sore itu kau ketuk pintu kamarku, namun tidak pernah kusambut hadirmu. aku lelah dan menyesal telah membiarkanmu menghiasi hari-hariku.
aku ingat, bagaimana kita rutin bertemu dan saling membicarakan hal-hal yang membuat kita saling tertarik. kau buat aku jatuh cinta dengan mata indahmu. senyum manismu mengikat hati dan perasaanku lebih dalam padamu.
kau buai aku dengan segala kasih sayang yang engkau berikan. kau jadikan aku bak seorang putri.
pikiranku menjadi gila karenanya, tak dapat lagi kuberpikir jernih. bayangmu selalu hadir, dan sepertinya aku terobsesi padamu. segala ketakutan akan kehilanganmu membuatku menjadi seorang perempuan yang kasar. gelap mata aku dibuatnya.
berkali-kali aku menangis. sikapku berbanding terbalik dengan sikapmu.
maafkan diriku yang menarik diri darimu. aku tak bisa tetap terobsesi padamu seperti ini. maka dari itu, hentikanlah upayamu untuk membuatku merasa lebih baik. berhentilah membawakanku bunga mawar kesukaanku. aku tidak akan lagi menyukainya, begitupun secangkir cokelat hangat yang selalu engkau sajikan setiap sabtu sore. aku ingin mengurung diri dari semua itu. dari dirimu.












