Dua hari pasca operasi, tak menghiraukan nyeri bekas jahitan, aku sudah mondar-mandir di ruangan ini. Di sini, waktu berbisik pelan. Detik lambat berlalu di antara deru mesin penopang hidup para malaikat kecil.
Kamu begitu kecil, namun begitu kuat. Jari mungilmu menggenggam udara. Matamu terpejam, tapi aku tahu, kamu sedang bermimpi tentang rumah.
Monitor berbunyi seperti nyanyian sunyi. Setiap denyut adalah doa, setiap tarikan napas adalah kemenangan, setiap hari adalah mukjizat. Malam-malamku panjang tak tenang. Setiap pagi ku gantungkan harapan berharap kabar baik datang.
Di ujung lorong itu, di ruangan sebelah tempatmu berjuang, ada ruang laktasi yang menyatukan ibu-ibu yang juga sedang berjuang, dengan kisah dan luka masing-masing. ASI menjadi wujud cinta kami, yang diperah di antara air mata, doa, dan harapan. Dari satu cerita ke cerita lain, aku belajar bahwa setiap orang sedang bertempur di medan perjuangannya masing-masing.
Menangis sudah menjadi kegiatanku sehari-hari. Di ruang laktasi, di kamar inap penunggu, di lorong depan NICU, pun di kantin rumah sakit. Nasi sering kali terasa asin karena bercampur air mata. Meski hati ini sering hancur, ASI untuk mu harus tercukupi. Namun setiap kali aku duduk di sampingmu, aku berusaha menahan semua tangis itu. Aku ingin kamu melihat kekuatan di mataku, bukan air mata.
Kamu sesekali menatapku. Bayi yang lahir cukup bulan saja belum jelas penglihatannya, apalagi kamu yang lahir tujuh minggu lebih cepat dari seharusnya. Kamu menangis, namun saat itu aku belum berani menggendongmu, takut menyakitimu.
Tubuhmu yang mungil sesekali menggeliat di boks bayi. Tanganmu lebam oleh bekas infus, sonde terpasang di mulut kecilmu. Aku duduk di sampingmu, menitipkan cinta pada jemarimu, berharap kamu tahu, Nak, kami menunggumu. Cintaku..
Terima kasih Yaa Allah, atas setiap keajaiban yang Engkau berikan.
Terima kasih sudah berjuang, Nak. Terima kasih sudah kuat.
Kita akan pulang bersama, membawa kisah tentang perjuangan.