramban penjual bunga di kotanya. Ulir-diulir mengulir dari yang paling atas, ah penjualnya tidak sepahamku, ah kemahalan, ah ah lainnya. Aku berpikir sepertinya beli bunga hanya jadi wacana. Terakhir tentu November tahun lalu bertepatan dengan ulang tahun ibu si Scorpio, sudahlah, jadi tak elok membicarakan sering soal bintang. Akhirnya aku mendapatkan bunga dari seorang penjual yang menyuruhku memasukkan alamat penerima lalu berseru ongkos kirimnya gratis saja karena masih satu komplek, wow, baik, mengusahakan diri tidak terlalu berlebihan merespon kebetulan, masih satu alamat, astaga, cukup, biar kuelusi sendiri diriku seperti kucing yang sedang kasihan matanya berkaca-kaca menanggung haru dan sedih. Ya sedihnya soal belum saling, ya? Nomor telepon pribadi jelas tidak punya sampai detik tulisan ini ada.
Sebenarnya aku ingin menulis keseluruhan cerita disini saat bunganya disampaikan. Aku sudah meminta agar penerima tidak diberi tahu kalau aku pemesan bukan pengirimnya karena secara teknis aku tidak kesana. Inginnya hanya kabar baik berupa penerimaan, oh, egois nian aku? Saking sedihnya sudah beberapa kali mencoba mendekat tapi tidak digubris ya bagiku wajar. Kedua aku sedang menyiapkan keinginan selanjutnya yaitu tidak dikabari penjual saat bunganya tidak diterima, tapi, tentu syaratnya bunga tetap dimiliki siapapun yang ingin atau dibawa penjualnya kembali, atau dikirim ke rumahku saja, ya kan? Siapa bilang aku tak sayang diriku, sayang lah, sayang sekali malah. Menurutku aku sudah memenuhi syarat mencintai diri sendiri dan di taraf boleh sesekali mengungkapkan cinta kepada orang lain seperti ibu dengan hadiah, dengan bunga, kan?
Aku cukup kaget saat dikabari penjual bahwa tidak ada stok mawar kuning. Diganti krisan kuning yang sempat ditawari apakah mau diselipi mawar putih. Aku membayangkannya ah pasti indah seperti bunga matahari. Lalu aku meramban layar laptopku memastikan krisan dan warna kuning ber-arti apa. Optimisme tentunya, semangat baik, hidup sehat, panjang umur, kebangsawanan, kegembiraan, pertemanan oh jelas lah, paling mencengangkan adalah cerita cinta bertepuk sebelah tangan, eh?
Bisa-bisanya begitu? Maksudnya kok tahu sih kan tidak asik ya.